Tuesday, May 17, 2005

Wicker Park

do not ever trust america!

kalimat ini semakin gue yakini kebenarannya setelah nonton wicker park. film terakhir ini emang gak ada hubungannya dengan heroisme amerika seperti yang sering digambarkan dalam film-filmnya arnold atau stallone. tapi secara gak langsung wicker park semakin memberi kesadaran bahwa hollywood memang memberi peran besar bagi manusia bodoh untuk terus bermimpi indah. Keep dreaming man! Karena jagoan pada akhirnya akan menang. Dan kebaikan pada akhirnya (hanya) akan berpihak pada si cantik dan si tampan. lha, emang apa sih isi filmya sampe gue begitu senewen?

begini, sebenarnya waktu pertama kali diluncurkan di indonesia (jakarta lebih tepatnya), gue udah gak minat nonton film ini. gue tau ini film saduran dari film perancis l'appartement yang dimainkan dengan sangat cemerlang oleh monica belucci dan vincent cassel, pasutri yang sering banget kerja bareng untuk film-film mereka. waktu nonton versi aslinya (thanks to ucu yang udah minjemin dvd-nya), gue miris abis. ini beda banget dengan film-film mainstream (hoolywood) yang selalu happy ending.

lalu, saat kemarin petang gue singgah di menteng dan sengaja mendamparkan diri di surga lautan dvd bajakan, tersentuhlah wicker park yang sempat bikin penasaran (lebih pada josh harnett-nya yang sempet bikin gue ser-seran waktu main di pearl harbor). Langsung gue pantengin abis permainan harnett dan diane kruger tengah malam menjelang dini hari itu.

dari awal gue udah meyakinkan diri untuk tidak membandingkan gaya mereka dengan belucci-cassel. karena pasti kebanting abis. pada beberapa scene mereka memang setia pada saduran aslinya. meski banyak juga improvisasi. soal nama tokoh max yang berganti jadi matthew yang hobi foto dan jadi juru rekam dengan video yang lebih canggih, misalnya. atau lisa yang penari padahal di l'apprtment dia seorang pemain teater. komunikasi juga lebih canggih karena udah pake hp dan suara perekam (hari gini cing!). tapi soulmate antara mattew dan lisa gak gue dapetin pada permainan harnett dan kruger ini. satu-satunya yang mengobati kekecewaan gue pada film ini justru pada karakter alex yang dimainin dengan ok oleh rose byrne (di l'appartment tokoh ini bernama alice, juga diperankan dengan cemerlang oleh romane bohringer).

dan, kekecewaan gue semakin mendapat tempatnya pada ending film ini yang diubah total. di versi aslinya gak ada tuh cerita matt akhirnya ketemu lisa dengan latar belakang lagu cold play yang mendayu-dayu. bah!

yang ada, lisa dibakar di apartemennya oleh daniel, pacar gelapnya yang cemburu sama dia. lalu max malah jatuh ke pelukan alice yang jelas-jelas telah melakukan tipu daya untuk menghancurkan hubungan kasih matt/max dengan lisa. dan matt selamanya tak pernah bertemu lisa saudara-saudara! termasuk gelapnya jawaban atas meghilangnya lisa selama ini.

Huhu.. gue sempet nangis kering airmata nonton ini. Sarkastik! Hidup memang kejam dan gak selamanya yang happy ending. Dan film-film kayak gini biasanya cuma bisa didapetin di luar produksi hollywood. disinilah baru terasa jasa besar jakarta film festival atau kegiatan-kegiatan yang sejenis dalam membuka mata penonton untuk kehadiran film-film alternatif disini (meski baisanya gue juga lebih memburu film-film yang gratisan waktu mereka bikin hajatan).

Dan dengan tiba-tiba pikiran gue pada film-film hollywood melayang kemana-mana. bisa diitung sebelah jari deh film-film hollywood yang mau ambil resiko bikin cerita yang gak populer. akhir ceritanya pasti bisa ditebak. bahkan untuk film berkualitas macam eternal sunshine of the spotleess mind aja tetap mengecewakan endingnya. (kenapa juga clementin mau balik sama joel padahal dia udah ikut terapi menghapus memori apapun yang berkaitan dengan joel?).

trus, soal fahrenheit 911 yang sempet bikin decak kagum banyak orang itu. ternyata malah jadi cibiran besar bagi banyak warga besar amerika sendiri. dibuat berjenis-jenis film tandingan fahrenheit yang berusaha memukul telak michael moore (hiks, gue gak sengaja ngedapetin fahrenhype 911 karena salah comot dan ternyata versi tandingan fahrenheit 911). rasa-rasanya mereka emang dengan sengaja menciptakan hidup nyaman di "the dream land" dan ini mengingatkan gue pada dunia stanford's wifes yang endingnya juga garing abis.

lantas, tiba-tiba juga gue inget omongan temen gue waktu heboh soal theo toemion di jis (hehe.. gak ada hubungannya ya?). waktu itu dia bilang, gue sih percaya sama media (tentang) amerika paling gede cuma 75% aja. nah...

No comments: