Wednesday, September 14, 2005

Stupid Job

ini pekerjaan yang sungguh menjemukan.
gak masuk akal.
bikin umur lebih tua dari siklus yang seharusnya.
benar-benar membosankan dan sering bikin gue memutuskan untuk resign aja.

Menangis Semalam

inginnya tutup buku.
tak ingin lagi mengingat apapun. siapapun.
tapi tengah malam tadi airmata kembali tumpah. ruah.
ingat sesuatu. seseorang.
yang sungguh ingin bisa gue bebaskan pikiran gue sendiri dari segala kenangan dan harapan yang pernah terbentuk.
benci dan dendam tak bisa lagi dihempaskan. mungkin juga sedikit rasa rindu.
bikin sesak dan rasa sakit yang melelahkan.
tak bisakah kita melangkah tanpa mengingat masa lalu?!

New Hair

abis potong rambut di yopi salon utan kayu.
kelihatan lebih fresh (kenapa juga harus ditutup?)
andai jilbab ini bisa berlaku seperti topi yang bisa dipake lepas kapanpun.
sebenarnya bisa aja begitu. guenya aja yang gak berani.
malas dengan gumaman orang-orang. meski pun dalam hati.
(dulu waktu masih kuliah di iain gue malah lebih cuek. bisa kemana-mana tanpa tudung. pengaruh jiwa muda barang kali. sekarang makin tambah umur makin banyak yang dipertimbangkan..)

Friday, September 09, 2005

Nightmare Comes True

lagi pengen belajar naek motor eh malah kecelakaan
sungguh gak nyangka gue akan babak belur seperti minggu malam kelabu itu
muka bonyok. pipi harus dijahit. mata gak bisa melek. dan bibir yang jontor gak bisa nelen makanan.

sempet trauma denger suara motor. dan berniat gak pengen naik motor lagi.
tapi malam ini niat itu goyah.
waktu ketemu temen yang naik scoter keren banget. keluaran tahun 62 katanya. dicat warna merah menyala. agak genit memang. tapi bikin hati makin kebat-kebit.

gue emang kepincut berat sama benda yang satu ini. apalagi setelah nonton aksinya kidman di "interpreter" dan maggie cheung di "clean". dua ibu ini tampak cool banget dengan skuter mereka.

beberapa hari sebelum ini gue juga sempet liat cewek dengan hondanya. keliatan keren gitu. soalnya disini kan jarang-jarang cewek bawa motor. tapi apa bisa ya gue seperti mereka?

Lagi Biru (lagi)

nyebelin gak sih...?! udah ngetik buat di posting terus ilang?!
gue pengen bilang gue lagi flu (lagi) nih.
ini kali kedua gue flu dalam tiga bulan terakhir.
kali kedua gue flu sejak kepindahan gue di rumah kontrakkan yang baru ini.

kata ucu temen gue, rumah itu emang gak sehat.
gak ada cahaya matahari masuk kalo siang.
udaranya berat (meski gue gak ngerti dengan istilah yang lebih mengingatkan gue pada lagunya franky sahilatua ini).

yang jelas gue emang semakin loyo sekarang.
semakin males ngapa-ngapain. males nulis. gak ada ide.
gak ada yang kasih semangat lagi... ;-(

Mandala Crush

meski gue kadang berangan-angan berada dalam suatu perjalanan untuk tak kembali,
namun sungguh gue gak ingin berada sebagai salah satu penumpang yang tubuhnya hancur lebur (beberapa bahkan tak teridentifikasi) dalam bencana kegagalan take off pesawat mandala di bandara polonia medan senin pagi 5 september lalu.

yang menyesakkan adalah, pesawat tersebut meledak di udara dan tubuhnya menimpa perumahan padat peduduk di padang bulan yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari bandara.

bagaimana menyaksikan tubuh yang tak tau menahu apa yang sebelumnya terjadi untuk kemudian hancur terbakar tertimba sesuatu ang tak dikehendaki?
apa salah manusia-manusia ini?

meski kadang gue suka ngelamun bila tengah berada dalam suatu perjalanan dan berharap kendaraan yang tengah gue tumpangi melaju pada tujuan yang tak tentu, namun percayalah gue gak ingin menjadi salah satu penumpang yang mati sia-sia seperti itu.

meski kadang gue ingin mati dan berada dalam perjalanan yang tak pernah kembali, tapi gue gak pernah ingin tubuh gue ditemukan dalam kondisi yang hancur, rusak, dan mengenaskan seperti itu.

inikah mati secara "husnul khatimah" yang gue idam-idamkan itu?
adakah doanya?

Friday, August 19, 2005

Abre Los Ojos

ini sebenarnya film yang udah lama ditonton. tapi belum sempet ditulis. gak ada yang menarik untuk diangkat. selain bahwa film ini merupakan versi aslinya "vanilla sky".

penelope cruz sama-sama menjadi sofia di dua film ini. di versi hollywood sempat heboh karena saat main bareng tom cruise inilah disangkakan sebagai awal dari kisah terlarang mereka. melahirkan kisah pedih buat kidman (gue sempet mengidolakan pasangan sempurna ini).

mana yang lebih bagus, vanilla sky atawa abre los ojos (yang diinggriskan menjadi open your eyes)?
adegan ranjangnya lebih yahud di versi hollywood (mungkin juga di versi latinnya dah disensor). tapi logikanya lebih di runut di versi spanyolnya. disini juga cruz berperan lebih nyeni. jadi mahasiswi di sekolah seni dan sempet mempraktekkan adegan pantomim di taman yang ramai pengunjung. bukan sekedar jadi perempuan penggoda yang mengambil alih cinta antara cruise dan diaz.

that's it. gue gak tau mau nulis apalagi. makin berasa kalo gue makin gak produktif sekarang. menyedihkan!

Tuesday, July 26, 2005

Gue yang Sinis, Judes, dan Tak Mudah Ditaklukkan

kalau dihitung-hitung, banyak juga laki-laki yang berusaha singgah dalam beberapa bulan terakhir ini. mencoba segala cara untuk dapat lebih dekat. tapi gue tetap bergeming. sejauh ini belum ada daya listrik yang mampu menggerakkan hati gue dan bilang "i do" sama mereka.

hidup lalu bagai telenovela yang sengaja diputar-putar sedemikian rupa agar episodenya tak habis-abis. gue naksir siapa eh malah ditaksir siapa.

kadang capek dan jenuh juga (ini kalimat klise banget). tapi sejauh ini gue tak pernah berniat menggadaikan hati demi kehadiran laki-laki. toh, gue semakin mersa tegar, kuat, dan tak cengeng lagi. gue bisa hidup sendiri kok! dan tengah asik-asiknya menikmati kesendirian itu. meski kadang pengen nangis dan gak tau tujuan hidup ini mau dibawa kemana. wajar aja. emosi toh ada siklusnya. kadang semangat, kadang melempem.

buat yusuf di samarinda, saikhu di kali pasir, dwi tetangga sebelah, adi yang baru aja gue kenal, sori to say bahwa gue gak bisa dengan sengaja bermanis-manis menerima sms, telpon atau apapun dari kalian. gue pernah dengan tegas mengatakan ini pada kalian. dan gue gak merasa takut dengan segala keterus terangan ini. hidup tak selamanya sesuai seperti yang kita inginkan. kita angankan.

