ini sebenarnya film yang udah lama ditonton. tapi belum sempet ditulis. gak ada yang menarik untuk diangkat. selain bahwa film ini merupakan versi aslinya "vanilla sky".
penelope cruz sama-sama menjadi sofia di dua film ini. di versi hollywood sempat heboh karena saat main bareng tom cruise inilah disangkakan sebagai awal dari kisah terlarang mereka. melahirkan kisah pedih buat kidman (gue sempet mengidolakan pasangan sempurna ini).
mana yang lebih bagus, vanilla sky atawa abre los ojos (yang diinggriskan menjadi open your eyes)?
adegan ranjangnya lebih yahud di versi hollywood (mungkin juga di versi latinnya dah disensor). tapi logikanya lebih di runut di versi spanyolnya. disini juga cruz berperan lebih nyeni. jadi mahasiswi di sekolah seni dan sempet mempraktekkan adegan pantomim di taman yang ramai pengunjung. bukan sekedar jadi perempuan penggoda yang mengambil alih cinta antara cruise dan diaz.
that's it. gue gak tau mau nulis apalagi. makin berasa kalo gue makin gak produktif sekarang. menyedihkan!
Friday, August 19, 2005
Tuesday, July 26, 2005
Gue yang Sinis, Judes, dan Tak Mudah Ditaklukkan
kalau dihitung-hitung, banyak juga laki-laki yang berusaha singgah dalam beberapa bulan terakhir ini. mencoba segala cara untuk dapat lebih dekat. tapi gue tetap bergeming. sejauh ini belum ada daya listrik yang mampu menggerakkan hati gue dan bilang "i do" sama mereka.
hidup lalu bagai telenovela yang sengaja diputar-putar sedemikian rupa agar episodenya tak habis-abis. gue naksir siapa eh malah ditaksir siapa.
kadang capek dan jenuh juga (ini kalimat klise banget). tapi sejauh ini gue tak pernah berniat menggadaikan hati demi kehadiran laki-laki. toh, gue semakin mersa tegar, kuat, dan tak cengeng lagi. gue bisa hidup sendiri kok! dan tengah asik-asiknya menikmati kesendirian itu. meski kadang pengen nangis dan gak tau tujuan hidup ini mau dibawa kemana. wajar aja. emosi toh ada siklusnya. kadang semangat, kadang melempem.
buat yusuf di samarinda, saikhu di kali pasir, dwi tetangga sebelah, adi yang baru aja gue kenal, sori to say bahwa gue gak bisa dengan sengaja bermanis-manis menerima sms, telpon atau apapun dari kalian. gue pernah dengan tegas mengatakan ini pada kalian. dan gue gak merasa takut dengan segala keterus terangan ini. hidup tak selamanya sesuai seperti yang kita inginkan. kita angankan.
hidup lalu bagai telenovela yang sengaja diputar-putar sedemikian rupa agar episodenya tak habis-abis. gue naksir siapa eh malah ditaksir siapa.
kadang capek dan jenuh juga (ini kalimat klise banget). tapi sejauh ini gue tak pernah berniat menggadaikan hati demi kehadiran laki-laki. toh, gue semakin mersa tegar, kuat, dan tak cengeng lagi. gue bisa hidup sendiri kok! dan tengah asik-asiknya menikmati kesendirian itu. meski kadang pengen nangis dan gak tau tujuan hidup ini mau dibawa kemana. wajar aja. emosi toh ada siklusnya. kadang semangat, kadang melempem.
buat yusuf di samarinda, saikhu di kali pasir, dwi tetangga sebelah, adi yang baru aja gue kenal, sori to say bahwa gue gak bisa dengan sengaja bermanis-manis menerima sms, telpon atau apapun dari kalian. gue pernah dengan tegas mengatakan ini pada kalian. dan gue gak merasa takut dengan segala keterus terangan ini. hidup tak selamanya sesuai seperti yang kita inginkan. kita angankan.
The Island
ini film lumayan. logikanya nyambung (kata ucu, temen gue). meski ada yang rada gak nyambung juga sih. semisal, gimana bisa ada perempuan klon yang hamil padahal komunitas ini tak berhubungan seks?
kekurangan lainnya, gue gak begitu menikmati saat nomat film ini kemarin. duduk di deretan paling depan. bener-bener di depan pan. bikin pala pusing karena nonton dengan kepala yang mendongak.
karenanya, kalau ada kesempatan, gue mau nonton lagi film ini. ini film lumayan menghibur. macam mr. and mrs. smith, sahara, atau kingdom of heaven.
akting ewan-nya ok. tapi rasanya scarlett dipasang cuma karena keseksiannya disini (gue rasa banyak bagian tubuhnya yang dah dipermak abis).
film ini juga lumayan bikin mikir (meski rada absurd) kayak minority report atau matrix edisi pertama (dua seri terakhirnya rada membosankan sih...).
oh, ada juga film yang sialnya gue lupa apa judulnya. yang jelas film ini dibintangi jodie foster. berkisah tentang misi luar angkasa. ada scene yang bikin gue takjub abis. saat foster terdampar di ruang antah berantah di langit ke tujuh. uh, panoramanya bagus banget...
kelupaan judul juga hinggap pada film remaja yang berkisah tentang kompetisi penari (ballet?) yang salah satu soundtracknya masang lagu "i wanna be with you"-nya mandy moore. ini film emang gak ada hubungannya dengan film-film diatas. cuma ya itu tadi, lupa judul, dan gue rada susah cari film ini lagi.
does anyone can help?
kekurangan lainnya, gue gak begitu menikmati saat nomat film ini kemarin. duduk di deretan paling depan. bener-bener di depan pan. bikin pala pusing karena nonton dengan kepala yang mendongak.
karenanya, kalau ada kesempatan, gue mau nonton lagi film ini. ini film lumayan menghibur. macam mr. and mrs. smith, sahara, atau kingdom of heaven.
akting ewan-nya ok. tapi rasanya scarlett dipasang cuma karena keseksiannya disini (gue rasa banyak bagian tubuhnya yang dah dipermak abis).
film ini juga lumayan bikin mikir (meski rada absurd) kayak minority report atau matrix edisi pertama (dua seri terakhirnya rada membosankan sih...).
oh, ada juga film yang sialnya gue lupa apa judulnya. yang jelas film ini dibintangi jodie foster. berkisah tentang misi luar angkasa. ada scene yang bikin gue takjub abis. saat foster terdampar di ruang antah berantah di langit ke tujuh. uh, panoramanya bagus banget...
kelupaan judul juga hinggap pada film remaja yang berkisah tentang kompetisi penari (ballet?) yang salah satu soundtracknya masang lagu "i wanna be with you"-nya mandy moore. ini film emang gak ada hubungannya dengan film-film diatas. cuma ya itu tadi, lupa judul, dan gue rada susah cari film ini lagi.
does anyone can help?
Tuesday, July 19, 2005
Bejo Renggono
Kemarin gue sempet ketemu cowok lucu. Brondong gitu. Masak manggil gue mbak?
Anaknya lumayan keren siyy. Gondrong. Desain grafis. Pinter moto pula.
