Thursday, January 19, 2006
percobaan hari ini (2)
agak surpraise juga gue bisa nulis agak panjang hari ini (liat postingan sebelum ini dong?). mengingat gue tengah merasa gue semakin bebal luar biasa. males ngapa-ngapain. cuma punya modal niat pengen buat ini itu. termasuk dalam hal nulis. dengan kemampuan fisik yang makin keropos. (tolong ingatkan gue bahwa gue pengen cerita soal tetirah di rumah sakit yang belum lama gue jalanin. juga soal pak dawet yang gue temui di jogja tempo lalu. semata unuk mengisi blog my journal gue yang udah lama banget dibiarkan kosong...).
Percobaan hari ini
Malam tadi gue sengaja pasang alarm tepat pukul 03.30 dini hari. Sebenarnya alarm itu juga sudah diset dari kemarin. Niatnya mau sahur untuk puasa. Puasa? Tumben? Ya. Sejak keluar rumah sakit seminggu yang lalu (dan hampir menghadapi sakaratul maut versi gue) gue jadi agak-agak makin religius (sedikit). (meski tujuan puasa itu sendiri agak-agak kabur buat gue. Beneran insyaf atau sekedar ngurangi lemak pada tubuh gue yang semakin mbohai saja…) Lagi pun, ini tahun baru toh?! Tempat orang biasanya bikin resolusi (kenapa dinamain resolusi? Kata yang gak pernah gue ngerti sampai sekarang) macam-macam yang intinya ingin ada perubahan. Meski biasanya gak ngaruh sama sekali. Kau tau, gue gak pernah sukses puasa. Pun di bulan ramadhan. Dan utang-utang yang makin menumpuk itu tak pernah terbayar.
Meski, omong-omong soal sahur, persiapan ini pun sudah dimulai sejak kemarin. Berhubung irawan, tetangga sebelah rumah gue dengan rela kompornya dibajak (ini sebenarnya kompor warisan yang ditinggalkan fadli, penghuni lama), gue jadi berfikir aneh-aneh. Yang mau masaklah, meski bisa dipastikan ini nafsu sesaat. Tau sendiri gue paling males berepot-repot ria masak. Lagipun, gue cuma sendirian, siapa yang mau ngabisin masakan yang pastinya gak mungkin tersaji satu porsi tok. Minus rasa yang gak perlu diomongin dulu disini.
Maka, lepas dari niat luhur apa dibalik keinginan gue puasa itu, berbelanjalah gue untuk persiapan sahur selasa malam lalu. Meski rada bingung. Masak apa di tengah malam buta yang praktis dan tidak mubajir plus dengan peralatan masak yang seadanya?
Hm, pilihan cepat jatuh pada telur ceplok. So, berbelilah gue beras seliter seharga 4.000 perak, telur ayam seperempat kilo, mentega sachet, dan garam halus di warung depan rumah. Total semuanya sepuluh ribu lima ratus rupiah. Eh, plus yakult sebuah ding. Biasalah lapar mata melihat tampilannya yang terpajang di lemari pendingin malam itu.
Lalu sukseskah acara sahur selasa malam itu? sama sekali tidak.
Alarm pada hp memang sukses berdering-dering pada pukul 3.30 dini hari. Dan gue sukes terbangun pada deringannya yang petama. Tapi tak gue biarkan dia berdering lebih lama. Segera gue pasung dan gue kembali ke posisi awal memeluk guling gue satu-satunya itu.
Gue masih ngantuk berat. Alasan yang memberatkan adalah malam kemarin itu gue bahkan baru bangun menjelang pukul dua dini hari. Ngapain aja? Kan udah niat mau sahur? Biasalah. Malam itu tiba-tiba saja gue tertarik untuk transfer gambar yang udah diambil sejak desember lalu (kamera baru bo! Lumix lz 30). Dan, karena ini kali pertama gue pegang kamera digital, agak-agak makan waktu lah untuk urusan-urusan teknis yang gue gak ngerti.
Belum lagi kemudian gue terpesona sendiri sama hasil gambar yang gue dapet. Trus pengen ngerubah ini itu. Klik sana klik sini sampai tengah malam.
Ah, ada gangguan lain juga sebenarnya. Capek karena gak berhasil merubah gambar seperti yang gue mau trus stel teve (ehm! Teve baru juga bo! Meski masih agak mangkel dengan gambarnya yang gak stabil meski sudah dipasangin antena luar). Klik sana klik sini.
Hah, tayangan tengah malam memang memanjakan libido siapapun yang telah tumbuh hormon testetoronnya. Meski kadang dibuat-buat. Ada tayangan ”fenomena klasik”nya trans teve yang malam itu berkisah tentang Mata Hari yang dibawain Djenar Mahesa Ayu dengan dandanan yang (sengaja) dibuat seksi. Atau tayangan tengah malamnya lativi dengan macam-macam judul yang gue gak hafal. Semuanya saru-saru (kenapa ka Oma tak pernah ribut soal ini?). Yang sempet terekam adalah tampilan Rahma Azhari sang host acara yang malam itu juga kelihatannya sengaja dibuat sesensual mungkin.
Isi acara pun dibuat macam-macam yang menggugah selera. (termasuk gue malam itu yang sampai kelepasan tidur jam 2 dini hari. Haha...) Omong soal atm kondomlah, sex toy lah. Halakabrah lah pokoknya. Eh, sempat lihat diskusinya metro tv yang omong soal UU pornografi yang nampilin Ayu Utami sebagai salah satu pembahas. Tapi, berhubung gambar metro adalah gambar terjelek di teve gue, males lah lama-lama noton tayangan dengan gambar yang kabur sana kabur sini.
Eh, gagal dengan niat puasa di hari sebelumnya bukannya meluntur tapi makin menebal pada hari berikutnya. Apalagi rabu siang kemarin gue semakin merasa bersalah dengan pola makan yang sudah tertelan. Jam sepuluh pagi dah makan berat. Siang jam 1 makan berat lagi. Lha, sore jam empat, belum sempat rasanya nasi terolah dengan baik, sudah makan mie ayam dengan menu lengkap. Ada bakso plus pangsit rebus. Alhasil perut terasa sesak dan ukuran panggul ke bawah ini semakin memberat saja. Belum lagi aktifitas kerja yang semakin menabalkan memberatnya ukuran panggul ke bawah itu.
Maka, untuk mengurangi rasa bersalah gue putuskan untuk keluar kantor sebentar untuk jalan kaki mengitari jalan borobudur sejenak kemarin sore itu. Bermula dari jalan borobudur no.4, ambil jalur kiri keluar proklamasi, lurus melewati megaria lalu masuk jalan mendut. Lurus terus melewati radio prambors, kantor kontras dan kembali ke borobudur no.4.
Berhasil mengurangi lemak? Entah lah. Yang jelas berhasil menguatkan niat bahwa gue memang harus berpuasa esok hari.
Maka, meski pulang dari borobudur dalam jam yang tidak bisa dikatakan sore, rabu malam kemarin alarm kembali terpasang pada pukul 3.30 dinihari. Yap, gue berhasil bangun. Berhasil membuat langkah maju karena meski gue terbangun lebih awal semata karena kebelet ingin buang air kecil (pengaruh obat yang malam itu gue minum?) gue gak lantas mengambil posisi untuk tidur lagi. Melainkan segera mematikan alarm yang belum sempat berdering dan mencuci segenggam beras.
Ya sesenggam. Bukankah tak adalagi orang yang makan kecuali gue sendiri dini hari itu? Meski tak yakin dengan hasilnya (mengingat tampilannya yang hanya berupa air dengan bulir-bulir beras yang melayang disana sini) gue nyalakan rice cooker. gue perkirakan 30 menit matang. Tapi karena lagi-lagi gue tak yakin dengan tampilannya, maka gue setia menunggu proses memasaknya. Gue memperkirakan nasi ini akan gosong.
Sambil menunggu gue sempat membersihkan peralatan yang akan gue gunakan untuk menceplok telur dini hari itu. Ah, saat mempersiapkan peralatan, ingatan gue melayang-layang ke sesuatu. (haruskah gue tulis disini?)
Gue sedang tak ingin bersentimentil. Tapi beberapa perabot ini gue beli saat gue punya temen dekat dan kami belanja bersama saat gue baru pindah-pindahan kos. Perabot yang lumayan lengkap untuk ukuran anak kos. Beberapa atas usulnya yang sesungguhnya gak pernah gue pikir. Termasuk membeli rice cooker. Mengingat prinsip gue selalu: kalau ada yang jualan sate, kenapa harus beli kambing?
Gue ingat, gue pun tengah keranjingan mengkoleksi perlengkapan makan minum saat itu. Maka terkumpullah sejumlah cangkir dan mug, piring dan mangkuk dengan bentuknya yang lucu-lucu. Semuanya tersimpan dalam dus sampai saat ini. Sempat terlintas untuk memajangnya kembali dalam rak (untuk itu gue harus membeli rak baru) tapi selalu ragu mengingat resam tinggal gue yang selalu temporer. Pindah sana pindah sini.
Beberapa memang gue pajang kembali kemarin. Terutama peralatan memasak mengingat gue baru mendapatkan kompor rampasan seperti yang sudah gue bilang. (heh, gue sengaja beli hang cooker di hero kemarin).
Eh, kembali ke acara masak memasak dini hari tadi, sambil menunggu nasi tanak gue coba-coba menyalakan kompor yang lagi-lagi gue gak yakin tampilannya itu. Kompor ini belum melewati uji kelayakan sejak ditinggalkan sang empunya. Tapi daripada berasumsi lebih baik mencobanya kan?
Maka gue ambil korek dan setusuk sumpit untuk menyalakan. Benar saja. Api memang sempat menyala. Tapi dalam nyala yang lumayan besar. Segera gue kecilkan. Hah, gue merasa api menyala dengan tidak wajar. Ia keluar dari jalurnya. Maka segera gue siram air sebelum segalanya terjadi. Sempat merasa ketar ketir. Gue memang agak phobi sama peralatan rumah. Api, gas, listrik. Sampai gue memutuskan, udahlah lupakan saja acara masak memasak sahur ini.
Lalu, bagaimana nasib yang beras yang sempat melayang-layang dan tertanak tadi?
Sebelum benar-benar gue nyalakan kompor, gue sempat ngintip penampakannya segera setelah tombol cook pada rice cooker berpindah tempat.
Guess what? Gue mendapatkan bentuk nasi yang aneh. Buliran nasi yang tersebar disana sini dengan lapisan seperti plastik di bawahnya. Lapisan ini seperti kalau kita memasak nasi liwet. Ia memang tidak gosong. Tetapi mewujud dalam bentuknya yang membuat gue takjub. Ia bisa diangkat tanpa meninggalkan jejak sebulir pun ditempatnya. Dan gue bisa melipat-lipat lingkaran nasi berlapis plastik itu menjadi sebentuk martabak. Meski tak termakan dan segera gue masukkan ke tempat sampah sesaat sebelum gue abadikan lewat ponsel gue dan azan subuh yang tiba-tiba mencuri waktu sahur gue.
Meski, omong-omong soal sahur, persiapan ini pun sudah dimulai sejak kemarin. Berhubung irawan, tetangga sebelah rumah gue dengan rela kompornya dibajak (ini sebenarnya kompor warisan yang ditinggalkan fadli, penghuni lama), gue jadi berfikir aneh-aneh. Yang mau masaklah, meski bisa dipastikan ini nafsu sesaat. Tau sendiri gue paling males berepot-repot ria masak. Lagipun, gue cuma sendirian, siapa yang mau ngabisin masakan yang pastinya gak mungkin tersaji satu porsi tok. Minus rasa yang gak perlu diomongin dulu disini.
Maka, lepas dari niat luhur apa dibalik keinginan gue puasa itu, berbelanjalah gue untuk persiapan sahur selasa malam lalu. Meski rada bingung. Masak apa di tengah malam buta yang praktis dan tidak mubajir plus dengan peralatan masak yang seadanya?
Hm, pilihan cepat jatuh pada telur ceplok. So, berbelilah gue beras seliter seharga 4.000 perak, telur ayam seperempat kilo, mentega sachet, dan garam halus di warung depan rumah. Total semuanya sepuluh ribu lima ratus rupiah. Eh, plus yakult sebuah ding. Biasalah lapar mata melihat tampilannya yang terpajang di lemari pendingin malam itu.
Lalu sukseskah acara sahur selasa malam itu? sama sekali tidak.