The Island

ini film lumayan. logikanya nyambung (kata ucu, temen gue). meski ada yang rada gak nyambung juga sih. semisal, gimana bisa ada perempuan klon yang hamil padahal komunitas ini tak berhubungan seks?

kekurangan lainnya, gue gak begitu menikmati saat nomat film ini kemarin. duduk di deretan paling depan. bener-bener di depan pan. bikin pala pusing karena nonton dengan kepala yang mendongak.

karenanya, kalau ada kesempatan, gue mau nonton lagi film ini. ini film lumayan menghibur. macam mr. and mrs. smith, sahara, atau kingdom of heaven.
akting ewan-nya ok. tapi rasanya scarlett dipasang cuma karena keseksiannya disini (gue rasa banyak bagian tubuhnya yang dah dipermak abis).

film ini juga lumayan bikin mikir (meski rada absurd) kayak minority report atau matrix edisi pertama (dua seri terakhirnya rada membosankan sih...).

oh, ada juga film yang sialnya gue lupa apa judulnya. yang jelas film ini dibintangi jodie foster. berkisah tentang misi luar angkasa. ada scene yang bikin gue takjub abis. saat foster terdampar di ruang antah berantah di langit ke tujuh. uh, panoramanya bagus banget...

kelupaan judul juga hinggap pada film remaja yang berkisah tentang kompetisi penari (ballet?) yang salah satu soundtracknya masang lagu "i wanna be with you"-nya mandy moore. ini film emang gak ada hubungannya dengan film-film diatas. cuma ya itu tadi, lupa judul, dan gue rada susah cari film ini lagi.

does anyone can help?

Tuesday, July 19, 2005

Bejo Renggono

Kemarin gue sempet ketemu cowok lucu. Brondong gitu. Masak manggil gue mbak?
Anaknya lumayan keren siyy. Gondrong. Desain grafis. Pinter moto pula.
Tapi ya udah. Lewat gitu aja.
Gak lama. Gak tau juga gimana caranya pdkt sama doi.
Padahal pengen... :-P

Saturday, July 16, 2005

Menulis Itu Susah!

kata siapa menulis itu gampang?
susah tau...?!
minimal buat gue.
mo nulis curhatan aja suka tiba-tiba blank.
bengong.
gak tau mau nulis apa.
apa guenya yang begi ya....

Monday, July 11, 2005

Need Somebody...

lagi flu,
hati lagi biru,
sering gak tau mau ngapain.

Thursday, June 23, 2005

Dua Momen yang Ingin Ku Abadikan Malam Ini

ku lihat gadis muda itu tersandar pada batas pemisah antara kursi supir dan penumpang di mikrolet M12 jurusan senen-kota malam ini. batas pemisah itu berterali. mirip seperti jeruji mobil tahanan yang memisahkan supir dan ruang belakang yang biasanya dikhususkan untuk para tahanan berat. dengan kostum yang dikenakannya saat itu, sosoknya mengingatkan gue pada perempuan-perempuan malam yang baru saja dirazia. dalam cahaya lampu mikrolet yang temaram gue ingin gambar perempuan ini bisa diambil.

kulihat sepasang sepatu dengan anyaman unik. seperti saling silang yang dianyam dari tikar. berkilap hitam. sepatu itu terpasang pada sepasang kaki yang sesungguhnya gue kenal. tak begitu dekat. karena kami teman kursus yang baru saja menggenapi 5 kali pertemuan selasa malam lalu. malam ini ia mengenakan motif lain yang kembali menarik perhatianku. kulit coklat dengan sol yang terlihat rapi. sepatu berkelas. aku tak berani menaksir berapa harganya. mengingat koleksi kamera yang ia punya pun sudah membuat aku tak mampu berfikir berapa penghasilannya dalam sebulan. belum lagi mobil mersi yang menjadi kesehariannya. wah...

lagi, aku hanya mampu mengingat momen ini dalam fikiran. berfikir mengapa aku tak mampu mengabadikannya. bagaimana sesungguhnya bisa mengambil gambar yang baik dan benar? tanpa rasa sungkan atau takut? bisakah kita dengan tiba-tiba mengeluarkan kamera dan entah dengan sengaja atau sembunyi-sembunyi mengambil gambar yang kita ingin? tanpa harus hirau dengan perasaannya atau bahkan perasaan kita sendiri?