Tapi ya udah. Lewat gitu aja.
Gak lama. Gak tau juga gimana caranya pdkt sama doi.
Padahal pengen... :-P
Anaknya lumayan keren siyy. Gondrong. Desain grafis. Pinter moto pula.
Tapi ya udah. Lewat gitu aja.
Gak lama. Gak tau juga gimana caranya pdkt sama doi.
Padahal pengen... :-P
Saturday, July 16, 2005
Menulis Itu Susah!
kata siapa menulis itu gampang?
susah tau...?!
minimal buat gue.
mo nulis curhatan aja suka tiba-tiba blank.
bengong.
gak tau mau nulis apa.
apa guenya yang begi ya....
susah tau...?!
minimal buat gue.
mo nulis curhatan aja suka tiba-tiba blank.
bengong.
gak tau mau nulis apa.
apa guenya yang begi ya....
Monday, July 11, 2005
Thursday, June 23, 2005
Dua Momen yang Ingin Ku Abadikan Malam Ini
ku lihat gadis muda itu tersandar pada batas pemisah antara kursi supir dan penumpang di mikrolet M12 jurusan senen-kota malam ini. batas pemisah itu berterali. mirip seperti jeruji mobil tahanan yang memisahkan supir dan ruang belakang yang biasanya dikhususkan untuk para tahanan berat. dengan kostum yang dikenakannya saat itu, sosoknya mengingatkan gue pada perempuan-perempuan malam yang baru saja dirazia. dalam cahaya lampu mikrolet yang temaram gue ingin gambar perempuan ini bisa diambil.
kulihat sepasang sepatu dengan anyaman unik. seperti saling silang yang dianyam dari tikar. berkilap hitam. sepatu itu terpasang pada sepasang kaki yang sesungguhnya gue kenal. tak begitu dekat. karena kami teman kursus yang baru saja menggenapi 5 kali pertemuan selasa malam lalu. malam ini ia mengenakan motif lain yang kembali menarik perhatianku. kulit coklat dengan sol yang terlihat rapi. sepatu berkelas. aku tak berani menaksir berapa harganya. mengingat koleksi kamera yang ia punya pun sudah membuat aku tak mampu berfikir berapa penghasilannya dalam sebulan. belum lagi mobil mersi yang menjadi kesehariannya. wah...
lagi, aku hanya mampu mengingat momen ini dalam fikiran. berfikir mengapa aku tak mampu mengabadikannya. bagaimana sesungguhnya bisa mengambil gambar yang baik dan benar? tanpa rasa sungkan atau takut? bisakah kita dengan tiba-tiba mengeluarkan kamera dan entah dengan sengaja atau sembunyi-sembunyi mengambil gambar yang kita ingin? tanpa harus hirau dengan perasaannya atau bahkan perasaan kita sendiri?
kulihat sepasang sepatu dengan anyaman unik. seperti saling silang yang dianyam dari tikar. berkilap hitam. sepatu itu terpasang pada sepasang kaki yang sesungguhnya gue kenal. tak begitu dekat. karena kami teman kursus yang baru saja menggenapi 5 kali pertemuan selasa malam lalu. malam ini ia mengenakan motif lain yang kembali menarik perhatianku. kulit coklat dengan sol yang terlihat rapi. sepatu berkelas. aku tak berani menaksir berapa harganya. mengingat koleksi kamera yang ia punya pun sudah membuat aku tak mampu berfikir berapa penghasilannya dalam sebulan. belum lagi mobil mersi yang menjadi kesehariannya. wah...
lagi, aku hanya mampu mengingat momen ini dalam fikiran. berfikir mengapa aku tak mampu mengabadikannya. bagaimana sesungguhnya bisa mengambil gambar yang baik dan benar? tanpa rasa sungkan atau takut? bisakah kita dengan tiba-tiba mengeluarkan kamera dan entah dengan sengaja atau sembunyi-sembunyi mengambil gambar yang kita ingin? tanpa harus hirau dengan perasaannya atau bahkan perasaan kita sendiri?
Warteg 24 Jam
mungkin gue aja yang selama ini kuper ya...
kemarin malam gue diajak makan di warteg marmo. ini warteg katanya udah tenar kemana-kemana. tapi gue baru tau ada warteg ini semalam. kira-kira jam 10-an. setelah capek ngubek-ngubek perkakas di carrefour yang makin gila aja koleksinya.
apa yang istimewa dari warteg yang mangkal di tebet ini?
buat orang baru kayak gue mungkin agak berkesan. menunya lumayan lengkap (lebih banyak sih menu karnivora. so, buat vegetarian kayaknya mesti cari alternatif) meski dari segi rasa gak terlalu istimewa. porsi nasinya juga sedikit. macam porsi rumah makan padang lah. gue aja harus nambah. bukan karena ketagihan tapi memang gak nendang aja di perut.
keistimewaan lainnya: buka 24 jam. konon hari raya juga tetap buka. informasi yang terakhir ini tentu mesti di cek lagi.
di tengah timbunan lauk pauk dan ramainya pengunjung malam itu (katanya sih banyak juga artis yang mampir kesini...) gue sempet ngebet banget untuk nulis profil tentang warteg ini (mentang-mentang baru kelar kursus jurnalisme sastrawi mungkin...)
gue sempat bertanya-tanya, mana yang namanya pak warmo ya...?
temen gue gak ada yang bisa jawab. "mungkin juga udah mati". jawab temen gue enteng.
lalu berapa kira-kira omset seharinya ya? udah berapa lama pak warmo ini buka usaha? apa suka dukanya? udah keturunan yang ke berapa yang megang usahanya sekarang? apa hasil dari jerih payahnya selama ini?
bisnis rumah makan emang termasuk bisnis yang prospektif. kalau manajemennya bener tentu aja. karena banyak juga yang akhirnya gulung tikar. kabarnya bisnis beginian main dukunnya juga kuat. ini tentu perlu investigasi lebih lanjut. tapi bisnis makan pedagang kaki lima emang seringkali mengilik hati gue untuk bisa menelusurinya lebih jauh. sayang, biasanya keinginan hanya tinggal keinginan. apalagi gue juga belum tau mau di dayagunakan untuk apa tulisan gue nanti. selama belum mendesak dan gak ada funding yang bisa dijadikan sandaran biasanya keinginan ini menguap begitu aja. nanti juga lupa lagi. ketimbun sama keinginan lain.
kemarin malam gue diajak makan di warteg marmo. ini warteg katanya udah tenar kemana-kemana. tapi gue baru tau ada warteg ini semalam. kira-kira jam 10-an. setelah capek ngubek-ngubek perkakas di carrefour yang makin gila aja koleksinya.
apa yang istimewa dari warteg yang mangkal di tebet ini?
buat orang baru kayak gue mungkin agak berkesan. menunya lumayan lengkap (lebih banyak sih menu karnivora. so, buat vegetarian kayaknya mesti cari alternatif) meski dari segi rasa gak terlalu istimewa. porsi nasinya juga sedikit. macam porsi rumah makan padang lah. gue aja harus nambah. bukan karena ketagihan tapi memang gak nendang aja di perut.