Alarm pada hp memang sukses berdering-dering pada pukul 3.30 dini hari. Dan gue sukes terbangun pada deringannya yang petama. Tapi tak gue biarkan dia berdering lebih lama. Segera gue pasung dan gue kembali ke posisi awal memeluk guling gue satu-satunya itu.
Gue masih ngantuk berat. Alasan yang memberatkan adalah malam kemarin itu gue bahkan baru bangun menjelang pukul dua dini hari. Ngapain aja? Kan udah niat mau sahur? Biasalah. Malam itu tiba-tiba saja gue tertarik untuk transfer gambar yang udah diambil sejak desember lalu (kamera baru bo! Lumix lz 30). Dan, karena ini kali pertama gue pegang kamera digital, agak-agak makan waktu lah untuk urusan-urusan teknis yang gue gak ngerti.
Belum lagi kemudian gue terpesona sendiri sama hasil gambar yang gue dapet. Trus pengen ngerubah ini itu. Klik sana klik sini sampai tengah malam.
Ah, ada gangguan lain juga sebenarnya. Capek karena gak berhasil merubah gambar seperti yang gue mau trus stel teve (ehm! Teve baru juga bo! Meski masih agak mangkel dengan gambarnya yang gak stabil meski sudah dipasangin antena luar). Klik sana klik sini.
Hah, tayangan tengah malam memang memanjakan libido siapapun yang telah tumbuh hormon testetoronnya. Meski kadang dibuat-buat. Ada tayangan ”fenomena klasik”nya trans teve yang malam itu berkisah tentang Mata Hari yang dibawain Djenar Mahesa Ayu dengan dandanan yang (sengaja) dibuat seksi. Atau tayangan tengah malamnya lativi dengan macam-macam judul yang gue gak hafal. Semuanya saru-saru (kenapa ka Oma tak pernah ribut soal ini?). Yang sempet terekam adalah tampilan Rahma Azhari sang host acara yang malam itu juga kelihatannya sengaja dibuat sesensual mungkin.
Isi acara pun dibuat macam-macam yang menggugah selera. (termasuk gue malam itu yang sampai kelepasan tidur jam 2 dini hari. Haha...) Omong soal atm kondomlah, sex toy lah. Halakabrah lah pokoknya. Eh, sempat lihat diskusinya metro tv yang omong soal UU pornografi yang nampilin Ayu Utami sebagai salah satu pembahas. Tapi, berhubung gambar metro adalah gambar terjelek di teve gue, males lah lama-lama noton tayangan dengan gambar yang kabur sana kabur sini.
Eh, gagal dengan niat puasa di hari sebelumnya bukannya meluntur tapi makin menebal pada hari berikutnya. Apalagi rabu siang kemarin gue semakin merasa bersalah dengan pola makan yang sudah tertelan. Jam sepuluh pagi dah makan berat. Siang jam 1 makan berat lagi. Lha, sore jam empat, belum sempat rasanya nasi terolah dengan baik, sudah makan mie ayam dengan menu lengkap. Ada bakso plus pangsit rebus. Alhasil perut terasa sesak dan ukuran panggul ke bawah ini semakin memberat saja. Belum lagi aktifitas kerja yang semakin menabalkan memberatnya ukuran panggul ke bawah itu.
Maka, untuk mengurangi rasa bersalah gue putuskan untuk keluar kantor sebentar untuk jalan kaki mengitari jalan borobudur sejenak kemarin sore itu. Bermula dari jalan borobudur no.4, ambil jalur kiri keluar proklamasi, lurus melewati megaria lalu masuk jalan mendut. Lurus terus melewati radio prambors, kantor kontras dan kembali ke borobudur no.4.
Berhasil mengurangi lemak? Entah lah. Yang jelas berhasil menguatkan niat bahwa gue memang harus berpuasa esok hari.
Maka, meski pulang dari borobudur dalam jam yang tidak bisa dikatakan sore, rabu malam kemarin alarm kembali terpasang pada pukul 3.30 dinihari. Yap, gue berhasil bangun. Berhasil membuat langkah maju karena meski gue terbangun lebih awal semata karena kebelet ingin buang air kecil (pengaruh obat yang malam itu gue minum?) gue gak lantas mengambil posisi untuk tidur lagi. Melainkan segera mematikan alarm yang belum sempat berdering dan mencuci segenggam beras.
Ya sesenggam. Bukankah tak adalagi orang yang makan kecuali gue sendiri dini hari itu? Meski tak yakin dengan hasilnya (mengingat tampilannya yang hanya berupa air dengan bulir-bulir beras yang melayang disana sini) gue nyalakan rice cooker. gue perkirakan 30 menit matang. Tapi karena lagi-lagi gue tak yakin dengan tampilannya, maka gue setia menunggu proses memasaknya. Gue memperkirakan nasi ini akan gosong.
Sambil menunggu gue sempat membersihkan peralatan yang akan gue gunakan untuk menceplok telur dini hari itu. Ah, saat mempersiapkan peralatan, ingatan gue melayang-layang ke sesuatu. (haruskah gue tulis disini?)
Gue sedang tak ingin bersentimentil. Tapi beberapa perabot ini gue beli saat gue punya temen dekat dan kami belanja bersama saat gue baru pindah-pindahan kos. Perabot yang lumayan lengkap untuk ukuran anak kos. Beberapa atas usulnya yang sesungguhnya gak pernah gue pikir. Termasuk membeli rice cooker. Mengingat prinsip gue selalu: kalau ada yang jualan sate, kenapa harus beli kambing?
Gue ingat, gue pun tengah keranjingan mengkoleksi perlengkapan makan minum saat itu. Maka terkumpullah sejumlah cangkir dan mug, piring dan mangkuk dengan bentuknya yang lucu-lucu. Semuanya tersimpan dalam dus sampai saat ini. Sempat terlintas untuk memajangnya kembali dalam rak (untuk itu gue harus membeli rak baru) tapi selalu ragu mengingat resam tinggal gue yang selalu temporer. Pindah sana pindah sini.
Beberapa memang gue pajang kembali kemarin. Terutama peralatan memasak mengingat gue baru mendapatkan kompor rampasan seperti yang sudah gue bilang. (heh, gue sengaja beli hang cooker di hero kemarin).
Eh, kembali ke acara masak memasak dini hari tadi, sambil menunggu nasi tanak gue coba-coba menyalakan kompor yang lagi-lagi gue gak yakin tampilannya itu. Kompor ini belum melewati uji kelayakan sejak ditinggalkan sang empunya. Tapi daripada berasumsi lebih baik mencobanya kan?
Maka gue ambil korek dan setusuk sumpit untuk menyalakan. Benar saja. Api memang sempat menyala. Tapi dalam nyala yang lumayan besar. Segera gue kecilkan. Hah, gue merasa api menyala dengan tidak wajar. Ia keluar dari jalurnya. Maka segera gue siram air sebelum segalanya terjadi. Sempat merasa ketar ketir. Gue memang agak phobi sama peralatan rumah. Api, gas, listrik. Sampai gue memutuskan, udahlah lupakan saja acara masak memasak sahur ini.
Lalu, bagaimana nasib yang beras yang sempat melayang-layang dan tertanak tadi?
Sebelum benar-benar gue nyalakan kompor, gue sempat ngintip penampakannya segera setelah tombol cook pada rice cooker berpindah tempat.
Guess what? Gue mendapatkan bentuk nasi yang aneh. Buliran nasi yang tersebar disana sini dengan lapisan seperti plastik di bawahnya. Lapisan ini seperti kalau kita memasak nasi liwet. Ia memang tidak gosong. Tetapi mewujud dalam bentuknya yang membuat gue takjub. Ia bisa diangkat tanpa meninggalkan jejak sebulir pun ditempatnya. Dan gue bisa melipat-lipat lingkaran nasi berlapis plastik itu menjadi sebentuk martabak. Meski tak termakan dan segera gue masukkan ke tempat sampah sesaat sebelum gue abadikan lewat ponsel gue dan azan subuh yang tiba-tiba mencuri waktu sahur gue.
Tuesday, December 13, 2005
gue yang semakin gendut, malas, dan egois
kata-kata gendut, malas, dan egois sesungguhnya tak punya korelasi yang baik untuk sebuah kalimat. kata gendut mungkin saja berhubungan dengan malas. tapi rasanya agak jauh bila harus disandingkan dengan kata egois. meski, bila dicari korelasi yang sekedar basa basi tentu tetaplah ada benang (kenapa selalu di sandingkan dengan kata merah?) yang menghubungkan ketiganya. apalagi kalau bukan sama-sama berbentuk kata sifat yang berkonotasi negatif. dan itulah yang akhir-akhir ini tengah dengan leluasanya bersarang dalam tubuh gue yang menyedihkan ini.
kata sifat pertama, gendut
waktu kuliah jaman 90-an dulu gue sempat mengalami bentuk tubuh ini. meski (entah sekedar menyenangkan hati) banyak temen gue yang bilang: "sebenarnya bukan gendut sih... tapi montok." haha...
timbangan saat itu berkisar antara 55-56 kilo. terasa benar badan susah bergerak. terutama untuk bagian pinggul ke bawah (ini entah merupakan anugrah atau justru nilai minus yang harus diperhatikan serius, bahwasannya bila mengikuti pola bentuk tubuh yang banyak disiarkan media mode, bentuk tubuh gue termasuk pola buah pir. alias membesar di bagian bawah). yang paling menjengkelkan adalah susahnya mencari mode baju yang pas dan enak dipandang mata (u know what, ukuran pinggang celana gue 30-31!)
beberapa tahun berikutnya entah mengapa banyak teman lama yang baru kembali bertemu merasa pangling dengan perubahan pada bentuk badan gue setelah itu. "eh ini atun yang dulu gemuk itu kan?" "ya ampun... lu kok kurus banget? abis make ya..."
ya ampun... gue sendiri sempat heran dengan reaksi temen-temen gue yang aneh itu. sebegitu drastis kah bentuk badan gue saat itu? meski timbangan tak pernah bergerak jauh dari angka 50 dan ukuran celana tetap 30 gue memang sempat merasa begitu merdekanya karena bisa dengan leluasa memilih model baju dan merasa heran, kok gampang ya cari ukuran badan gue sekarang? (hehe.. gue sempet menjalani diet swadaya sih meski tak selalu sukses. kau tau gue paling susah puasa makan dan resep diet saat itu tentu mengikuti prinsip pasar yang telah populer: makan nasi sesedikit-dikitnya dengan kuah sayur sebanyak-banyaknya. plus olah raga. meski cuma senam amatir!)
dan hari-hari belakangan ini rasa cemas akan makin gendutnya tubuh gue datang lagi. bukan sekedar cemas melainkan telah menjadi realita yang tak terbantahkan. gejala pertama adalah, bagian tubuh yang semakin memberat di bagian bawah. ini sebenarnya bukan kejadian tiba-tiba. setahun kemarin gue sempat merasa shock mendapati kenyataan bahwa satu-satunya kebaya yang gue punya namun belum pernah sekalipun gue pake mulai tak muat saat gue menjajal ulang. dan shock itu semakin menjadi saat kemarin gue pake baju renang dan tampak timbunan perut gue yang membuncit. omigod, menyedihkan betul bentuk tubuh gue sekarang...
sifat kedua, malas
ah, tanpa harus gue tulis panjang lebar pun kau pasti tau ini sifat bawaan yang susah banget enyah dari tubuh gue. hampir dapat dipastikan, tulisan ini pun tak dapat diselesaikan dengan baik karena rasa malas itu mulai datang lagi dan gue hanya bisa berjanji bahwa gue akan menyelesaikan bagian ini dan terakhir nanti. so, see u or kill me...
kata sifat pertama, gendut
waktu kuliah jaman 90-an dulu gue sempat mengalami bentuk tubuh ini. meski (entah sekedar menyenangkan hati) banyak temen gue yang bilang: "sebenarnya bukan gendut sih... tapi montok." haha...
timbangan saat itu berkisar antara 55-56 kilo. terasa benar badan susah bergerak. terutama untuk bagian pinggul ke bawah (ini entah merupakan anugrah atau justru nilai minus yang harus diperhatikan serius, bahwasannya bila mengikuti pola bentuk tubuh yang banyak disiarkan media mode, bentuk tubuh gue termasuk pola buah pir. alias membesar di bagian bawah). yang paling menjengkelkan adalah susahnya mencari mode baju yang pas dan enak dipandang mata (u know what, ukuran pinggang celana gue 30-31!)
beberapa tahun berikutnya entah mengapa banyak teman lama yang baru kembali bertemu merasa pangling dengan perubahan pada bentuk badan gue setelah itu. "eh ini atun yang dulu gemuk itu kan?" "ya ampun... lu kok kurus banget? abis make ya..."