Warteg 24 Jam

mungkin gue aja yang selama ini kuper ya...
kemarin malam gue diajak makan di warteg marmo. ini warteg katanya udah tenar kemana-kemana. tapi gue baru tau ada warteg ini semalam. kira-kira jam 10-an. setelah capek ngubek-ngubek perkakas di carrefour yang makin gila aja koleksinya.

apa yang istimewa dari warteg yang mangkal di tebet ini?
buat orang baru kayak gue mungkin agak berkesan. menunya lumayan lengkap (lebih banyak sih menu karnivora. so, buat vegetarian kayaknya mesti cari alternatif) meski dari segi rasa gak terlalu istimewa. porsi nasinya juga sedikit. macam porsi rumah makan padang lah. gue aja harus nambah. bukan karena ketagihan tapi memang gak nendang aja di perut.

keistimewaan lainnya: buka 24 jam. konon hari raya juga tetap buka. informasi yang terakhir ini tentu mesti di cek lagi.

di tengah timbunan lauk pauk dan ramainya pengunjung malam itu (katanya sih banyak juga artis yang mampir kesini...) gue sempet ngebet banget untuk nulis profil tentang warteg ini (mentang-mentang baru kelar kursus jurnalisme sastrawi mungkin...)

gue sempat bertanya-tanya, mana yang namanya pak warmo ya...?
temen gue gak ada yang bisa jawab. "mungkin juga udah mati". jawab temen gue enteng.
lalu berapa kira-kira omset seharinya ya? udah berapa lama pak warmo ini buka usaha? apa suka dukanya? udah keturunan yang ke berapa yang megang usahanya sekarang? apa hasil dari jerih payahnya selama ini?

bisnis rumah makan emang termasuk bisnis yang prospektif. kalau manajemennya bener tentu aja. karena banyak juga yang akhirnya gulung tikar. kabarnya bisnis beginian main dukunnya juga kuat. ini tentu perlu investigasi lebih lanjut. tapi bisnis makan pedagang kaki lima emang seringkali mengilik hati gue untuk bisa menelusurinya lebih jauh. sayang, biasanya keinginan hanya tinggal keinginan. apalagi gue juga belum tau mau di dayagunakan untuk apa tulisan gue nanti. selama belum mendesak dan gak ada funding yang bisa dijadikan sandaran biasanya keinginan ini menguap begitu aja. nanti juga lupa lagi. ketimbun sama keinginan lain.

malam itu sambil makan gue sempat ngelamun. mata gue sempat menangkap styreofoam kelap-kelip bertuliskan "warteg warmo, buka 24 jam" disalah satu ujung atas dindingnya. wah, ok juga nih buat diambil gambarnya. gue dah kebayang sudut-sudut mana aja yang bisa diambil. sayang gue gak bawa kodak (seperti biasanya... dasar jurnalis tanggung!)

Tuesday, June 21, 2005

21 Juni

tak akan ku ucapkan selamat ulang tahun untukmu kali ini.
tak akan.

Friday, June 17, 2005

Belum Saatnya

ada desir-desir aneh saat gue terima sms-sms-nya
siap jatuh cinta lagi nih...?!
tapi kok kayaknya umurnya dibawah gue ya...?!
hm, berondong bouw.. hm....

Friday, June 10, 2005

Mark, Janet, Tirto..

ini tentang kesibukan yang sempat melanda di bulan juni kemarin. kursus di EF, jurnalisme sastrawi, dan ambil kelas fotografi di oktagon. bayar 1,290 ribu untuk kelas basic di EF, bayar gratis untuk jurnalisme sastrawi (kecuali keluar ongkos buat transport pp) dan keluar duit 1,690 ribu untuk kursus di oktagon.

awalnya sempet semangat. ketemu orang-orang baru. bisa ngobrol secara nginggris dengan mark, tutor gue di EF yang funky banget. meski dengan bahasa yang blekak-blekuk. pun untuk kursus jurnalisme sastrawi yang di pandu janet. sebuah kelas yang menyenangkan. meski lama-lama bt juga. terutama karena janetnya cuma hadir di minggu pertama dan diganti dengan pengampu lain yang sempet bikin ngantuk berat (haruskah namanya disebut disini?). trus, ketemu orang-orang yang canggih di oktagon.

tapi segala kesenangan tentu ada masanya. seperti gue bilang. makin kesini makin bosenin. mark di EF sempet diganti bill. ini bener-bener jadi membosankan. dan gue sepet memutuskan untuk gak lanjut. meski merasa sayang. lalu kelas di oktagon juga sempet beberapa kali gue bolosin. makin kesini makin merasa gak dapet apa-apa. dan gue masih sering glagepan kalo lagi turlap. kenapa mau jadi pinter mahal ya? tanya kenapa...

Wednesday, June 01, 2005

Rumah Baru

ini kali ketiga gue pindah kos-kosan di daerah menteng. dapet rumah lumayan meski berada di perkampungan yang padet banget. mengingatkan gue pada lagu gang kelinci-nya lilis suryani. tapi sejauh ini gue enjoy. gak melo seperti kepindahan gue sebelum-sebelumnya. meski masih suka inget sama bajingan satu itu. hey, kemana aja lu, man...?! miss u but hate u!!!

Thursday, May 26, 2005

Nudis

kadang gue ingin menikmati kebebasan bertelanjang diri tanpa khawatir dengan tatapan aneh atau iseng siapapun. berada di suatu pulau yang penghuninya bebas mengeksplorasi tubuhnya sendiri tanpa merasa aneh dengan konsep telanjang. dan rasa ini kadang gue nikmati kalau gue keluar kota. nginap di hotel sendirian. dan gue bisa melakukan apapun tanpa harus sungkan diganggu atau diusilin orang iseng.

kebebasan bertelanjang itu juga sempat gue nikmati saat nginap di padepokan gandhi ashram, candidasa pekan kemarin. bukan karena padepokan ini sendiri yang memang mengajarkan warganya hal-hal yang agak diluar kebiasaan. tentu menutupi aurat juga menjadi aturan kesopanan yang diajarkan disini. meski tak ketat. bali sendiri sempat punya konvensi yang membiarkan perempuan-perempuannya bertelanjang dada. sebelum digerus perubahan jaman yang kadang terasa aneh. tapi sampai sekarang gue masih bisa merasa agak nyaman tentang konvensi yang justru yang tak pernah meributkan soal berpakaian disini.

tiga malam di candi dasa. menikmati debur ombak yang tak pernah jemu. menginap disalah satu bale-nya sendirian. gue bisa menikmati kebebasan itu. meski awalnya agak ragu. bale ini di setting sedemikian rupa. dengan kamar mandi yang membiarkan banyak ruang terbuka di sana sini. salah satu kaca jendelanya yang tak bertirai sempat gue tutup dengan kain seadanya. sebelum gue bisa dengan nyaman merasa bahwa gak akan ada orang yang iseng mengintip kebebasan sesaat yang jarang gue temui ini.

Tuesday, May 17, 2005

Wicker Park

do not ever trust america!

kalimat ini semakin gue yakini kebenarannya setelah nonton wicker park. film terakhir ini emang gak ada hubungannya dengan heroisme amerika seperti yang sering digambarkan dalam film-filmnya arnold atau stallone. tapi secara gak langsung wicker park semakin memberi kesadaran bahwa hollywood memang memberi peran besar bagi manusia bodoh untuk terus bermimpi indah. Keep dreaming man! Karena jagoan pada akhirnya akan menang. Dan kebaikan pada akhirnya (hanya) akan berpihak pada si cantik dan si tampan. lha, emang apa sih isi filmya sampe gue begitu senewen?

begini, sebenarnya waktu pertama kali diluncurkan di indonesia (jakarta lebih tepatnya), gue udah gak minat nonton film ini. gue tau ini film saduran dari film perancis l'appartement yang dimainkan dengan sangat cemerlang oleh monica belucci dan vincent cassel, pasutri yang sering banget kerja bareng untuk film-film mereka. waktu nonton versi aslinya (thanks to ucu yang udah minjemin dvd-nya), gue miris abis. ini beda banget dengan film-film mainstream (hoolywood) yang selalu happy ending.

lalu, saat kemarin petang gue singgah di menteng dan sengaja mendamparkan diri di surga lautan dvd bajakan, tersentuhlah wicker park yang sempat bikin penasaran (lebih pada josh harnett-nya yang sempet bikin gue ser-seran waktu main di pearl harbor). Langsung gue pantengin abis permainan harnett dan diane kruger tengah malam menjelang dini hari itu.

dari awal gue udah meyakinkan diri untuk tidak membandingkan gaya mereka dengan belucci-cassel. karena pasti kebanting abis. pada beberapa scene mereka memang setia pada saduran aslinya. meski banyak juga improvisasi. soal nama tokoh max yang berganti jadi matthew yang hobi foto dan jadi juru rekam dengan video yang lebih canggih, misalnya. atau lisa yang penari padahal di l'apprtment dia seorang pemain teater. komunikasi juga lebih canggih karena udah pake hp dan suara perekam (hari gini cing!). tapi soulmate antara mattew dan lisa gak gue dapetin pada permainan harnett dan kruger ini. satu-satunya yang mengobati kekecewaan gue pada film ini justru pada karakter alex yang dimainin dengan ok oleh rose byrne (di l'appartment tokoh ini bernama alice, juga diperankan dengan cemerlang oleh romane bohringer).

dan, kekecewaan gue semakin mendapat tempatnya pada ending film ini yang diubah total. di versi aslinya gak ada tuh cerita matt akhirnya ketemu lisa dengan latar belakang lagu cold play yang mendayu-dayu. bah!

yang ada, lisa dibakar di apartemennya oleh daniel, pacar gelapnya yang cemburu sama dia. lalu max malah jatuh ke pelukan alice yang jelas-jelas telah melakukan tipu daya untuk menghancurkan hubungan kasih matt/max dengan lisa. dan matt selamanya tak pernah bertemu lisa saudara-saudara! termasuk gelapnya jawaban atas meghilangnya lisa selama ini.

Huhu.. gue sempet nangis kering airmata nonton ini. Sarkastik! Hidup memang kejam dan gak selamanya yang happy ending. Dan film-film kayak gini biasanya cuma bisa didapetin di luar produksi hollywood. disinilah baru terasa jasa besar jakarta film festival atau kegiatan-kegiatan yang sejenis dalam membuka mata penonton untuk kehadiran film-film alternatif disini (meski baisanya gue juga lebih memburu film-film yang gratisan waktu mereka bikin hajatan).

Dan dengan tiba-tiba pikiran gue pada film-film hollywood melayang kemana-mana. bisa diitung sebelah jari deh film-film hollywood yang mau ambil resiko bikin cerita yang gak populer. akhir ceritanya pasti bisa ditebak. bahkan untuk film berkualitas macam eternal sunshine of the spotleess mind aja tetap mengecewakan endingnya. (kenapa juga clementin mau balik sama joel padahal dia udah ikut terapi menghapus memori apapun yang berkaitan dengan joel?).

trus, soal fahrenheit 911 yang sempet bikin decak kagum banyak orang itu. ternyata malah jadi cibiran besar bagi banyak warga besar amerika sendiri. dibuat berjenis-jenis film tandingan fahrenheit yang berusaha memukul telak michael moore (hiks, gue gak sengaja ngedapetin fahrenhype 911 karena salah comot dan ternyata versi tandingan fahrenheit 911). rasa-rasanya mereka emang dengan sengaja menciptakan hidup nyaman di "the dream land" dan ini mengingatkan gue pada dunia stanford's wifes yang endingnya juga garing abis.

lantas, tiba-tiba juga gue inget omongan temen gue waktu heboh soal theo toemion di jis (hehe.. gak ada hubungannya ya?). waktu itu dia bilang, gue sih percaya sama media (tentang) amerika paling gede cuma 75% aja. nah...