keistimewaan lainnya: buka 24 jam. konon hari raya juga tetap buka. informasi yang terakhir ini tentu mesti di cek lagi.
di tengah timbunan lauk pauk dan ramainya pengunjung malam itu (katanya sih banyak juga artis yang mampir kesini...) gue sempet ngebet banget untuk nulis profil tentang warteg ini (mentang-mentang baru kelar kursus jurnalisme sastrawi mungkin...)
gue sempat bertanya-tanya, mana yang namanya pak warmo ya...?
temen gue gak ada yang bisa jawab. "mungkin juga udah mati". jawab temen gue enteng.
lalu berapa kira-kira omset seharinya ya? udah berapa lama pak warmo ini buka usaha? apa suka dukanya? udah keturunan yang ke berapa yang megang usahanya sekarang? apa hasil dari jerih payahnya selama ini?
bisnis rumah makan emang termasuk bisnis yang prospektif. kalau manajemennya bener tentu aja. karena banyak juga yang akhirnya gulung tikar. kabarnya bisnis beginian main dukunnya juga kuat. ini tentu perlu investigasi lebih lanjut. tapi bisnis makan pedagang kaki lima emang seringkali mengilik hati gue untuk bisa menelusurinya lebih jauh. sayang, biasanya keinginan hanya tinggal keinginan. apalagi gue juga belum tau mau di dayagunakan untuk apa tulisan gue nanti. selama belum mendesak dan gak ada funding yang bisa dijadikan sandaran biasanya keinginan ini menguap begitu aja. nanti juga lupa lagi. ketimbun sama keinginan lain.
malam itu sambil makan gue sempat ngelamun. mata gue sempat menangkap styreofoam kelap-kelip bertuliskan "warteg warmo, buka 24 jam" disalah satu ujung atas dindingnya. wah, ok juga nih buat diambil gambarnya. gue dah kebayang sudut-sudut mana aja yang bisa diambil. sayang gue gak bawa kodak (seperti biasanya... dasar jurnalis tanggung!)
Tuesday, June 21, 2005
Friday, June 17, 2005
Belum Saatnya
ada desir-desir aneh saat gue terima sms-sms-nya
siap jatuh cinta lagi nih...?!
tapi kok kayaknya umurnya dibawah gue ya...?!
hm, berondong bouw.. hm....
siap jatuh cinta lagi nih...?!
tapi kok kayaknya umurnya dibawah gue ya...?!
hm, berondong bouw.. hm....
Friday, June 10, 2005
Mark, Janet, Tirto..
ini tentang kesibukan yang sempat melanda di bulan juni kemarin. kursus di EF, jurnalisme sastrawi, dan ambil kelas fotografi di oktagon. bayar 1,290 ribu untuk kelas basic di EF, bayar gratis untuk jurnalisme sastrawi (kecuali keluar ongkos buat transport pp) dan keluar duit 1,690 ribu untuk kursus di oktagon.
awalnya sempet semangat. ketemu orang-orang baru. bisa ngobrol secara nginggris dengan mark, tutor gue di EF yang funky banget. meski dengan bahasa yang blekak-blekuk. pun untuk kursus jurnalisme sastrawi yang di pandu janet. sebuah kelas yang menyenangkan. meski lama-lama bt juga. terutama karena janetnya cuma hadir di minggu pertama dan diganti dengan pengampu lain yang sempet bikin ngantuk berat (haruskah namanya disebut disini?). trus, ketemu orang-orang yang canggih di oktagon.
tapi segala kesenangan tentu ada masanya. seperti gue bilang. makin kesini makin bosenin. mark di EF sempet diganti bill. ini bener-bener jadi membosankan. dan gue sepet memutuskan untuk gak lanjut. meski merasa sayang. lalu kelas di oktagon juga sempet beberapa kali gue bolosin. makin kesini makin merasa gak dapet apa-apa. dan gue masih sering glagepan kalo lagi turlap. kenapa mau jadi pinter mahal ya? tanya kenapa...
awalnya sempet semangat. ketemu orang-orang baru. bisa ngobrol secara nginggris dengan mark, tutor gue di EF yang funky banget. meski dengan bahasa yang blekak-blekuk. pun untuk kursus jurnalisme sastrawi yang di pandu janet. sebuah kelas yang menyenangkan. meski lama-lama bt juga. terutama karena janetnya cuma hadir di minggu pertama dan diganti dengan pengampu lain yang sempet bikin ngantuk berat (haruskah namanya disebut disini?). trus, ketemu orang-orang yang canggih di oktagon.
tapi segala kesenangan tentu ada masanya. seperti gue bilang. makin kesini makin bosenin. mark di EF sempet diganti bill. ini bener-bener jadi membosankan. dan gue sepet memutuskan untuk gak lanjut. meski merasa sayang. lalu kelas di oktagon juga sempet beberapa kali gue bolosin. makin kesini makin merasa gak dapet apa-apa. dan gue masih sering glagepan kalo lagi turlap. kenapa mau jadi pinter mahal ya? tanya kenapa...
Wednesday, June 01, 2005
Rumah Baru
ini kali ketiga gue pindah kos-kosan di daerah menteng. dapet rumah lumayan meski berada di perkampungan yang padet banget. mengingatkan gue pada lagu gang kelinci-nya lilis suryani. tapi sejauh ini gue enjoy. gak melo seperti kepindahan gue sebelum-sebelumnya. meski masih suka inget sama bajingan satu itu. hey, kemana aja lu, man...?! miss u but hate u!!!
Thursday, May 26, 2005
Nudis
kadang gue ingin menikmati kebebasan bertelanjang diri tanpa khawatir dengan tatapan aneh atau iseng siapapun. berada di suatu pulau yang penghuninya bebas mengeksplorasi tubuhnya sendiri tanpa merasa aneh dengan konsep telanjang. dan rasa ini kadang gue nikmati kalau gue keluar kota. nginap di hotel sendirian. dan gue bisa melakukan apapun tanpa harus sungkan diganggu atau diusilin orang iseng.
kebebasan bertelanjang itu juga sempat gue nikmati saat nginap di padepokan gandhi ashram, candidasa pekan kemarin. bukan karena padepokan ini sendiri yang memang mengajarkan warganya hal-hal yang agak diluar kebiasaan. tentu menutupi aurat juga menjadi aturan kesopanan yang diajarkan disini. meski tak ketat. bali sendiri sempat punya konvensi yang membiarkan perempuan-perempuannya bertelanjang dada. sebelum digerus perubahan jaman yang kadang terasa aneh. tapi sampai sekarang gue masih bisa merasa agak nyaman tentang konvensi yang justru yang tak pernah meributkan soal berpakaian disini.
tiga malam di candi dasa. menikmati debur ombak yang tak pernah jemu. menginap disalah satu bale-nya sendirian. gue bisa menikmati kebebasan itu. meski awalnya agak ragu. bale ini di setting sedemikian rupa. dengan kamar mandi yang membiarkan banyak ruang terbuka di sana sini. salah satu kaca jendelanya yang tak bertirai sempat gue tutup dengan kain seadanya. sebelum gue bisa dengan nyaman merasa bahwa gak akan ada orang yang iseng mengintip kebebasan sesaat yang jarang gue temui ini.