ya ampun... gue sendiri sempat heran dengan reaksi temen-temen gue yang aneh itu. sebegitu drastis kah bentuk badan gue saat itu? meski timbangan tak pernah bergerak jauh dari angka 50 dan ukuran celana tetap 30 gue memang sempat merasa begitu merdekanya karena bisa dengan leluasa memilih model baju dan merasa heran, kok gampang ya cari ukuran badan gue sekarang? (hehe.. gue sempet menjalani diet swadaya sih meski tak selalu sukses. kau tau gue paling susah puasa makan dan resep diet saat itu tentu mengikuti prinsip pasar yang telah populer: makan nasi sesedikit-dikitnya dengan kuah sayur sebanyak-banyaknya. plus olah raga. meski cuma senam amatir!)
dan hari-hari belakangan ini rasa cemas akan makin gendutnya tubuh gue datang lagi. bukan sekedar cemas melainkan telah menjadi realita yang tak terbantahkan. gejala pertama adalah, bagian tubuh yang semakin memberat di bagian bawah. ini sebenarnya bukan kejadian tiba-tiba. setahun kemarin gue sempat merasa shock mendapati kenyataan bahwa satu-satunya kebaya yang gue punya namun belum pernah sekalipun gue pake mulai tak muat saat gue menjajal ulang. dan shock itu semakin menjadi saat kemarin gue pake baju renang dan tampak timbunan perut gue yang membuncit. omigod, menyedihkan betul bentuk tubuh gue sekarang...
sifat kedua, malas
ah, tanpa harus gue tulis panjang lebar pun kau pasti tau ini sifat bawaan yang susah banget enyah dari tubuh gue. hampir dapat dipastikan, tulisan ini pun tak dapat diselesaikan dengan baik karena rasa malas itu mulai datang lagi dan gue hanya bisa berjanji bahwa gue akan menyelesaikan bagian ini dan terakhir nanti. so, see u or kill me...
Kesempatan
Apakah semua orang memiliki potensi yang sama? Atau ia lahir dengan bakatnya masing-masing? Bila semua orang diberi kesempatan yang sama, pendidikan yang sama, apakah mereka akan memiliki kemampuan yang sama? Kemahiran yang sama?
Friday, October 07, 2005
kesempatan yang kuabaikan hari ini
seminggu yang lalu aku mendapat sms.
"anda dinyatakan lolos seleksi tahap satu..." bla.. bla.. bla...
awalnya ku pikir sms penipuan yang mengabarkan kita berhasil memenangkan sesuatu dan karenanya kita harus berbuat sesuatu sesuai dengan permintaan pengirim. (hari gini..?!)
kubaca lagi dengan seksama.
"lihat pengumuman di www.p2kp.org. untuk konfirmasi hubungi 021-...."
o, p2kp. aku pernah ngirim lamaran kesini ya? ya... ya... aku ingat. waktu ada lowongan di aceh aku sempat kirim lamaran dulu. entah lewat apa. email? pos surat? aku tak ingat lagi. hanya ingat aku memang sempat buat lamaran sana-sini. mencoba-coba melempar manggis. mana tau mendapat mangga. skedar usaha mendapat sesuatu yang baru (3 tahun di demos membuat aku merasa stagnan. status kontrak terus. gaji tak tambah. ilmu apalagi. dan riset ini praktis akan berakhir november besok).
tapi aku pun lalu tak begitu antusias membaca sms itu. ngirit banget sih ini orang. masak mau merekrut orang aja mesti kita yang menghubungi?
toh begitu sempat ku intip webnya. terdapat banner pengumuman peserta yang dinyatakan lolos seleksi 1 dan berhak melanjutkan ke seleksi berikutnya (lho?! kapan seleksi pertamanya dilakukan?). ada sejumlah nama disitu. termasuk pengumuman bahwa pelaksanaan tes selanjutnya adalah tes psikotest yang akan dilangsung senin 3 oktober 2005 jam 8.00 pagi di universitas tarumanegara sebelah kampus trisakti grogol. wah, makin malas aku.
pertama, kampus itu letaknya jauh. dan aku harus berangkat pagi-pagi. hrrrr....
kedua, psikotes? ampun lah. tes macam apa pula ini? apa yang bisa diharap dari tes ini? memprediksi kemampuan dan mental seseorang berdasar deret angka hasil jawaban orang yang belum tentu sedang bagus mood-nya saat menjawab soal-soal dalam hitngan detik itu. apalagi dikerjakan dalam keadaan perut kosong berjam-jam.
beberapa kali aku mengikuti tes ini. yang polanya sama dari tahun ke tahun. menggambar, berhitung, mencari lawan kata, mengingat sesuatu. aku makin merasa bodoh. apalagi kalau masuk soal hitung menghitung. membuat aku berfikir, apa hubungannya semua ini dengan posisi yang akan kita lamar? (aku pernah ikut 7 tahap seleksi untuk calon reporter kompas. pun tempo. meski masih tak nyambung apa hubungannya semua itu dengan dunia reportase dan jurnalisme? kenapa kualifikasi seseorang tidak diukur berdasar cv dan hasil karya seseorang? untuk memastikan sang pelamar tak berbohong toh bisa diverifikasi pada saat wawancara)
ketiga, seperti yang aku bilang, lembaga ini tampaknya tak serius merekrut orang. masak hanya bermodal sms.
maka dengan begitu kuputuskan untuk tidak mengindahkan pengumuman ini. sampai jumat siang lalu seseorang menelponku.
"hallo, mbak? kenapa kemarin gak datang tes?"
"o, saya gak bisa mbak. senin pagi saya ada acara". aku menjawab asal. asal kau tau, aku tidur sepanjang pagi itu.
"o, kita masih ada tes susulan kalau mau, besok tanggal 7 oktober. tempatnya nanti saya sms".
ya.. ya.. aku sempat menjawab antusias. tak menyangka mereka akan menguhungi ku. sebuah sms masuk. mengabarkan tes psikotes susulan. tanggal 7 oktober. tempat yang sama. jam yang sama. aku sempat gamang. hm, should i prepare my self to do this?
meski aku sempat membesarkan hati. bukankah aku ingin ke aceh? meski aku belum tau apa yang akan aku kerjakan disana. berapa lama masa tugas ku disana.
hm lagi, sebenarnya aku sama sekali tak buta tentag p2kp. aku pernah bekerja pada lembaga yang sama hampir 6 tahun yanglalu. saat p2kp tengah tumbuh menjadi lembaga baru. ini salah satu binaan world bank sebenarnya. program utamanya adalah memberikan kredit pada rakyat kelas menengah dan kecil untuk melakukan usaha.
maka jadilah lembaga ini. program pengentasan kemiskinan di wilayah perkotan yang kemudian disingkat menjadi p2kp.
program ini pun sebenarnya merupakan program revisi dari jps yang sempat booming tahun 99 lalu. dalam rangka memberi kail bagi rakyat kecil. tapi sering kali hanya berupa formaltas dan merupakan aksi bagi uang belaka.
aku sempat bertugas di wilayah klender dulu. sebagai fasilitator. mendampingi masyarakat membuat proposal untuk mendapatkan bantuan pinjaman. kami bertiga ditempatkan di satu kelurahan dulu. tiap fasilitator berhonor satu juta rupiah per bulan plus insentif 2% dari proposal yang berhasil dicairkan dananya. dana pinjaman minimal 5.000.000 maksimal 20.000.000. dengan masa pembayaran 1-2 tahun. bunga sekitar 15 samapi 20%.
dapat diduga selalu ada intrik disini. baik antar warga atau sesama fasilitator itu sendiri. insentif proposal selain memacu kerja para fasilitator untuk ulet menjaring "klien" juga menjadi sumber konflik yang sering tak terelakkan. masing-masing bergiat mencari dampingan demi mendapat insentif yang lebih besar. aku sempat merasa tak nyaman dengan cara kerja ini. sempat terjadi konflik laten antara kami. ditambah kondisiku yang jarang datang mengingat jarak tinggal yang jauh dan aku masih harus kuliah. aku sempat disidang menghadap ibu direktur saat itu.
sempat menyangka persoalan tak akan menjadi demikian besar. meski banyak juga teman-teman yang mendukungku saat itu akhirnya aku mermutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang tentu saja aku anggap sangat tak sehat itu.
aku pun tak menyangka lembaga ini akan membesar. tak pernah ku temui lagi teman-teman ku dulu (jumlah mereka sebenarnya cukup besar. mengingat untuk jakarta saja terdapat lebih dari 100 keluarahan yang masing-masig kelurahan di"tanam" 3-5 fasilitaor. belum lagi di daerah botabek)sampai ku dengar lowongan untuk mengisi posisi di aceh itu. kata terakhir inilah yang sesunguhnya memikat hati.
aku ingin ke aceh. bukan karena p2kp itu sendiri. aku memprediksi pekerjaan yang tak jauh berbeda dengan apa yang pernah aku lakukan dulu. dan telepon jumat siang itu sempat kembali meneguhkan lagi keinginanku.
come on, u can do it! lagi pun aku fikir aku pasti bisa berangkat jumat pagi tanggal 7 oktober itu. bukankah setelah sahur aku bisa berjaga-jaga dan memprsiapkan diri untuk berangkat.
meski menjelang hari h ternyata aku tak puasa. tetap kupersiapkan diri untuk bangun pagi. aku sempat membeli panganan untuk esok hari dan memasang alarm pukul 6. meski aku telat beranjak tidur malam tadi. lewat pukul 1 dinihri aku masih terjaga. (aku masih mencintai malam dan membenci pagi saat kita harus bergegas menyongsong hari).
benar saja. saat alarm berbunyi mataku masih berat luar biasa. kepalaku makin pusing membayangkan pola psikotes membosankan yang harus aku jalanai. sempat terjadi perang batin (mungkinkah pengaruh tin di kamarku?) sebelum aku kembali menset alarm pukul 6.30.
waktu berlalu dan aku tak bisa kembali tidur pun terjaga. manimbang-nimbang betapa bebal dan menyebalkannya diriku. mengambil atau membiarkan kesempatan ini berlalu. satu-satunya hal yang memberatkan ku adalah soal aceh. this is my chance (but not the last).
hal lainnya yang agak memberatkan ketidakhadiran ku pagi ini di psikotes itu adalah makin tak terujinya kredibilitasku untuk bergiat mendapatkan sesuatu. dasar pemalas. sempat ku paksa diri beranjak ke kamar mandi sebelum aku memutuskan: bukan ini yang aku mau. maka kubiarkan waktu berlalu dalam tubuh yang kembali terlelap (oh, aku sempat mengirim beberapa sms). que sera, sera..
"anda dinyatakan lolos seleksi tahap satu..." bla.. bla.. bla...
awalnya ku pikir sms penipuan yang mengabarkan kita berhasil memenangkan sesuatu dan karenanya kita harus berbuat sesuatu sesuai dengan permintaan pengirim. (hari gini..?!)
kubaca lagi dengan seksama.
"lihat pengumuman di www.p2kp.org. untuk konfirmasi hubungi 021-...."
o, p2kp. aku pernah ngirim lamaran kesini ya? ya... ya... aku ingat. waktu ada lowongan di aceh aku sempat kirim lamaran dulu. entah lewat apa. email? pos surat? aku tak ingat lagi. hanya ingat aku memang sempat buat lamaran sana-sini. mencoba-coba melempar manggis. mana tau mendapat mangga. skedar usaha mendapat sesuatu yang baru (3 tahun di demos membuat aku merasa stagnan. status kontrak terus. gaji tak tambah. ilmu apalagi. dan riset ini praktis akan berakhir november besok).
tapi aku pun lalu tak begitu antusias membaca sms itu. ngirit banget sih ini orang. masak mau merekrut orang aja mesti kita yang menghubungi?
toh begitu sempat ku intip webnya. terdapat banner pengumuman peserta yang dinyatakan lolos seleksi 1 dan berhak melanjutkan ke seleksi berikutnya (lho?! kapan seleksi pertamanya dilakukan?). ada sejumlah nama disitu. termasuk pengumuman bahwa pelaksanaan tes selanjutnya adalah tes psikotest yang akan dilangsung senin 3 oktober 2005 jam 8.00 pagi di universitas tarumanegara sebelah kampus trisakti grogol. wah, makin malas aku.
pertama, kampus itu letaknya jauh. dan aku harus berangkat pagi-pagi. hrrrr....
kedua, psikotes? ampun lah. tes macam apa pula ini? apa yang bisa diharap dari tes ini? memprediksi kemampuan dan mental seseorang berdasar deret angka hasil jawaban orang yang belum tentu sedang bagus mood-nya saat menjawab soal-soal dalam hitngan detik itu. apalagi dikerjakan dalam keadaan perut kosong berjam-jam.
beberapa kali aku mengikuti tes ini. yang polanya sama dari tahun ke tahun. menggambar, berhitung, mencari lawan kata, mengingat sesuatu. aku makin merasa bodoh. apalagi kalau masuk soal hitung menghitung. membuat aku berfikir, apa hubungannya semua ini dengan posisi yang akan kita lamar? (aku pernah ikut 7 tahap seleksi untuk calon reporter kompas. pun tempo. meski masih tak nyambung apa hubungannya semua itu dengan dunia reportase dan jurnalisme? kenapa kualifikasi seseorang tidak diukur berdasar cv dan hasil karya seseorang? untuk memastikan sang pelamar tak berbohong toh bisa diverifikasi pada saat wawancara)
ketiga, seperti yang aku bilang, lembaga ini tampaknya tak serius merekrut orang. masak hanya bermodal sms.
maka dengan begitu kuputuskan untuk tidak mengindahkan pengumuman ini. sampai jumat siang lalu seseorang menelponku.
"hallo, mbak? kenapa kemarin gak datang tes?"
"o, saya gak bisa mbak. senin pagi saya ada acara". aku menjawab asal. asal kau tau, aku tidur sepanjang pagi itu.
"o, kita masih ada tes susulan kalau mau, besok tanggal 7 oktober. tempatnya nanti saya sms".
ya.. ya.. aku sempat menjawab antusias. tak menyangka mereka akan menguhungi ku. sebuah sms masuk. mengabarkan tes psikotes susulan. tanggal 7 oktober. tempat yang sama. jam yang sama. aku sempat gamang. hm, should i prepare my self to do this?
meski aku sempat membesarkan hati. bukankah aku ingin ke aceh? meski aku belum tau apa yang akan aku kerjakan disana. berapa lama masa tugas ku disana.
hm lagi, sebenarnya aku sama sekali tak buta tentag p2kp. aku pernah bekerja pada lembaga yang sama hampir 6 tahun yanglalu. saat p2kp tengah tumbuh menjadi lembaga baru. ini salah satu binaan world bank sebenarnya. program utamanya adalah memberikan kredit pada rakyat kelas menengah dan kecil untuk melakukan usaha.
maka jadilah lembaga ini. program pengentasan kemiskinan di wilayah perkotan yang kemudian disingkat menjadi p2kp.
program ini pun sebenarnya merupakan program revisi dari jps yang sempat booming tahun 99 lalu. dalam rangka memberi kail bagi rakyat kecil. tapi sering kali hanya berupa formaltas dan merupakan aksi bagi uang belaka.
aku sempat bertugas di wilayah klender dulu. sebagai fasilitator. mendampingi masyarakat membuat proposal untuk mendapatkan bantuan pinjaman. kami bertiga ditempatkan di satu kelurahan dulu. tiap fasilitator berhonor satu juta rupiah per bulan plus insentif 2% dari proposal yang berhasil dicairkan dananya. dana pinjaman minimal 5.000.000 maksimal 20.000.000. dengan masa pembayaran 1-2 tahun. bunga sekitar 15 samapi 20%.
dapat diduga selalu ada intrik disini. baik antar warga atau sesama fasilitator itu sendiri. insentif proposal selain memacu kerja para fasilitator untuk ulet menjaring "klien" juga menjadi sumber konflik yang sering tak terelakkan. masing-masing bergiat mencari dampingan demi mendapat insentif yang lebih besar. aku sempat merasa tak nyaman dengan cara kerja ini. sempat terjadi konflik laten antara kami. ditambah kondisiku yang jarang datang mengingat jarak tinggal yang jauh dan aku masih harus kuliah. aku sempat disidang menghadap ibu direktur saat itu.
sempat menyangka persoalan tak akan menjadi demikian besar. meski banyak juga teman-teman yang mendukungku saat itu akhirnya aku mermutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang tentu saja aku anggap sangat tak sehat itu.
aku pun tak menyangka lembaga ini akan membesar. tak pernah ku temui lagi teman-teman ku dulu (jumlah mereka sebenarnya cukup besar. mengingat untuk jakarta saja terdapat lebih dari 100 keluarahan yang masing-masig kelurahan di"tanam" 3-5 fasilitaor. belum lagi di daerah botabek)sampai ku dengar lowongan untuk mengisi posisi di aceh itu. kata terakhir inilah yang sesunguhnya memikat hati.
aku ingin ke aceh. bukan karena p2kp itu sendiri. aku memprediksi pekerjaan yang tak jauh berbeda dengan apa yang pernah aku lakukan dulu. dan telepon jumat siang itu sempat kembali meneguhkan lagi keinginanku.
come on, u can do it! lagi pun aku fikir aku pasti bisa berangkat jumat pagi tanggal 7 oktober itu. bukankah setelah sahur aku bisa berjaga-jaga dan memprsiapkan diri untuk berangkat.
meski menjelang hari h ternyata aku tak puasa. tetap kupersiapkan diri untuk bangun pagi. aku sempat membeli panganan untuk esok hari dan memasang alarm pukul 6. meski aku telat beranjak tidur malam tadi. lewat pukul 1 dinihri aku masih terjaga. (aku masih mencintai malam dan membenci pagi saat kita harus bergegas menyongsong hari).
benar saja. saat alarm berbunyi mataku masih berat luar biasa. kepalaku makin pusing membayangkan pola psikotes membosankan yang harus aku jalanai. sempat terjadi perang batin (mungkinkah pengaruh tin di kamarku?) sebelum aku kembali menset alarm pukul 6.30.
waktu berlalu dan aku tak bisa kembali tidur pun terjaga. manimbang-nimbang betapa bebal dan menyebalkannya diriku. mengambil atau membiarkan kesempatan ini berlalu. satu-satunya hal yang memberatkan ku adalah soal aceh. this is my chance (but not the last).
hal lainnya yang agak memberatkan ketidakhadiran ku pagi ini di psikotes itu adalah makin tak terujinya kredibilitasku untuk bergiat mendapatkan sesuatu. dasar pemalas. sempat ku paksa diri beranjak ke kamar mandi sebelum aku memutuskan: bukan ini yang aku mau. maka kubiarkan waktu berlalu dalam tubuh yang kembali terlelap (oh, aku sempat mengirim beberapa sms). que sera, sera..
another stupid thing
ini jaringan internet bener-bener bikin gondok.
lambreta lalalala...
padahal gue lagi pengen nulis banyak.
padahal gue lagi gak banyak kerjaan.
padahal mood gue lagi bagus.
tapi kepentok sama hal tehnis yang gue sendiri gak bisa ngatasin
bikin enek dan membuyarkan semua keinginan.
selalu kayak gini.
kalau kita tengah mengingnkan sesuatu
harus jatuh bangun dulu untuk bisa meraihnya
sampai ia datang kita udah gak kepengen lagi menyentuhnya.
lambreta lalalala...
padahal gue lagi pengen nulis banyak.
padahal gue lagi gak banyak kerjaan.
padahal mood gue lagi bagus.
tapi kepentok sama hal tehnis yang gue sendiri gak bisa ngatasin
bikin enek dan membuyarkan semua keinginan.
selalu kayak gini.
kalau kita tengah mengingnkan sesuatu
harus jatuh bangun dulu untuk bisa meraihnya
sampai ia datang kita udah gak kepengen lagi menyentuhnya.
Monday, October 03, 2005
Bangsa gila
"ledakan bom bali mengalihkan perhatian terhadap ledakan bbm. kerjaan siapa..."
lewat tengah malam sebuah sms masuk ke ponselku. beberapa jam setelah aku menyaksikan tayangan sela yang mengabarkan tiga ledakan yang terjadi di jimbaran dan kuta bali.
"entahlah. ini bangsa gila. negaranya bangkrut. orang-orangnya lebih suka memakan sesama." jawabku kesal. bagaimana mungkin ledakan itu masih bisa terjadi lagi? aku pusing. geram. membayangkan hidup yang makin tak aman.
membayangkan keamanan yang makin diperketat. menyerahkan tas kita untuk diperiksa setiap kali kita menghadiri sesuatu. meskipun bukan di tempat formal. bahkan dipasar tradisional sekalipun. (aku teringat pada peristiwa pengeboman di pasar tentena). membayangkan ruang lingkup yang makin terbatas. menghindar pusat-pusat keramaian karena takut nyawa melayang sia-sia (sebelum ini pun rasa was-was sudah meninggi. makan makanan beracun, wabah yang disebakan burung liar, ditabrak pengedara motor yang sedang ngelamun, ditodong pencopet di bus sementara kita tak punya uang). hidup kita jadi tergantung pada orang lain. (dan aku sempat ragu untuk masuk ke gedung 21 yang tengah memutar film yang kontroversial)
lepas dari kontroversi tentang otonomi khusus yang dimintakan oleh pemda yang bali yang konon akan menjadikannya wilayah yang eksklusif, termasuk terhadap kaum minoritas muslim disana, lepas dari pandangan-pandangan kritis yang menyayangkan kondisi wisata bali yang makin menjadikannya jauh dari natural(wajar saja ia kan telah jadi tempat wisata internasional), aku menyukai tempai ini. salah satu tempat (seperti yang pernah aku bilang) dimana kita bisa mengeksperikan diri tanpa takut tatapan aneh orang-orang sekitar. tempat dimana kita bisa bebas berjalan-jalan meskipun hanya menggunakan cawat. tempat dimana kita bisa dengan bebas menikmati keindahan pantainya tanpa harus bayar tiket masuk (meski kadang ada juga perlakuan diskriminatif terhadap turis lokal dibanding turis luar), aku mencintai tempat ini.
dan kita menjadi begitu paranoid. saling curiga satu sama lain. aku sendiri tak pernah bisa mengerti bagaimana mungkin fenomena bom bunuh diri bisa terjadi juga disini? sering membayangkan apa yang dibayangkan seseorang yang telah memasrahkan diri menjadi pengebom? bagaimana perasaannya sesaat menjelang eksekusi? apakah mereka hanya manusia-manusia klon yang tak lagi punya nurani dan akal sehat?
aku pusing. ini bangsa gila. negaranya bangkrut. orang-orangnya lebih suka memakan sesama.
lewat tengah malam sebuah sms masuk ke ponselku. beberapa jam setelah aku menyaksikan tayangan sela yang mengabarkan tiga ledakan yang terjadi di jimbaran dan kuta bali.
"entahlah. ini bangsa gila. negaranya bangkrut. orang-orangnya lebih suka memakan sesama." jawabku kesal. bagaimana mungkin ledakan itu masih bisa terjadi lagi? aku pusing. geram. membayangkan hidup yang makin tak aman.
membayangkan keamanan yang makin diperketat. menyerahkan tas kita untuk diperiksa setiap kali kita menghadiri sesuatu. meskipun bukan di tempat formal. bahkan dipasar tradisional sekalipun. (aku teringat pada peristiwa pengeboman di pasar tentena). membayangkan ruang lingkup yang makin terbatas. menghindar pusat-pusat keramaian karena takut nyawa melayang sia-sia (sebelum ini pun rasa was-was sudah meninggi. makan makanan beracun, wabah yang disebakan burung liar, ditabrak pengedara motor yang sedang ngelamun, ditodong pencopet di bus sementara kita tak punya uang). hidup kita jadi tergantung pada orang lain. (dan aku sempat ragu untuk masuk ke gedung 21 yang tengah memutar film yang kontroversial)
lepas dari kontroversi tentang otonomi khusus yang dimintakan oleh pemda yang bali yang konon akan menjadikannya wilayah yang eksklusif, termasuk terhadap kaum minoritas muslim disana, lepas dari pandangan-pandangan kritis yang menyayangkan kondisi wisata bali yang makin menjadikannya jauh dari natural(wajar saja ia kan telah jadi tempat wisata internasional), aku menyukai tempai ini. salah satu tempat (seperti yang pernah aku bilang) dimana kita bisa mengeksperikan diri tanpa takut tatapan aneh orang-orang sekitar. tempat dimana kita bisa bebas berjalan-jalan meskipun hanya menggunakan cawat. tempat dimana kita bisa dengan bebas menikmati keindahan pantainya tanpa harus bayar tiket masuk (meski kadang ada juga perlakuan diskriminatif terhadap turis lokal dibanding turis luar), aku mencintai tempat ini.
dan kita menjadi begitu paranoid. saling curiga satu sama lain. aku sendiri tak pernah bisa mengerti bagaimana mungkin fenomena bom bunuh diri bisa terjadi juga disini? sering membayangkan apa yang dibayangkan seseorang yang telah memasrahkan diri menjadi pengebom? bagaimana perasaannya sesaat menjelang eksekusi? apakah mereka hanya manusia-manusia klon yang tak lagi punya nurani dan akal sehat?
aku pusing. ini bangsa gila. negaranya bangkrut. orang-orangnya lebih suka memakan sesama.