kebebasan bertelanjang itu juga sempat gue nikmati saat nginap di padepokan gandhi ashram, candidasa pekan kemarin. bukan karena padepokan ini sendiri yang memang mengajarkan warganya hal-hal yang agak diluar kebiasaan. tentu menutupi aurat juga menjadi aturan kesopanan yang diajarkan disini. meski tak ketat. bali sendiri sempat punya konvensi yang membiarkan perempuan-perempuannya bertelanjang dada. sebelum digerus perubahan jaman yang kadang terasa aneh. tapi sampai sekarang gue masih bisa merasa agak nyaman tentang konvensi yang justru yang tak pernah meributkan soal berpakaian disini.
tiga malam di candi dasa. menikmati debur ombak yang tak pernah jemu. menginap disalah satu bale-nya sendirian. gue bisa menikmati kebebasan itu. meski awalnya agak ragu. bale ini di setting sedemikian rupa. dengan kamar mandi yang membiarkan banyak ruang terbuka di sana sini. salah satu kaca jendelanya yang tak bertirai sempat gue tutup dengan kain seadanya. sebelum gue bisa dengan nyaman merasa bahwa gak akan ada orang yang iseng mengintip kebebasan sesaat yang jarang gue temui ini.
Tuesday, May 17, 2005
Wicker Park
do not ever trust america!
kalimat ini semakin gue yakini kebenarannya setelah nonton wicker park. film terakhir ini emang gak ada hubungannya dengan heroisme amerika seperti yang sering digambarkan dalam film-filmnya arnold atau stallone. tapi secara gak langsung wicker park semakin memberi kesadaran bahwa hollywood memang memberi peran besar bagi manusia bodoh untuk terus bermimpi indah. Keep dreaming man! Karena jagoan pada akhirnya akan menang. Dan kebaikan pada akhirnya (hanya) akan berpihak pada si cantik dan si tampan. lha, emang apa sih isi filmya sampe gue begitu senewen?
begini, sebenarnya waktu pertama kali diluncurkan di indonesia (jakarta lebih tepatnya), gue udah gak minat nonton film ini. gue tau ini film saduran dari film perancis l'appartement yang dimainkan dengan sangat cemerlang oleh monica belucci dan vincent cassel, pasutri yang sering banget kerja bareng untuk film-film mereka. waktu nonton versi aslinya (thanks to ucu yang udah minjemin dvd-nya), gue miris abis. ini beda banget dengan film-film mainstream (hoolywood) yang selalu happy ending.
lalu, saat kemarin petang gue singgah di menteng dan sengaja mendamparkan diri di surga lautan dvd bajakan, tersentuhlah wicker park yang sempat bikin penasaran (lebih pada josh harnett-nya yang sempet bikin gue ser-seran waktu main di pearl harbor). Langsung gue pantengin abis permainan harnett dan diane kruger tengah malam menjelang dini hari itu.
dari awal gue udah meyakinkan diri untuk tidak membandingkan gaya mereka dengan belucci-cassel. karena pasti kebanting abis. pada beberapa scene mereka memang setia pada saduran aslinya. meski banyak juga improvisasi. soal nama tokoh max yang berganti jadi matthew yang hobi foto dan jadi juru rekam dengan video yang lebih canggih, misalnya. atau lisa yang penari padahal di l'apprtment dia seorang pemain teater. komunikasi juga lebih canggih karena udah pake hp dan suara perekam (hari gini cing!). tapi soulmate antara mattew dan lisa gak gue dapetin pada permainan harnett dan kruger ini. satu-satunya yang mengobati kekecewaan gue pada film ini justru pada karakter alex yang dimainin dengan ok oleh rose byrne (di l'appartment tokoh ini bernama alice, juga diperankan dengan cemerlang oleh romane bohringer).
dan, kekecewaan gue semakin mendapat tempatnya pada ending film ini yang diubah total. di versi aslinya gak ada tuh cerita matt akhirnya ketemu lisa dengan latar belakang lagu cold play yang mendayu-dayu. bah!
yang ada, lisa dibakar di apartemennya oleh daniel, pacar gelapnya yang cemburu sama dia. lalu max malah jatuh ke pelukan alice yang jelas-jelas telah melakukan tipu daya untuk menghancurkan hubungan kasih matt/max dengan lisa. dan matt selamanya tak pernah bertemu lisa saudara-saudara! termasuk gelapnya jawaban atas meghilangnya lisa selama ini.
Huhu.. gue sempet nangis kering airmata nonton ini. Sarkastik! Hidup memang kejam dan gak selamanya yang happy ending. Dan film-film kayak gini biasanya cuma bisa didapetin di luar produksi hollywood. disinilah baru terasa jasa besar jakarta film festival atau kegiatan-kegiatan yang sejenis dalam membuka mata penonton untuk kehadiran film-film alternatif disini (meski baisanya gue juga lebih memburu film-film yang gratisan waktu mereka bikin hajatan).
Dan dengan tiba-tiba pikiran gue pada film-film hollywood melayang kemana-mana. bisa diitung sebelah jari deh film-film hollywood yang mau ambil resiko bikin cerita yang gak populer. akhir ceritanya pasti bisa ditebak. bahkan untuk film berkualitas macam eternal sunshine of the spotleess mind aja tetap mengecewakan endingnya. (kenapa juga clementin mau balik sama joel padahal dia udah ikut terapi menghapus memori apapun yang berkaitan dengan joel?).
trus, soal fahrenheit 911 yang sempet bikin decak kagum banyak orang itu. ternyata malah jadi cibiran besar bagi banyak warga besar amerika sendiri. dibuat berjenis-jenis film tandingan fahrenheit yang berusaha memukul telak michael moore (hiks, gue gak sengaja ngedapetin fahrenhype 911 karena salah comot dan ternyata versi tandingan fahrenheit 911). rasa-rasanya mereka emang dengan sengaja menciptakan hidup nyaman di "the dream land" dan ini mengingatkan gue pada dunia stanford's wifes yang endingnya juga garing abis.
lantas, tiba-tiba juga gue inget omongan temen gue waktu heboh soal theo toemion di jis (hehe.. gak ada hubungannya ya?). waktu itu dia bilang, gue sih percaya sama media (tentang) amerika paling gede cuma 75% aja. nah...
kalimat ini semakin gue yakini kebenarannya setelah nonton wicker park. film terakhir ini emang gak ada hubungannya dengan heroisme amerika seperti yang sering digambarkan dalam film-filmnya arnold atau stallone. tapi secara gak langsung wicker park semakin memberi kesadaran bahwa hollywood memang memberi peran besar bagi manusia bodoh untuk terus bermimpi indah. Keep dreaming man! Karena jagoan pada akhirnya akan menang. Dan kebaikan pada akhirnya (hanya) akan berpihak pada si cantik dan si tampan. lha, emang apa sih isi filmya sampe gue begitu senewen?