Friday, September 30, 2005
malam sepi menjelang kenaikan bbm
Sudah dua hari ini aku tak kemana-mana. Sengaja mengurung di kamar demi menyelesaikan tulisan yang harus disetor senin besok.
Tapi malam ini pertahanan itu rontok juga. Tak sengaja.
Pagi tadi lewat radio (aku belum juga sempat beli tv ;-/) sempat ku dengar kabar tentang aksi demo besar-besaran menuntut tak dilakukannya kenaikan bbm yang konon akan berlangsung secara estafet sampai hari minggu besok.
Semua berlalu begitu saja. Aksi ini sudah bisa diduga sebelumnya. Bukan aksi pertama. Dan biaya yang harus dikeluarkan seringkali tak sebanding dengan hasil yang diharapkan.
pun, ini bukan aksi yang pertama. Dan pemerintah telah membentengi diri sedemikian rupa saat mengeluarkan kebijakan klise ini. negara bangkrut maka rakyat yang harus menanggungnya (hey, kenapa tak dihapus saja semua subsidi yang diterima para pejabat itu? Mereka tak penah pusing memikirkan besarnya uang bulanan yang harus keluar untuk membayar tagihan listrik, telepon bahkan bensin).
Lagipula, seperti aku bilang, sudah dua hari ini aku tak kemana-mana. Tak kontak siapa-siapa. Sampai-sampai ibu kos ku mengetuk pintu kamar menanyakan apakah aku baik-baik saja. Ia takut aku pingsan atau apa. (sempat terbayang pula kisah tragis beberapa anak kos yang ditemukan beberapa hari kemudian dengan tubuh yang sudah membusuk karena tak ada yang tau keberadaannya).
Sebuah telpon sempat masuk kemarin. Dari suryanto. Pengajar di sanggar ciliwung. Mengabarkan bahwa ia tak bisa menemaniku ke oktagon rabu ini. Sebuah acara yang sesungguhnya pernah aku agendakan karena konon studio itu tengah sale besar-besaran dan aku tengah membutuhkan lensa tambahan untuk keperluan berburu fotoku. Well, karena (lagi-lagi) aku tengah tak ingin kemana-mana, jadi telponnya tak berarti apa-apa bagiku.
Kuabaikan pula niat untuk mengabarkan adanya aksi demonstrasi besar-besaran ini pada luthfi, teman yang sangat ingin mengabadikan aksi berdemonstrasi. ”aku ingin bisa ngedapetin eksperi wajah-wajah waktu demo,” katanya belum lama ini.
ya belum lama ini. karena minggu kemarin baru saja aku menghabiskan hari dengannya menyusuri daerah kota untuk berburu foto. Mulai dari gedung museum bank depan stasiun beos sampai pelabuhan sunda kelapa.
Sebuah perjalanan yang sesungguhnya diluar settingku sebelumnya. Ia tergila-gila betul mengambil wajah orang. Menunggu obyeknya berlama-lama demi mendapatkan ekspresi wajah yang diinginkan. Sementara aku paling menghindar mengambil obyek ini.
karena orang biasanya menjadi tak natural saat tau ia akan diambil gambarnya.
”itulah makanya aku suka susah nyari temen jalan bareng. Suka gak nyambung chemistry-nya”, katanya melihat aku bersungut-sungut saat menunggunya. Bukan apa-apa, yang membuat aku mendongkol tak keruan adalah karena ternyata ia naksir berat dengan kamera ku dan mengambil wajah-wajah itu dengan kamera yang sesungguhnya ingin aku gadai itu. Aku jadi nganggur dan dengan setia menunggunya. Bah! Bahkan saat kusampaikan niatan ku untuk menggadaikan kamera itu, ia malah menawarnya dengan harga yang tak pantas. Pukimak! kata orang melayu (sebuah kata saru yang telah menjadi common sense bagi orang melayu tentunya).
Tapi kalimat terakhirnya itu diam-diam aku benarkan dalam hati. Ya, memang susah mencari orang yang bisa nyambung chemistry-nya. Mencari belahan jiwa. Begitu judul lagu-lagu klise pernah bilang. Aku membenarkan demi melegitimasi kesendirianku saat ini.
well, kembali ke paragraf awal, kuurungkan niatku untuk mengabari berita yang ku dengar pagi ini. ia pasti tau berita ini. jadi tak perlu buang pulsa yang tak perlu. Lagi pula, seperti yang aku bilang, aku tengah tak ingin kontak siapa-siapa saat ini.
tentu saja aku sempat keluar sebentar. Sekedar mencari makan lalu kembali termenung di depan layar komputer mengira-ira apa yang perlu aku tulis untuk kemudian aku hapus kembali. Waktu berlalu dengan duduk atau tidur saat kepalaku terasa berat tak tau apalagi yang harus aku tulis. Entah lebih besar mana porsinya. Tidur atau terjaga. Yang jelas punggungku sempat terasa nyeri dan terasa bongkok.
Malam ini pertahanan untuk tetap mengurung diri di kamar itu akhirnya rontok juga. Tak sengaja.
Awalnya aku hanya berniat keluar sebentar untuk mencari makan. Seperti biasa. Aku tak masak dan malas masak. Tapi tukang sate yang biasa aku liat mangkal di depan jalan itu ternyata tak ada. Mungkin juga pulang kampung menjelang puasa ini. mungkin juga tengah khawatir dengan isu flu burung yang tengah ganas-ganasnya. Entahlah. Aku sendiri sempat makan sate ayam malam sebelumnya sebelum aksi pengurungan ini berlaku. Tak ada kekhawatiran yang berarti meski pagi setelah aku terjaga aku sempat buang-buang air tak biasa. Ini mungkin tak ada hubungannya. Namun disebabkan tukang sate yang malam ini tak terlihat batang hidungnya itu aku lantas berfikir keras. Makan apa aku malam ini. sempat terlintas untuk makan sate atau sop kambing. Mungkin berguna untuk menambah gairah dan mengurangi rasa pegal di tubuhku (haha.. ini logika yang sungguh tak masuk akal). Yang jelas aku butuh sesuatu yang menyengat malam ini. seharian ini aku makan makanan yang sungguh tak menggugah selera. Sesuatu yang terlalu banyak unsur karbohidrat sementara aku sangat menyukai sesuatu yang berlemak (meski kesukaanku pada sesuatu yang berlemak kadang-kadang belaka. Kalau kau tanya apa menu favoritku? Aku akan menjawab cepat: seafood!)
Aku berfikir keras dimana bisa mendapatkan sate atau sop kambing yang malam ini sungguh ingin aku nikmati itu. Setauku tak ada di daerah sini. Aku terus berjalan menyusuri jalan surabaya. Sempat ku rasakan kesegaran mengingat aku benar-benar tak kemana-mana dua hari ini. Sampai aku punya pilihan. Cikini atau jalan sabang. Ya, jalan sabang. Ide yang bagus. Aku tak terlalu sering makan di sana. Hanya beberapa kali saat diajak makan bersama orang-orang yang kadang tak sengaja pula aku temui. Dan rasanya tak aneh bila malam ini aku menyambangi jalan itu. Lagi pun transportnya tak terlalu susah. Cukup sekali naik 502 lalu mengangsurkan selembar uang ribuan pada sang kernet, maka sampailah ia (ini sesungguhnya tarif tak resmi. Namun aku dapat menambah 500 rupiah bila ia menagihku. No big deal).
Tadinya aku fikir aku tak akan mendapatkan bus malam ini. Mengingat aksi demo hari ini. Mungkin saja beberapa angkutan melakukan aksi mogok. Meski kekhawatiranku ternyata memang berlebihan. Ku temui jalan yang sepi. Ini tak biasa. Baru menjelang pukul tujuh saat aku keluar tadi. Dan kota ini belum tertidur pada jam-jam seperti ini.
Malam ini memang terasa tak biasa. Seorang laki-laki sempat menegurku saat aku melintas jembatan tadi (arsitekturnya aku suka. Aku menduganya warisan masa kolonial). ”Mau kemana, mbak?,” aku mengacuhkannya. Namun sempat kutoleh sejenak wajahnya. Khawatir ia seseorang yang aku kenal. Karena tak biasanya ada orang yang menyapaku dengan sengaja. Ah, hanya tukang ojek yang tengah mencari peruntungannya malam ini.
Aku menunggu sejenak sebelum mendapatkan bus yang aku perlukan malam ini. sempat merenung akan niatan perjalananku malam ini. untunglah aku gunakan dengan benar penutup kepala ku malam ini. meski baju kumal tak karuan bergaya ala hippies dan tak sempat ku kenakan bra malam ini. haha... aku tau tak akan ada yang akan mengenaliku malam ini. kadang aku senang dengan kondisi ini. kondisi dimana kita tak mengenal dengan baik satu sama lain dan kita bebas melakukan apa pun yang kita mau. Lalu anganku melayang jauh. Aku sering melakukan ini. berjalan seorang diri dengan angan-angan yang melayang jauh... (mungkinkah ada orang yang bernasib sama dengan aku?)
Aku tau banyak yang bisa aku dapatkan di jalan sabang ini. Sagala aya. Namun aku langsung tergoda saat ku lalui sebuah warung yang menyediakan masakan makassar. Hm, tulisan coto itu sungguh menggugah selera. Sudah lama aku tak menikmatinya. Kutepis godaan itu. Perjalananku belum jauh benar. Baru saja melangkah. Lagi pula bukankah aku ingin makan sate atau sop kambing malam ini? nyatanya aku tak mampu menahan godaan kedua saat kembali kulewati warung makan makassar kedua. Sudahlah. Tampaknya aku memang harus berlabuh disini. Lagipula warung ini tampak tak seeksklusif yang pertama tadi. Meski ternyata harganya lumayan juga (aku menghabiskan satu setengah ikat buras plus es jeruk sebagai penyegar rasa dan harus membayar 16.000 untuk kegilaanku malam ini). Aku sering terbayang-bayang saat beberapa kali pernah mencoba coto yang asli makassar. Dan rasanya harganya tak mahal-mahal betul. Temanku pernah bilang, kalau mau, dengan uang tiga ribu kita bisa mendapatkan semangkuk coto yang rasanya tak kalah dengan harga diatasnya. Aku tak percaya. Namun tak membatahnya. Kadang tempat memang menentukan harga.
Kesegaran yang malam ini sempat aku rasakan rasanya tak ingin dengan cepat aku tinggalkan. Maka dengan sengaja aku susuri keramaian jalan ini. Ah, kota memang belum tidur ternyata. Meski aku sempat heran dengan kondisi sepanjang jalan yang sempat aku lalui tadi. Dan aku baru menyadari bahwa aku menempuh perjalanan dalam tempo yang singkat. Mungkin juga pengaruh dari lamunanku yang tak menyadarkan aku akan waktu yang telah tertempuh tadi. Yang sempat teringat, tak kutemui jalan yang macet di jalan cikini menuju tugu tani tadi.
Kemana orang-orang menyembunyikan diri malam ini? mungkin ke pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat makan seperti yang aku lakukan malam ini. meski tak sengaja. ada banyak tempat makan seperti. Sepanjang jalan yang dipenuhi warung makan semi permanen. Jalan ini sendiri mengingatkan ku pada tempat makan menteng. Meski tak persis betul. Menteng baru hidup petang saat malam menjelang. Sedang sabang sudah menggeliat sejak pagi menghadang. Ah, hanya dua tempat inilah yang aku kenali betul. Lainnya aku tak hafal betul. Meski aku sempat melewati daerah casablanca dan kutemui sebuah jalan dengan kondisi yang sama. Ramai dengan warung makan semi permanen. Tempat dimana kita bisa memilih menu apapun walau kadang dengan harga yang di luar kebiasaan.
aku nikmati rasa keterasinganku malam ini. (Ah, aku mulai lelah dan mulai tak fokus dengan tulisan ku sendiri saat ini). menyadari detil kecil yang sering aku abaikan selama ini (sampai saat ini aku masih bermasalah dalam menghapal jalan). berjalan melewati sarinah. Sempat berhenti sejenak melihat film apa yang tengah tayang di djakarta teater saat ini (ah, flight plan telah main) dan tertegun bingung memutuskan arah mana yang akan aku pilih menuju pulang malam ini. kuabaikan pilihan menuju kebun sirih. Ku putuskan untuk meneruskan perjalanan melewati bundaran hi. Bukan jalur yang singkat sebenarnya. Apalagi kalau kita lalui pada siang saat matahari tengah pamer-pamernya. Namun bukankah aku tengah ingin melanjutkan angan-anganku yang sedang ingin mengembara malam ini? lagi pula, mungkin ada sesuatu yang tersisa bekas aksi siang tadi.
maka kuputuskan berjalan dengan menghibur hati bahwa aku membutuhkan sedikit gerak dan keringat yang mengalir sejak aksi pengurungan ku dua hari ini. sesuatu pasti akan kembali melintas saat kita menemui kembali tempat atau jalan yang pernah kita lalui. Dengan beragam kenangan yang terjadi di dalamnya. Ku lihat gedung tempat undp memarkaskan diri. Aku ingat malam saat ikut aksi melawan terorisme dan menentang kebijakan as yang diskriminatif. Kami melakukan long march malam itu dari bunderan hi sampai depan kedubes as. Sempat singgah di depan kantor undp ini. Dan aku kembali melakukan dejavu aksi berjalan kaki itu malam ini. Sendiri.
Ah, aku belum ingin menutup tulisan ini sampai disini. Masih ada yang ingin aku sampaikan. Mungkin tak penting. Tapi aku sungguh merasa heran dengan rasa sepi yang kutemui malam ini? kemana orang-orang menyembunyikan diri malam ini? kenapa jalan tampak begitu lengang? Sempat ku lewati sarinah tadi. Tampaknya tetap ada kehidupan disana. Meski tak kutemui jalan macet luar biasa seperti yang biasa kita temui karena banyak mobil antri untuk mendapatkan tempat parkir. Kulewati pula plaza ex yang mengingatkanku pada pengalaman pertama saat menonton innocent voices didalamnya (mungkinkah dapat kutemui lagi kesempatan emas itu?). mungkinkah orang-orang juga tengah berkumpul didalamnya? Menghabiskan malam melepaskan rasa penat dan kepusingan dengan kondisi bangsa yang diancam kebangrutan ini? (kalimat ini mengingatkan aku pada pertanyaan ae yang disampaikan dua hari yang lalu. Sudah adakah yang menawarkan ganti kewarganegaraan? Negara ini sebentar lagi bangkrut!)
Harapanku untuk dapat menemui sisa-sisa kebesaran aksi siang tadi tampaknya sia-sia belaka. Kutemui bunderan hi yang gelap. Dengan air mancur yang sama sekali tak menyala. Tak ada polisi militer yang biasanya berjaga-jaga di sekitarnya. Kecuali seorang saja yang tengah menunggu posnya. (hal yang berlawanan saat aku melewati kantor gubernur tadi. Banyak lampu hias berkelap kelip. cantik. Sutiyoso memang genit. Ah, kutemui kondisi tak biasa pula disini. Jalur di depan kedutaan amerika tampaknya sudah mulai melebar kini. Meski tak lepas dari patroli para polisi yang siaga dengan senapan mereka. Pagar kokoh berlapis dan polisi yang siap siaga itu sempat mengingatkanku pada rasa schrizoponia yang tengah dilanda pemerintah as saat ini. siapa suruh membuat kebijakan yang tak populis? Siapa suruh mengobarkan perang?)
Pertanyaan itu kembali meruap. Kemana orang-orang menyembunyikan diri? Juga para polisi itu? Apakah mereka masih terkonsentrasi untuk mengamankan wilayah ring 1 dan 2 di medan merdeka sana? Tak kutemui jawaban pasti. Aku pun tak berminat tau lebih jauh. Lagipun, rasanya tak ada orang yang bisa memuaskan keherananku malam ini.
Ku pandangi sejenak patung selamat datang yang membisu itu. Temaram cahaya menyinarinya. Ah, sebuah arsitektur yang luar biasa memang. Diletakkan di pusat kota dengan panorama hotel indonesia di hadapannya. Hotel yang pernah menjadi kebanggaan sukarno dan bangsa indonesia. Namun kini kondisinya mengkhawatirkan. Sebelum kembali dipugar dan tak tau akan jadi apa nanti. Aku sempat mengambil gambar minggu kemarin. Tentu dengan keterbatasan lensa yang ada. Aku belum lihat hasilnya. Namun agak sulit saat mencari sudut yang tepat kemarin. Terganggu dengan keberadaan alat-alat berat yang tengah memugar hotel bersejarah itu.
Saat melewati bundaran yang senyap malam ini pun (dalam kondisi seperti ini tak terlihat hasil pugaran air mancur yang konon kabarnya menghabiskan dana 16 milyar!) aku sudah mempersiapkan diri bila memang tak ada bus yang bisa membawaku kembali. Meski aku terus berdoa banyak-banyak semoga kemungkinan buruk itu tak benar-benar terjadi. Aku ingin naik bus malam ini. dan tak ingin (lagi) menghabiskan dana percuma untuk menempuh jarak yang sesungguhnya tak seberapa itu dengan taksi. (aku semakin menyadari bahwa memang tempat tinggalku saat ini memang sungguh strategis. Meski tak terlalu nyaman).
Rupanya tuhan memang tengah bermurah hati malam ini. ku jumpai bus pertama sebelum sempat aku meletakkan pantatku saat aku berniat sabar menunggu dengan cara duduk di pinggir trotoar. Dan hey, welcome home! Meski aku malah melupakan tugas utamaku menyelesaikan tulisan yang ingin ku serahkan besok dan lebih memilih menulis nuansa yang ku temui malam ini.
Tapi malam ini pertahanan itu rontok juga. Tak sengaja.
Pagi tadi lewat radio (aku belum juga sempat beli tv ;-/) sempat ku dengar kabar tentang aksi demo besar-besaran menuntut tak dilakukannya kenaikan bbm yang konon akan berlangsung secara estafet sampai hari minggu besok.
Semua berlalu begitu saja. Aksi ini sudah bisa diduga sebelumnya. Bukan aksi pertama. Dan biaya yang harus dikeluarkan seringkali tak sebanding dengan hasil yang diharapkan.
pun, ini bukan aksi yang pertama. Dan pemerintah telah membentengi diri sedemikian rupa saat mengeluarkan kebijakan klise ini. negara bangkrut maka rakyat yang harus menanggungnya (hey, kenapa tak dihapus saja semua subsidi yang diterima para pejabat itu? Mereka tak penah pusing memikirkan besarnya uang bulanan yang harus keluar untuk membayar tagihan listrik, telepon bahkan bensin).
Lagipula, seperti aku bilang, sudah dua hari ini aku tak kemana-mana. Tak kontak siapa-siapa. Sampai-sampai ibu kos ku mengetuk pintu kamar menanyakan apakah aku baik-baik saja. Ia takut aku pingsan atau apa. (sempat terbayang pula kisah tragis beberapa anak kos yang ditemukan beberapa hari kemudian dengan tubuh yang sudah membusuk karena tak ada yang tau keberadaannya).
Sebuah telpon sempat masuk kemarin. Dari suryanto. Pengajar di sanggar ciliwung. Mengabarkan bahwa ia tak bisa menemaniku ke oktagon rabu ini. Sebuah acara yang sesungguhnya pernah aku agendakan karena konon studio itu tengah sale besar-besaran dan aku tengah membutuhkan lensa tambahan untuk keperluan berburu fotoku. Well, karena (lagi-lagi) aku tengah tak ingin kemana-mana, jadi telponnya tak berarti apa-apa bagiku.
Kuabaikan pula niat untuk mengabarkan adanya aksi demonstrasi besar-besaran ini pada luthfi, teman yang sangat ingin mengabadikan aksi berdemonstrasi. ”aku ingin bisa ngedapetin eksperi wajah-wajah waktu demo,” katanya belum lama ini.
ya belum lama ini. karena minggu kemarin baru saja aku menghabiskan hari dengannya menyusuri daerah kota untuk berburu foto. Mulai dari gedung museum bank depan stasiun beos sampai pelabuhan sunda kelapa.
Sebuah perjalanan yang sesungguhnya diluar settingku sebelumnya. Ia tergila-gila betul mengambil wajah orang. Menunggu obyeknya berlama-lama demi mendapatkan ekspresi wajah yang diinginkan. Sementara aku paling menghindar mengambil obyek ini.
karena orang biasanya menjadi tak natural saat tau ia akan diambil gambarnya.
”itulah makanya aku suka susah nyari temen jalan bareng. Suka gak nyambung chemistry-nya”, katanya melihat aku bersungut-sungut saat menunggunya. Bukan apa-apa, yang membuat aku mendongkol tak keruan adalah karena ternyata ia naksir berat dengan kamera ku dan mengambil wajah-wajah itu dengan kamera yang sesungguhnya ingin aku gadai itu. Aku jadi nganggur dan dengan setia menunggunya. Bah! Bahkan saat kusampaikan niatan ku untuk menggadaikan kamera itu, ia malah menawarnya dengan harga yang tak pantas. Pukimak! kata orang melayu (sebuah kata saru yang telah menjadi common sense bagi orang melayu tentunya).
Tapi kalimat terakhirnya itu diam-diam aku benarkan dalam hati. Ya, memang susah mencari orang yang bisa nyambung chemistry-nya. Mencari belahan jiwa. Begitu judul lagu-lagu klise pernah bilang. Aku membenarkan demi melegitimasi kesendirianku saat ini.
well, kembali ke paragraf awal, kuurungkan niatku untuk mengabari berita yang ku dengar pagi ini. ia pasti tau berita ini. jadi tak perlu buang pulsa yang tak perlu. Lagi pula, seperti yang aku bilang, aku tengah tak ingin kontak siapa-siapa saat ini.
tentu saja aku sempat keluar sebentar. Sekedar mencari makan lalu kembali termenung di depan layar komputer mengira-ira apa yang perlu aku tulis untuk kemudian aku hapus kembali. Waktu berlalu dengan duduk atau tidur saat kepalaku terasa berat tak tau apalagi yang harus aku tulis. Entah lebih besar mana porsinya. Tidur atau terjaga. Yang jelas punggungku sempat terasa nyeri dan terasa bongkok.
Malam ini pertahanan untuk tetap mengurung diri di kamar itu akhirnya rontok juga. Tak sengaja.
Awalnya aku hanya berniat keluar sebentar untuk mencari makan. Seperti biasa. Aku tak masak dan malas masak. Tapi tukang sate yang biasa aku liat mangkal di depan jalan itu ternyata tak ada. Mungkin juga pulang kampung menjelang puasa ini. mungkin juga tengah khawatir dengan isu flu burung yang tengah ganas-ganasnya. Entahlah. Aku sendiri sempat makan sate ayam malam sebelumnya sebelum aksi pengurungan ini berlaku. Tak ada kekhawatiran yang berarti meski pagi setelah aku terjaga aku sempat buang-buang air tak biasa. Ini mungkin tak ada hubungannya. Namun disebabkan tukang sate yang malam ini tak terlihat batang hidungnya itu aku lantas berfikir keras. Makan apa aku malam ini. sempat terlintas untuk makan sate atau sop kambing. Mungkin berguna untuk menambah gairah dan mengurangi rasa pegal di tubuhku (haha.. ini logika yang sungguh tak masuk akal). Yang jelas aku butuh sesuatu yang menyengat malam ini. seharian ini aku makan makanan yang sungguh tak menggugah selera. Sesuatu yang terlalu banyak unsur karbohidrat sementara aku sangat menyukai sesuatu yang berlemak (meski kesukaanku pada sesuatu yang berlemak kadang-kadang belaka. Kalau kau tanya apa menu favoritku? Aku akan menjawab cepat: seafood!)
Aku berfikir keras dimana bisa mendapatkan sate atau sop kambing yang malam ini sungguh ingin aku nikmati itu. Setauku tak ada di daerah sini. Aku terus berjalan menyusuri jalan surabaya. Sempat ku rasakan kesegaran mengingat aku benar-benar tak kemana-mana dua hari ini. Sampai aku punya pilihan. Cikini atau jalan sabang. Ya, jalan sabang. Ide yang bagus. Aku tak terlalu sering makan di sana. Hanya beberapa kali saat diajak makan bersama orang-orang yang kadang tak sengaja pula aku temui. Dan rasanya tak aneh bila malam ini aku menyambangi jalan itu. Lagi pun transportnya tak terlalu susah. Cukup sekali naik 502 lalu mengangsurkan selembar uang ribuan pada sang kernet, maka sampailah ia (ini sesungguhnya tarif tak resmi. Namun aku dapat menambah 500 rupiah bila ia menagihku. No big deal).