begini, sebenarnya waktu pertama kali diluncurkan di indonesia (jakarta lebih tepatnya), gue udah gak minat nonton film ini. gue tau ini film saduran dari film perancis l'appartement yang dimainkan dengan sangat cemerlang oleh monica belucci dan vincent cassel, pasutri yang sering banget kerja bareng untuk film-film mereka. waktu nonton versi aslinya (thanks to ucu yang udah minjemin dvd-nya), gue miris abis. ini beda banget dengan film-film mainstream (hoolywood) yang selalu happy ending.
lalu, saat kemarin petang gue singgah di menteng dan sengaja mendamparkan diri di surga lautan dvd bajakan, tersentuhlah wicker park yang sempat bikin penasaran (lebih pada josh harnett-nya yang sempet bikin gue ser-seran waktu main di pearl harbor). Langsung gue pantengin abis permainan harnett dan diane kruger tengah malam menjelang dini hari itu.
dari awal gue udah meyakinkan diri untuk tidak membandingkan gaya mereka dengan belucci-cassel. karena pasti kebanting abis. pada beberapa scene mereka memang setia pada saduran aslinya. meski banyak juga improvisasi. soal nama tokoh max yang berganti jadi matthew yang hobi foto dan jadi juru rekam dengan video yang lebih canggih, misalnya. atau lisa yang penari padahal di l'apprtment dia seorang pemain teater. komunikasi juga lebih canggih karena udah pake hp dan suara perekam (hari gini cing!). tapi soulmate antara mattew dan lisa gak gue dapetin pada permainan harnett dan kruger ini. satu-satunya yang mengobati kekecewaan gue pada film ini justru pada karakter alex yang dimainin dengan ok oleh rose byrne (di l'appartment tokoh ini bernama alice, juga diperankan dengan cemerlang oleh romane bohringer).
dan, kekecewaan gue semakin mendapat tempatnya pada ending film ini yang diubah total. di versi aslinya gak ada tuh cerita matt akhirnya ketemu lisa dengan latar belakang lagu cold play yang mendayu-dayu. bah!
yang ada, lisa dibakar di apartemennya oleh daniel, pacar gelapnya yang cemburu sama dia. lalu max malah jatuh ke pelukan alice yang jelas-jelas telah melakukan tipu daya untuk menghancurkan hubungan kasih matt/max dengan lisa. dan matt selamanya tak pernah bertemu lisa saudara-saudara! termasuk gelapnya jawaban atas meghilangnya lisa selama ini.
Huhu.. gue sempet nangis kering airmata nonton ini. Sarkastik! Hidup memang kejam dan gak selamanya yang happy ending. Dan film-film kayak gini biasanya cuma bisa didapetin di luar produksi hollywood. disinilah baru terasa jasa besar jakarta film festival atau kegiatan-kegiatan yang sejenis dalam membuka mata penonton untuk kehadiran film-film alternatif disini (meski baisanya gue juga lebih memburu film-film yang gratisan waktu mereka bikin hajatan).
Dan dengan tiba-tiba pikiran gue pada film-film hollywood melayang kemana-mana. bisa diitung sebelah jari deh film-film hollywood yang mau ambil resiko bikin cerita yang gak populer. akhir ceritanya pasti bisa ditebak. bahkan untuk film berkualitas macam eternal sunshine of the spotleess mind aja tetap mengecewakan endingnya. (kenapa juga clementin mau balik sama joel padahal dia udah ikut terapi menghapus memori apapun yang berkaitan dengan joel?).
trus, soal fahrenheit 911 yang sempet bikin decak kagum banyak orang itu. ternyata malah jadi cibiran besar bagi banyak warga besar amerika sendiri. dibuat berjenis-jenis film tandingan fahrenheit yang berusaha memukul telak michael moore (hiks, gue gak sengaja ngedapetin fahrenhype 911 karena salah comot dan ternyata versi tandingan fahrenheit 911). rasa-rasanya mereka emang dengan sengaja menciptakan hidup nyaman di "the dream land" dan ini mengingatkan gue pada dunia stanford's wifes yang endingnya juga garing abis.
lantas, tiba-tiba juga gue inget omongan temen gue waktu heboh soal theo toemion di jis (hehe.. gak ada hubungannya ya?). waktu itu dia bilang, gue sih percaya sama media (tentang) amerika paling gede cuma 75% aja. nah...
Thursday, May 12, 2005
Iman
apakah sebenarnya iman itu?
sekedar percaya bahwa tuhan itu ada dan mengingatnya selalu dalam setiap denyut nadi kita?
rajin melakukan ritual-ritual ibadah untuk memujanya?
gue percaya tuhan itu ada.
meski tak selalu mengingatnya.
gue selalu mengingatnya.
meski juga kadang merasa tak percaya (aneh! tiba-tiba gue merasa bergetar saat menulis ini)
gue mengingatnya meski tak rajin menyembahnya.
apakah sebenarnya iman itu?
sekedar percaya bahwa tuhan itu ada dan mengingatnya selalu dalam setiap denyut nadi kita?
rajin melakukan ritual-ritual ibadah untuk memujanya?
gue percaya tuhan itu ada.
meski tak selalu mengingatnya.
gue selalu mengingatnya.
meski juga kadang merasa tak percaya (aneh! tiba-tiba gue merasa bergetar saat menulis ini)
gue mengingatnya meski tak rajin menyembahnya.
apakah sebenarnya iman itu?
Sembelit
belakangan ini gue semakin susah BAB.
kenapa yah?
kurang makan sayur, buah, dan makanan berserat lainnya.
itu pasti kata dokter.
trus, kalo emang susah nemuinnya gimana dong...?!
kenapa yah?
kurang makan sayur, buah, dan makanan berserat lainnya.
itu pasti kata dokter.
trus, kalo emang susah nemuinnya gimana dong...?!
Tulang Nyangkut
waktu kecil gue pernah baca buku cerita terjemahan (salah satu karyanya andersen? mungkin ya, mungkin juga gak. lupa!) soal tamu yang ketulangan duri ikan. samar-samar gue inget cerita itu.
tersebutlah laki-laki (sebut aja si om) yang bertamu di rumah mrs. brown (lagi-lagi nama ini asli fiktif). ia di jamu masakan ikan oleh nyonya rumah. saat makan malam itulah si om tersedak tulang ikan lalu diam tak bergerak.
mrs. brown takut bukan kepalang dan mengira si om mati. ia panik. segera diangkatnya tubuh si om yang diam tak bergerak dan menggeletakkanya di salah satu pekarangan tetangganya.
tak berapa lama ada tetangga mrs. brown yang membawa om yang tergeletak itu masuk ke dalam rumahnya. ia tahu, orang ini belum mati. ditepuk-tepuknya pundak si om dan dia masih diam. kali lain atas saran istrinya di pukulnya dengan keras pundak om yang malang ini. ajaib. sekejap om ini muntah dan ia tersadar.
berceritalah si om bahwa ia baru saja makan ikan dan durinya nyangkut di tenggorokan. ia berterima kasih pada tetangga mrs brown ini karena telah menyelamatkan nyawanya.
cerita yang sederhana. tapi gue inget waktu itu gue sempat berfikir, apa rasanya ya ketulangan? emangnya beneran sakit? soalnya gue sejak kecil terkenal jago makan tulang. kalo gue lagi makan ikan atau ayam jangan harap kucing sebelah gue bakal kebagian.
tapi siang ini gue kena tulahnya. saat lagi asik-asiknya menikmati pindang kepala patin tiba-tiba gue trsedak. sepotong tulang nyangkut di tenggorokan. sakitnya minta ampun. dan gue panik bukan main. temen gue sempat menyarankan untuk menelan segenggam nasi tanpa dikunyah biar tulang itu ikut tertelan. tak berhasil. tenngorokan gue maikn nyeri.
temen gue yang lain menyarankan untuk kumur-kumur dengan muka tengadah agar air masuk ke tenggorokan. gue sempat mau muntah waktu ngelakuin ini. bener aja. segera gue muntah dan samar-samar gue merasa selarik duri ikan turut keluar. alhamdulillah...
meski tenggorokan gue masih terasa sakit kalau menelan. kapok makan ikan? no way...!!!
tersebutlah laki-laki (sebut aja si om) yang bertamu di rumah mrs. brown (lagi-lagi nama ini asli fiktif). ia di jamu masakan ikan oleh nyonya rumah. saat makan malam itulah si om tersedak tulang ikan lalu diam tak bergerak.
mrs. brown takut bukan kepalang dan mengira si om mati. ia panik. segera diangkatnya tubuh si om yang diam tak bergerak dan menggeletakkanya di salah satu pekarangan tetangganya.
tak berapa lama ada tetangga mrs. brown yang membawa om yang tergeletak itu masuk ke dalam rumahnya. ia tahu, orang ini belum mati. ditepuk-tepuknya pundak si om dan dia masih diam. kali lain atas saran istrinya di pukulnya dengan keras pundak om yang malang ini. ajaib. sekejap om ini muntah dan ia tersadar.
berceritalah si om bahwa ia baru saja makan ikan dan durinya nyangkut di tenggorokan. ia berterima kasih pada tetangga mrs brown ini karena telah menyelamatkan nyawanya.
cerita yang sederhana. tapi gue inget waktu itu gue sempat berfikir, apa rasanya ya ketulangan? emangnya beneran sakit? soalnya gue sejak kecil terkenal jago makan tulang. kalo gue lagi makan ikan atau ayam jangan harap kucing sebelah gue bakal kebagian.
tapi siang ini gue kena tulahnya. saat lagi asik-asiknya menikmati pindang kepala patin tiba-tiba gue trsedak. sepotong tulang nyangkut di tenggorokan. sakitnya minta ampun. dan gue panik bukan main. temen gue sempat menyarankan untuk menelan segenggam nasi tanpa dikunyah biar tulang itu ikut tertelan. tak berhasil. tenngorokan gue maikn nyeri.
temen gue yang lain menyarankan untuk kumur-kumur dengan muka tengadah agar air masuk ke tenggorokan. gue sempat mau muntah waktu ngelakuin ini. bener aja. segera gue muntah dan samar-samar gue merasa selarik duri ikan turut keluar. alhamdulillah...
meski tenggorokan gue masih terasa sakit kalau menelan. kapok makan ikan? no way...!!!
Wednesday, May 11, 2005
Kingdom of Heaven
mumpung masih anget dalam ingatan.
kami baru aja nonton film kolosal ini.
disebut kami tentu saja bukan hanya gue sorangan.
siapa-siapa mereka, rasanya gak penting dijabarin disini.
yang jelas gue dibayarin. ini jelas anugerah. meski tak besar tapi patut disyukuri.
cerita berikut sebenarnya lebih untuk arsip gue sendiri. karena gue suka hilang ingatan terhadap hal-hal yang detil.
film ini disutradarai (eh kenapa juga disebut sutradara ya? kesannya feminim gitu lho...) ridley scott yang pernah bikin gladiator. spesialis film heroik gitu lho... gue tau ini juga karena baru aja browsing di internet. cinematografinya dahsyat. orang sering bilang belum ada yang ngalahin lord of the ring (LOTR). sampe leila chudori menjulukinya sebagai film terdahsyat di abad ini. tapi gue kok gak begitu terkesan dengan film yang disebut terakhir ini ya? dan menurut gue orang-orang itu (termasuk leila) terlalu berlebihan. ada banyak lah film dahsyat dan spektakuler di abad ini. kingdom of heaven buat gue bisa jadi salah satunya.
eh, hero-nya zhang yimou juga dahsyat kok. filosofinya ok, permainan warnanya cantik. scene-scene-nya juga dahsyat. apalagi saat hujan panah di padepokan kaligrafinya broken sword (?).
memangnya apa sih ukuran film disebut dahsyat atau spektakuler? (ups, sebenarnya gue telah mensinonimkan dua kata yang berbeda. ok, let we put the last one). karena budgetnya yang sampe trilyunan? kecanggihan teknologi dan animasinya (yang juga akan berakibat pada hal yang pertama)? atau sekedar kreatifitas seseorang dalam mengambil gambar?
pertanyaan gue mungkin gak mutu gini. sama gak mutunya karena gue gak tau persis perbandingan budget film-film yang masuk kategori spektakuler itu (does anyone will help me?).
yang jelas (lagi, ini sekedar catatan penting untuk arsip gue pribadi), film ini dibintangi orlando bloom, cowok manis yang main di lord of the ring jadi legolas yang kiut itu (spesialis knight manis yang lembut rupanya doi. lihat juga misalnya aktingnya untuk troy. meski untuk kingdom ini doi penampilannya lebih maccho dengan brewok gak keurus itu, tetep aja dia keliatan cowok yang melo). dan gue (seperti biasanya) sempet kepincut sama tokoh ini waktu di LOTR meski stt... doi sempet diisukan gay lho... semua ini lagi-lagi ya gue dapet setelah browsing sana-sini (terpujilah google!)
lalu siapa eva green? si sybilla yang misterius itu?
gak banyak yang bisa didapet dari profil cewek ini. kecuali dia pernah maen di dreamer yang gila banget (gue gak nyangka melihat perubahan tampilannya untuk peran sybilla yang kelihatan dewasa banget). doi terbilang masih muda tapi film emang mampu merubah wajah orang jadi siapapun atau apapun.
kami baru aja nonton film kolosal ini.
disebut kami tentu saja bukan hanya gue sorangan.
siapa-siapa mereka, rasanya gak penting dijabarin disini.
yang jelas gue dibayarin. ini jelas anugerah. meski tak besar tapi patut disyukuri.
cerita berikut sebenarnya lebih untuk arsip gue sendiri. karena gue suka hilang ingatan terhadap hal-hal yang detil.