Tadinya aku fikir aku tak akan mendapatkan bus malam ini. Mengingat aksi demo hari ini. Mungkin saja beberapa angkutan melakukan aksi mogok. Meski kekhawatiranku ternyata memang berlebihan. Ku temui jalan yang sepi. Ini tak biasa. Baru menjelang pukul tujuh saat aku keluar tadi. Dan kota ini belum tertidur pada jam-jam seperti ini.
Malam ini memang terasa tak biasa. Seorang laki-laki sempat menegurku saat aku melintas jembatan tadi (arsitekturnya aku suka. Aku menduganya warisan masa kolonial). ”Mau kemana, mbak?,” aku mengacuhkannya. Namun sempat kutoleh sejenak wajahnya. Khawatir ia seseorang yang aku kenal. Karena tak biasanya ada orang yang menyapaku dengan sengaja. Ah, hanya tukang ojek yang tengah mencari peruntungannya malam ini.
Aku menunggu sejenak sebelum mendapatkan bus yang aku perlukan malam ini. sempat merenung akan niatan perjalananku malam ini. untunglah aku gunakan dengan benar penutup kepala ku malam ini. meski baju kumal tak karuan bergaya ala hippies dan tak sempat ku kenakan bra malam ini. haha... aku tau tak akan ada yang akan mengenaliku malam ini. kadang aku senang dengan kondisi ini. kondisi dimana kita tak mengenal dengan baik satu sama lain dan kita bebas melakukan apa pun yang kita mau. Lalu anganku melayang jauh. Aku sering melakukan ini. berjalan seorang diri dengan angan-angan yang melayang jauh... (mungkinkah ada orang yang bernasib sama dengan aku?)
Aku tau banyak yang bisa aku dapatkan di jalan sabang ini. Sagala aya. Namun aku langsung tergoda saat ku lalui sebuah warung yang menyediakan masakan makassar. Hm, tulisan coto itu sungguh menggugah selera. Sudah lama aku tak menikmatinya. Kutepis godaan itu. Perjalananku belum jauh benar. Baru saja melangkah. Lagi pula bukankah aku ingin makan sate atau sop kambing malam ini? nyatanya aku tak mampu menahan godaan kedua saat kembali kulewati warung makan makassar kedua. Sudahlah. Tampaknya aku memang harus berlabuh disini. Lagipula warung ini tampak tak seeksklusif yang pertama tadi. Meski ternyata harganya lumayan juga (aku menghabiskan satu setengah ikat buras plus es jeruk sebagai penyegar rasa dan harus membayar 16.000 untuk kegilaanku malam ini). Aku sering terbayang-bayang saat beberapa kali pernah mencoba coto yang asli makassar. Dan rasanya harganya tak mahal-mahal betul. Temanku pernah bilang, kalau mau, dengan uang tiga ribu kita bisa mendapatkan semangkuk coto yang rasanya tak kalah dengan harga diatasnya. Aku tak percaya. Namun tak membatahnya. Kadang tempat memang menentukan harga.
Kesegaran yang malam ini sempat aku rasakan rasanya tak ingin dengan cepat aku tinggalkan. Maka dengan sengaja aku susuri keramaian jalan ini. Ah, kota memang belum tidur ternyata. Meski aku sempat heran dengan kondisi sepanjang jalan yang sempat aku lalui tadi. Dan aku baru menyadari bahwa aku menempuh perjalanan dalam tempo yang singkat. Mungkin juga pengaruh dari lamunanku yang tak menyadarkan aku akan waktu yang telah tertempuh tadi. Yang sempat teringat, tak kutemui jalan yang macet di jalan cikini menuju tugu tani tadi.
Kemana orang-orang menyembunyikan diri malam ini? mungkin ke pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat makan seperti yang aku lakukan malam ini. meski tak sengaja. ada banyak tempat makan seperti. Sepanjang jalan yang dipenuhi warung makan semi permanen. Jalan ini sendiri mengingatkan ku pada tempat makan menteng. Meski tak persis betul. Menteng baru hidup petang saat malam menjelang. Sedang sabang sudah menggeliat sejak pagi menghadang. Ah, hanya dua tempat inilah yang aku kenali betul. Lainnya aku tak hafal betul. Meski aku sempat melewati daerah casablanca dan kutemui sebuah jalan dengan kondisi yang sama. Ramai dengan warung makan semi permanen. Tempat dimana kita bisa memilih menu apapun walau kadang dengan harga yang di luar kebiasaan.
aku nikmati rasa keterasinganku malam ini. (Ah, aku mulai lelah dan mulai tak fokus dengan tulisan ku sendiri saat ini). menyadari detil kecil yang sering aku abaikan selama ini (sampai saat ini aku masih bermasalah dalam menghapal jalan). berjalan melewati sarinah. Sempat berhenti sejenak melihat film apa yang tengah tayang di djakarta teater saat ini (ah, flight plan telah main) dan tertegun bingung memutuskan arah mana yang akan aku pilih menuju pulang malam ini. kuabaikan pilihan menuju kebun sirih. Ku putuskan untuk meneruskan perjalanan melewati bundaran hi. Bukan jalur yang singkat sebenarnya. Apalagi kalau kita lalui pada siang saat matahari tengah pamer-pamernya. Namun bukankah aku tengah ingin melanjutkan angan-anganku yang sedang ingin mengembara malam ini? lagi pula, mungkin ada sesuatu yang tersisa bekas aksi siang tadi.
maka kuputuskan berjalan dengan menghibur hati bahwa aku membutuhkan sedikit gerak dan keringat yang mengalir sejak aksi pengurungan ku dua hari ini. sesuatu pasti akan kembali melintas saat kita menemui kembali tempat atau jalan yang pernah kita lalui. Dengan beragam kenangan yang terjadi di dalamnya. Ku lihat gedung tempat undp memarkaskan diri. Aku ingat malam saat ikut aksi melawan terorisme dan menentang kebijakan as yang diskriminatif. Kami melakukan long march malam itu dari bunderan hi sampai depan kedubes as. Sempat singgah di depan kantor undp ini. Dan aku kembali melakukan dejavu aksi berjalan kaki itu malam ini. Sendiri.
Ah, aku belum ingin menutup tulisan ini sampai disini. Masih ada yang ingin aku sampaikan. Mungkin tak penting. Tapi aku sungguh merasa heran dengan rasa sepi yang kutemui malam ini? kemana orang-orang menyembunyikan diri malam ini? kenapa jalan tampak begitu lengang? Sempat ku lewati sarinah tadi. Tampaknya tetap ada kehidupan disana. Meski tak kutemui jalan macet luar biasa seperti yang biasa kita temui karena banyak mobil antri untuk mendapatkan tempat parkir. Kulewati pula plaza ex yang mengingatkanku pada pengalaman pertama saat menonton innocent voices didalamnya (mungkinkah dapat kutemui lagi kesempatan emas itu?). mungkinkah orang-orang juga tengah berkumpul didalamnya? Menghabiskan malam melepaskan rasa penat dan kepusingan dengan kondisi bangsa yang diancam kebangrutan ini? (kalimat ini mengingatkan aku pada pertanyaan ae yang disampaikan dua hari yang lalu. Sudah adakah yang menawarkan ganti kewarganegaraan? Negara ini sebentar lagi bangkrut!)
Harapanku untuk dapat menemui sisa-sisa kebesaran aksi siang tadi tampaknya sia-sia belaka. Kutemui bunderan hi yang gelap. Dengan air mancur yang sama sekali tak menyala. Tak ada polisi militer yang biasanya berjaga-jaga di sekitarnya. Kecuali seorang saja yang tengah menunggu posnya. (hal yang berlawanan saat aku melewati kantor gubernur tadi. Banyak lampu hias berkelap kelip. cantik. Sutiyoso memang genit. Ah, kutemui kondisi tak biasa pula disini. Jalur di depan kedutaan amerika tampaknya sudah mulai melebar kini. Meski tak lepas dari patroli para polisi yang siaga dengan senapan mereka. Pagar kokoh berlapis dan polisi yang siap siaga itu sempat mengingatkanku pada rasa schrizoponia yang tengah dilanda pemerintah as saat ini. siapa suruh membuat kebijakan yang tak populis? Siapa suruh mengobarkan perang?)
Pertanyaan itu kembali meruap. Kemana orang-orang menyembunyikan diri? Juga para polisi itu? Apakah mereka masih terkonsentrasi untuk mengamankan wilayah ring 1 dan 2 di medan merdeka sana? Tak kutemui jawaban pasti. Aku pun tak berminat tau lebih jauh. Lagipun, rasanya tak ada orang yang bisa memuaskan keherananku malam ini.
Ku pandangi sejenak patung selamat datang yang membisu itu. Temaram cahaya menyinarinya. Ah, sebuah arsitektur yang luar biasa memang. Diletakkan di pusat kota dengan panorama hotel indonesia di hadapannya. Hotel yang pernah menjadi kebanggaan sukarno dan bangsa indonesia. Namun kini kondisinya mengkhawatirkan. Sebelum kembali dipugar dan tak tau akan jadi apa nanti. Aku sempat mengambil gambar minggu kemarin. Tentu dengan keterbatasan lensa yang ada. Aku belum lihat hasilnya. Namun agak sulit saat mencari sudut yang tepat kemarin. Terganggu dengan keberadaan alat-alat berat yang tengah memugar hotel bersejarah itu.
Saat melewati bundaran yang senyap malam ini pun (dalam kondisi seperti ini tak terlihat hasil pugaran air mancur yang konon kabarnya menghabiskan dana 16 milyar!) aku sudah mempersiapkan diri bila memang tak ada bus yang bisa membawaku kembali. Meski aku terus berdoa banyak-banyak semoga kemungkinan buruk itu tak benar-benar terjadi. Aku ingin naik bus malam ini. dan tak ingin (lagi) menghabiskan dana percuma untuk menempuh jarak yang sesungguhnya tak seberapa itu dengan taksi. (aku semakin menyadari bahwa memang tempat tinggalku saat ini memang sungguh strategis. Meski tak terlalu nyaman).
Rupanya tuhan memang tengah bermurah hati malam ini. ku jumpai bus pertama sebelum sempat aku meletakkan pantatku saat aku berniat sabar menunggu dengan cara duduk di pinggir trotoar. Dan hey, welcome home! Meski aku malah melupakan tugas utamaku menyelesaikan tulisan yang ingin ku serahkan besok dan lebih memilih menulis nuansa yang ku temui malam ini.
Wednesday, September 14, 2005
Stupid Job
ini pekerjaan yang sungguh menjemukan.
gak masuk akal.
bikin umur lebih tua dari siklus yang seharusnya.
benar-benar membosankan dan sering bikin gue memutuskan untuk resign aja.
gak masuk akal.
bikin umur lebih tua dari siklus yang seharusnya.
benar-benar membosankan dan sering bikin gue memutuskan untuk resign aja.
Menangis Semalam
inginnya tutup buku.
tak ingin lagi mengingat apapun. siapapun.
tapi tengah malam tadi airmata kembali tumpah. ruah.
ingat sesuatu. seseorang.
yang sungguh ingin bisa gue bebaskan pikiran gue sendiri dari segala kenangan dan harapan yang pernah terbentuk.
benci dan dendam tak bisa lagi dihempaskan. mungkin juga sedikit rasa rindu.
bikin sesak dan rasa sakit yang melelahkan.
tak bisakah kita melangkah tanpa mengingat masa lalu?!
tak ingin lagi mengingat apapun. siapapun.
tapi tengah malam tadi airmata kembali tumpah. ruah.
ingat sesuatu. seseorang.
yang sungguh ingin bisa gue bebaskan pikiran gue sendiri dari segala kenangan dan harapan yang pernah terbentuk.
benci dan dendam tak bisa lagi dihempaskan. mungkin juga sedikit rasa rindu.
bikin sesak dan rasa sakit yang melelahkan.
tak bisakah kita melangkah tanpa mengingat masa lalu?!
New Hair
abis potong rambut di yopi salon utan kayu.
kelihatan lebih fresh (kenapa juga harus ditutup?)
andai jilbab ini bisa berlaku seperti topi yang bisa dipake lepas kapanpun.
sebenarnya bisa aja begitu. guenya aja yang gak berani.
malas dengan gumaman orang-orang. meski pun dalam hati.