film ini disutradarai (eh kenapa juga disebut sutradara ya? kesannya feminim gitu lho...) ridley scott yang pernah bikin gladiator. spesialis film heroik gitu lho... gue tau ini juga karena baru aja browsing di internet. cinematografinya dahsyat. orang sering bilang belum ada yang ngalahin lord of the ring (LOTR). sampe leila chudori menjulukinya sebagai film terdahsyat di abad ini. tapi gue kok gak begitu terkesan dengan film yang disebut terakhir ini ya? dan menurut gue orang-orang itu (termasuk leila) terlalu berlebihan. ada banyak lah film dahsyat dan spektakuler di abad ini. kingdom of heaven buat gue bisa jadi salah satunya.
eh, hero-nya zhang yimou juga dahsyat kok. filosofinya ok, permainan warnanya cantik. scene-scene-nya juga dahsyat. apalagi saat hujan panah di padepokan kaligrafinya broken sword (?).
memangnya apa sih ukuran film disebut dahsyat atau spektakuler? (ups, sebenarnya gue telah mensinonimkan dua kata yang berbeda. ok, let we put the last one). karena budgetnya yang sampe trilyunan? kecanggihan teknologi dan animasinya (yang juga akan berakibat pada hal yang pertama)? atau sekedar kreatifitas seseorang dalam mengambil gambar?
pertanyaan gue mungkin gak mutu gini. sama gak mutunya karena gue gak tau persis perbandingan budget film-film yang masuk kategori spektakuler itu (does anyone will help me?).
yang jelas (lagi, ini sekedar catatan penting untuk arsip gue pribadi), film ini dibintangi orlando bloom, cowok manis yang main di lord of the ring jadi legolas yang kiut itu (spesialis knight manis yang lembut rupanya doi. lihat juga misalnya aktingnya untuk troy. meski untuk kingdom ini doi penampilannya lebih maccho dengan brewok gak keurus itu, tetep aja dia keliatan cowok yang melo). dan gue (seperti biasanya) sempet kepincut sama tokoh ini waktu di LOTR meski stt... doi sempet diisukan gay lho... semua ini lagi-lagi ya gue dapet setelah browsing sana-sini (terpujilah google!)
lalu siapa eva green? si sybilla yang misterius itu?
gak banyak yang bisa didapet dari profil cewek ini. kecuali dia pernah maen di dreamer yang gila banget (gue gak nyangka melihat perubahan tampilannya untuk peran sybilla yang kelihatan dewasa banget). doi terbilang masih muda tapi film emang mampu merubah wajah orang jadi siapapun atau apapun.
Tuesday, May 10, 2005
Aku dan Peterpan
selamatkan indonesia dari peterpan...!!! teriak temen gue waktu lagu "ada apa dengan mu" bisa dengan mudahnya masuk ke telinga kita. mulai dari loby hotel sampe warung kopi di pinggir stasiun. ponakan gue yang baru berumur dua taun dan baru belajar ngomong pun hafal lagu ini. toh gue ikut menikmati semua kegilaan ini. beli dua kasetnya di toko resmi dan rela rugi 10 ribu untuk bayar nada sambung lagu "aku dan bintang" di ponsel gue. sempet tersirep sama penampakan ariel, meski gue tau doi gak bakalan level sama gue. berondong abis bouw... dan temen-temen gue bilang, "ih, diakan laki orang...?!"
so, what gitu lho...?! masak gara-gara dah merit trus gak boleh jadi idaman eh idola. nabi muhammad aja laki orang. dan kita menjadikannya idola. sebenarnya bukan idola juga sih (untuk ariel maksudnya bukan untuk nabi muhammad) gue pasti terpengaruh jualan yang blow-up abis sama media.
dulu juga sempet naksir berat dewa, mengoleksi kaset-kasetnya (sebelum album terakhir yang kontroversial itu. bukan karena pengen sok ngebela fpi dan organisasi turunannya. lebih karena format lagu-lagu dewa yang semakin gak jelas. segala laskar cinta lah dibawa-bawa. gue udah mulai merasa dewa menuju kejatuhannya saat rilis album arjuna mencari cinta. sok puitis tapi gak jelas gitu lho...).
sheila on 7 waktu album pertama juga sempet naksir. tapi kesininya juga makin gak jelas. trus slank juga, meski awalnya karena sering numpang denger kaset-kaset adek gue yang slankers abis dan sempet nonton live shownya di depok. ternyata keren juga ya... tapi ya trus berlalu.
eh, sama kla juga ding. itu pun sebelum akhirnya dirubah format sama katon yang makin gak katon. tiba-tiba berubah jadi "banci" sejak ketemu ira dan kehilangan daya magisnya dalam membuat syair yang dahsyat... wah, ngapain aja man selama ini..?!
lalu, ada apa dengan ariel? ya gak apa-apa juga. gue pengen banget bisa nonton live shownya. biar dibilang abg (angkatan babe gue?) yang gak inget umur. waktu di jambi kemarin, kesempatan itu nyaris aja gue dapet. konon katanya pula, mereka akan nginep di hotel yang sama tempat gue bermalam waktu itu. dan yang bikin tambah ngebet nonton waktu itu, menurut temen gue disana, tiketnya paling mahal paling 20 ribu. gak lebih bisa kurang malah. itu udah kelas vip lho. karena standar disana memang segituan, katanya...
tetapi... ada banyak hal yang memberatkan gue untuk nonton saat itu. pertama, tiket balik gue dah dibook. dan waktunya cuma beda 6 jam dengan kedatangan band ini ke hotel itu. ngenes banget gak seeh...?! namun begitu, sesungguhnya gue agak malu juga kalo ngakuin bahwasannya gue mundur pulang gara-gara nungguin peterpen. apa kata dunia persilatan tentang ini?
eh, dulunya sih gue sempet gak naksir pisan waktu mereka ngeluarin album pertama. ah, paling band "anak-anak" yang besoknya juga dah tenggelem. pun waktu mereka berhasil masuk muri karena rekornya main 48 jam non stop dibeberapa wilayah. biasalah cari sensasi... pikir gue waktu itu. tapi sejak virus "ada apa dengan mu" disebar dimana-mana, gue kepincut juga. lalu liat nongkrongannnya ariel, wah boleh juga ni anak. kreatif, low profile, n dewasa gitu lho kayaknya.. meski nyatanya ngehamilin anak orang ;-P wua...
dan di sore yang suntuk itu gue mampir ke disk tara. beli "bintang di surga" dan ngedengerin abis lagu-lagunya. gue suka syair-syairnya yang kadang gak jelas tapi menyiratkan pemberontakan. salah satu kalimat yang memberi inspirasi gue di album ini adalah saat ariel dengan suara seraknya teriak "aku menunggumu... mati dihadapanku..."
so, what gitu lho...?! masak gara-gara dah merit trus gak boleh jadi idaman eh idola. nabi muhammad aja laki orang. dan kita menjadikannya idola. sebenarnya bukan idola juga sih (untuk ariel maksudnya bukan untuk nabi muhammad) gue pasti terpengaruh jualan yang blow-up abis sama media.
dulu juga sempet naksir berat dewa, mengoleksi kaset-kasetnya (sebelum album terakhir yang kontroversial itu. bukan karena pengen sok ngebela fpi dan organisasi turunannya. lebih karena format lagu-lagu dewa yang semakin gak jelas. segala laskar cinta lah dibawa-bawa. gue udah mulai merasa dewa menuju kejatuhannya saat rilis album arjuna mencari cinta. sok puitis tapi gak jelas gitu lho...).
sheila on 7 waktu album pertama juga sempet naksir. tapi kesininya juga makin gak jelas. trus slank juga, meski awalnya karena sering numpang denger kaset-kaset adek gue yang slankers abis dan sempet nonton live shownya di depok. ternyata keren juga ya... tapi ya trus berlalu.
eh, sama kla juga ding. itu pun sebelum akhirnya dirubah format sama katon yang makin gak katon. tiba-tiba berubah jadi "banci" sejak ketemu ira dan kehilangan daya magisnya dalam membuat syair yang dahsyat... wah, ngapain aja man selama ini..?!
lalu, ada apa dengan ariel? ya gak apa-apa juga. gue pengen banget bisa nonton live shownya. biar dibilang abg (angkatan babe gue?) yang gak inget umur. waktu di jambi kemarin, kesempatan itu nyaris aja gue dapet. konon katanya pula, mereka akan nginep di hotel yang sama tempat gue bermalam waktu itu. dan yang bikin tambah ngebet nonton waktu itu, menurut temen gue disana, tiketnya paling mahal paling 20 ribu. gak lebih bisa kurang malah. itu udah kelas vip lho. karena standar disana memang segituan, katanya...
tetapi... ada banyak hal yang memberatkan gue untuk nonton saat itu. pertama, tiket balik gue dah dibook. dan waktunya cuma beda 6 jam dengan kedatangan band ini ke hotel itu. ngenes banget gak seeh...?! namun begitu, sesungguhnya gue agak malu juga kalo ngakuin bahwasannya gue mundur pulang gara-gara nungguin peterpen. apa kata dunia persilatan tentang ini?
eh, dulunya sih gue sempet gak naksir pisan waktu mereka ngeluarin album pertama. ah, paling band "anak-anak" yang besoknya juga dah tenggelem. pun waktu mereka berhasil masuk muri karena rekornya main 48 jam non stop dibeberapa wilayah. biasalah cari sensasi... pikir gue waktu itu. tapi sejak virus "ada apa dengan mu" disebar dimana-mana, gue kepincut juga. lalu liat nongkrongannnya ariel, wah boleh juga ni anak. kreatif, low profile, n dewasa gitu lho kayaknya.. meski nyatanya ngehamilin anak orang ;-P wua...
dan di sore yang suntuk itu gue mampir ke disk tara. beli "bintang di surga" dan ngedengerin abis lagu-lagunya. gue suka syair-syairnya yang kadang gak jelas tapi menyiratkan pemberontakan. salah satu kalimat yang memberi inspirasi gue di album ini adalah saat ariel dengan suara seraknya teriak "aku menunggumu... mati dihadapanku..."
Friday, May 06, 2005
Nah ini Dia...!!!
Akhirnya! dan gue terlonjak gembira saat gue temuin URL (ini singkatan yang gue gak tau kepanjangannya apa. sumpah!) tentang fotografi. gue harus berterima kasih pada alexander louiciano (hm, agak susah nulisnya) yang meski gak gue kenal tapi berkenan mencantumkan web ini pada salah satu blognya di britzone. doi juga tanpa sungkan meng-add gue di friendsternya. meski, lagi-lagi, gue gak kenal (apalagi dia). thanks anyway.
(eh, gue juga punya blog di britzone lho.. jadi punya tiga blog euy.. meski miskin ide..;-p)
gue juga harus berterima kasih pada yang menemukan teknologi (klise banget kata-kata ini). gimana gak, kita dapat dengan mudahnya ngedapetin info yang dulu gak pernah kebayang gimana bisa masuk ke otak kita. asal kuat mata n kantong aja. syukur-syukur sih punya kantor sehingga kita bisa akses internet gratis. hiks, jadi inget jaman jadi mahasiswa dulu. siap antri di warnet yang menawarkan harga paling murah! meski gak semua orang juga merasa butuh perkembangan teknologi dan segala macem tetek bengek yang biasanya cuma konsumsi kalangan menengah atas aja.
oh yes, soal britzone ini gue temuin gak sengaja saat browsing tentang perpustakaan di google. yap, ini tadinya emang komunitas keanggotaan buat para pengguna british council library di s.widjojo. dulu sih termasuk kategori perpus yang lumayan canggih dan keren (meski gue gak pernah jadi anggota). tapi sejak dituker alih sama depdiknas gue gak tau lagi gimana kondisi kecanggihannya yang pernah kesohor itu. pun kenapa bisa dituker alih sama lembaga pemerintahan yang kadang gak jelas maintanance-nya itu.
balik ke soal fotografer.net itu, dilihat dari halaman mukanya sih, isinya lumayan okeh. sayangnya, sampe sekarang gue belum berhasil mengakses web itu lebih dalem. meski juga udah ngedaftar jadi anggota, tetap aja susah buka menu yang ada dibody web-nya. susah banget loginnya. selalu aja muncul warning: "Halaman tersebut hanya dapat dilihat oleh Member atau yang levelnya lebih tinggi". apa sih maksudnya...?! kapan keanggotaan gue diverifikasi...?!
(eh, gue juga punya blog di britzone lho.. jadi punya tiga blog euy.. meski miskin ide..;-p)
gue juga harus berterima kasih pada yang menemukan teknologi (klise banget kata-kata ini). gimana gak, kita dapat dengan mudahnya ngedapetin info yang dulu gak pernah kebayang gimana bisa masuk ke otak kita. asal kuat mata n kantong aja. syukur-syukur sih punya kantor sehingga kita bisa akses internet gratis. hiks, jadi inget jaman jadi mahasiswa dulu. siap antri di warnet yang menawarkan harga paling murah! meski gak semua orang juga merasa butuh perkembangan teknologi dan segala macem tetek bengek yang biasanya cuma konsumsi kalangan menengah atas aja.
oh yes, soal britzone ini gue temuin gak sengaja saat browsing tentang perpustakaan di google. yap, ini tadinya emang komunitas keanggotaan buat para pengguna british council library di s.widjojo. dulu sih termasuk kategori perpus yang lumayan canggih dan keren (meski gue gak pernah jadi anggota). tapi sejak dituker alih sama depdiknas gue gak tau lagi gimana kondisi kecanggihannya yang pernah kesohor itu. pun kenapa bisa dituker alih sama lembaga pemerintahan yang kadang gak jelas maintanance-nya itu.
balik ke soal fotografer.net itu, dilihat dari halaman mukanya sih, isinya lumayan okeh. sayangnya, sampe sekarang gue belum berhasil mengakses web itu lebih dalem. meski juga udah ngedaftar jadi anggota, tetap aja susah buka menu yang ada dibody web-nya. susah banget loginnya. selalu aja muncul warning: "Halaman tersebut hanya dapat dilihat oleh Member atau yang levelnya lebih tinggi". apa sih maksudnya...?! kapan keanggotaan gue diverifikasi...?!
Subscribe to:
Posts (Atom)