(dulu waktu masih kuliah di iain gue malah lebih cuek. bisa kemana-mana tanpa tudung. pengaruh jiwa muda barang kali. sekarang makin tambah umur makin banyak yang dipertimbangkan..)
kelihatan lebih fresh (kenapa juga harus ditutup?)
andai jilbab ini bisa berlaku seperti topi yang bisa dipake lepas kapanpun.
sebenarnya bisa aja begitu. guenya aja yang gak berani.
malas dengan gumaman orang-orang. meski pun dalam hati.
(dulu waktu masih kuliah di iain gue malah lebih cuek. bisa kemana-mana tanpa tudung. pengaruh jiwa muda barang kali. sekarang makin tambah umur makin banyak yang dipertimbangkan..)
Friday, September 09, 2005
Nightmare Comes True
lagi pengen belajar naek motor eh malah kecelakaan
sungguh gak nyangka gue akan babak belur seperti minggu malam kelabu itu
muka bonyok. pipi harus dijahit. mata gak bisa melek. dan bibir yang jontor gak bisa nelen makanan.
sempet trauma denger suara motor. dan berniat gak pengen naik motor lagi.
tapi malam ini niat itu goyah.
waktu ketemu temen yang naik scoter keren banget. keluaran tahun 62 katanya. dicat warna merah menyala. agak genit memang. tapi bikin hati makin kebat-kebit.
gue emang kepincut berat sama benda yang satu ini. apalagi setelah nonton aksinya kidman di "interpreter" dan maggie cheung di "clean". dua ibu ini tampak cool banget dengan skuter mereka.
beberapa hari sebelum ini gue juga sempet liat cewek dengan hondanya. keliatan keren gitu. soalnya disini kan jarang-jarang cewek bawa motor. tapi apa bisa ya gue seperti mereka?
sungguh gak nyangka gue akan babak belur seperti minggu malam kelabu itu
muka bonyok. pipi harus dijahit. mata gak bisa melek. dan bibir yang jontor gak bisa nelen makanan.
sempet trauma denger suara motor. dan berniat gak pengen naik motor lagi.
tapi malam ini niat itu goyah.
waktu ketemu temen yang naik scoter keren banget. keluaran tahun 62 katanya. dicat warna merah menyala. agak genit memang. tapi bikin hati makin kebat-kebit.
gue emang kepincut berat sama benda yang satu ini. apalagi setelah nonton aksinya kidman di "interpreter" dan maggie cheung di "clean". dua ibu ini tampak cool banget dengan skuter mereka.
beberapa hari sebelum ini gue juga sempet liat cewek dengan hondanya. keliatan keren gitu. soalnya disini kan jarang-jarang cewek bawa motor. tapi apa bisa ya gue seperti mereka?
Lagi Biru (lagi)
nyebelin gak sih...?! udah ngetik buat di posting terus ilang?!
gue pengen bilang gue lagi flu (lagi) nih.
ini kali kedua gue flu dalam tiga bulan terakhir.
kali kedua gue flu sejak kepindahan gue di rumah kontrakkan yang baru ini.
kata ucu temen gue, rumah itu emang gak sehat.
gak ada cahaya matahari masuk kalo siang.
udaranya berat (meski gue gak ngerti dengan istilah yang lebih mengingatkan gue pada lagunya franky sahilatua ini).
yang jelas gue emang semakin loyo sekarang.
semakin males ngapa-ngapain. males nulis. gak ada ide.
gak ada yang kasih semangat lagi... ;-(
gue pengen bilang gue lagi flu (lagi) nih.
ini kali kedua gue flu dalam tiga bulan terakhir.
kali kedua gue flu sejak kepindahan gue di rumah kontrakkan yang baru ini.
kata ucu temen gue, rumah itu emang gak sehat.
gak ada cahaya matahari masuk kalo siang.
udaranya berat (meski gue gak ngerti dengan istilah yang lebih mengingatkan gue pada lagunya franky sahilatua ini).
yang jelas gue emang semakin loyo sekarang.
semakin males ngapa-ngapain. males nulis. gak ada ide.
gak ada yang kasih semangat lagi... ;-(
Mandala Crush
meski gue kadang berangan-angan berada dalam suatu perjalanan untuk tak kembali,
namun sungguh gue gak ingin berada sebagai salah satu penumpang yang tubuhnya hancur lebur (beberapa bahkan tak teridentifikasi) dalam bencana kegagalan take off pesawat mandala di bandara polonia medan senin pagi 5 september lalu.
yang menyesakkan adalah, pesawat tersebut meledak di udara dan tubuhnya menimpa perumahan padat peduduk di padang bulan yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari bandara.
bagaimana menyaksikan tubuh yang tak tau menahu apa yang sebelumnya terjadi untuk kemudian hancur terbakar tertimba sesuatu ang tak dikehendaki?
apa salah manusia-manusia ini?
meski kadang gue suka ngelamun bila tengah berada dalam suatu perjalanan dan berharap kendaraan yang tengah gue tumpangi melaju pada tujuan yang tak tentu, namun percayalah gue gak ingin menjadi salah satu penumpang yang mati sia-sia seperti itu.
meski kadang gue ingin mati dan berada dalam perjalanan yang tak pernah kembali, tapi gue gak pernah ingin tubuh gue ditemukan dalam kondisi yang hancur, rusak, dan mengenaskan seperti itu.
inikah mati secara "husnul khatimah" yang gue idam-idamkan itu?
adakah doanya?
namun sungguh gue gak ingin berada sebagai salah satu penumpang yang tubuhnya hancur lebur (beberapa bahkan tak teridentifikasi) dalam bencana kegagalan take off pesawat mandala di bandara polonia medan senin pagi 5 september lalu.
yang menyesakkan adalah, pesawat tersebut meledak di udara dan tubuhnya menimpa perumahan padat peduduk di padang bulan yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari bandara.
bagaimana menyaksikan tubuh yang tak tau menahu apa yang sebelumnya terjadi untuk kemudian hancur terbakar tertimba sesuatu ang tak dikehendaki?
apa salah manusia-manusia ini?
meski kadang gue suka ngelamun bila tengah berada dalam suatu perjalanan dan berharap kendaraan yang tengah gue tumpangi melaju pada tujuan yang tak tentu, namun percayalah gue gak ingin menjadi salah satu penumpang yang mati sia-sia seperti itu.
meski kadang gue ingin mati dan berada dalam perjalanan yang tak pernah kembali, tapi gue gak pernah ingin tubuh gue ditemukan dalam kondisi yang hancur, rusak, dan mengenaskan seperti itu.
inikah mati secara "husnul khatimah" yang gue idam-idamkan itu?
adakah doanya?
Friday, August 19, 2005
Abre Los Ojos
ini sebenarnya film yang udah lama ditonton. tapi belum sempet ditulis. gak ada yang menarik untuk diangkat. selain bahwa film ini merupakan versi aslinya "vanilla sky".
penelope cruz sama-sama menjadi sofia di dua film ini. di versi hollywood sempat heboh karena saat main bareng tom cruise inilah disangkakan sebagai awal dari kisah terlarang mereka. melahirkan kisah pedih buat kidman (gue sempet mengidolakan pasangan sempurna ini).
mana yang lebih bagus, vanilla sky atawa abre los ojos (yang diinggriskan menjadi open your eyes)?
adegan ranjangnya lebih yahud di versi hollywood (mungkin juga di versi latinnya dah disensor). tapi logikanya lebih di runut di versi spanyolnya. disini juga cruz berperan lebih nyeni. jadi mahasiswi di sekolah seni dan sempet mempraktekkan adegan pantomim di taman yang ramai pengunjung. bukan sekedar jadi perempuan penggoda yang mengambil alih cinta antara cruise dan diaz.
that's it. gue gak tau mau nulis apalagi. makin berasa kalo gue makin gak produktif sekarang. menyedihkan!
penelope cruz sama-sama menjadi sofia di dua film ini. di versi hollywood sempat heboh karena saat main bareng tom cruise inilah disangkakan sebagai awal dari kisah terlarang mereka. melahirkan kisah pedih buat kidman (gue sempet mengidolakan pasangan sempurna ini).
mana yang lebih bagus, vanilla sky atawa abre los ojos (yang diinggriskan menjadi open your eyes)?
adegan ranjangnya lebih yahud di versi hollywood (mungkin juga di versi latinnya dah disensor). tapi logikanya lebih di runut di versi spanyolnya. disini juga cruz berperan lebih nyeni. jadi mahasiswi di sekolah seni dan sempet mempraktekkan adegan pantomim di taman yang ramai pengunjung. bukan sekedar jadi perempuan penggoda yang mengambil alih cinta antara cruise dan diaz.
that's it. gue gak tau mau nulis apalagi. makin berasa kalo gue makin gak produktif sekarang. menyedihkan!
Tuesday, July 26, 2005
Gue yang Sinis, Judes, dan Tak Mudah Ditaklukkan
kalau dihitung-hitung, banyak juga laki-laki yang berusaha singgah dalam beberapa bulan terakhir ini. mencoba segala cara untuk dapat lebih dekat. tapi gue tetap bergeming. sejauh ini belum ada daya listrik yang mampu menggerakkan hati gue dan bilang "i do" sama mereka.
hidup lalu bagai telenovela yang sengaja diputar-putar sedemikian rupa agar episodenya tak habis-abis. gue naksir siapa eh malah ditaksir siapa.
kadang capek dan jenuh juga (ini kalimat klise banget). tapi sejauh ini gue tak pernah berniat menggadaikan hati demi kehadiran laki-laki. toh, gue semakin mersa tegar, kuat, dan tak cengeng lagi. gue bisa hidup sendiri kok! dan tengah asik-asiknya menikmati kesendirian itu. meski kadang pengen nangis dan gak tau tujuan hidup ini mau dibawa kemana. wajar aja. emosi toh ada siklusnya. kadang semangat, kadang melempem.
buat yusuf di samarinda, saikhu di kali pasir, dwi tetangga sebelah, adi yang baru aja gue kenal, sori to say bahwa gue gak bisa dengan sengaja bermanis-manis menerima sms, telpon atau apapun dari kalian. gue pernah dengan tegas mengatakan ini pada kalian. dan gue gak merasa takut dengan segala keterus terangan ini. hidup tak selamanya sesuai seperti yang kita inginkan. kita angankan.
hidup lalu bagai telenovela yang sengaja diputar-putar sedemikian rupa agar episodenya tak habis-abis. gue naksir siapa eh malah ditaksir siapa.
kadang capek dan jenuh juga (ini kalimat klise banget). tapi sejauh ini gue tak pernah berniat menggadaikan hati demi kehadiran laki-laki. toh, gue semakin mersa tegar, kuat, dan tak cengeng lagi. gue bisa hidup sendiri kok! dan tengah asik-asiknya menikmati kesendirian itu. meski kadang pengen nangis dan gak tau tujuan hidup ini mau dibawa kemana. wajar aja. emosi toh ada siklusnya. kadang semangat, kadang melempem.
buat yusuf di samarinda, saikhu di kali pasir, dwi tetangga sebelah, adi yang baru aja gue kenal, sori to say bahwa gue gak bisa dengan sengaja bermanis-manis menerima sms, telpon atau apapun dari kalian. gue pernah dengan tegas mengatakan ini pada kalian. dan gue gak merasa takut dengan segala keterus terangan ini. hidup tak selamanya sesuai seperti yang kita inginkan. kita angankan.
The Island
ini film lumayan. logikanya nyambung (kata ucu, temen gue). meski ada yang rada gak nyambung juga sih. semisal, gimana bisa ada perempuan klon yang hamil padahal komunitas ini tak berhubungan seks?
kekurangan lainnya, gue gak begitu menikmati saat nomat film ini kemarin. duduk di deretan paling depan. bener-bener di depan pan. bikin pala pusing karena nonton dengan kepala yang mendongak.
karenanya, kalau ada kesempatan, gue mau nonton lagi film ini. ini film lumayan menghibur. macam mr. and mrs. smith, sahara, atau kingdom of heaven.
akting ewan-nya ok. tapi rasanya scarlett dipasang cuma karena keseksiannya disini (gue rasa banyak bagian tubuhnya yang dah dipermak abis).
film ini juga lumayan bikin mikir (meski rada absurd) kayak minority report atau matrix edisi pertama (dua seri terakhirnya rada membosankan sih...).
oh, ada juga film yang sialnya gue lupa apa judulnya. yang jelas film ini dibintangi jodie foster. berkisah tentang misi luar angkasa. ada scene yang bikin gue takjub abis. saat foster terdampar di ruang antah berantah di langit ke tujuh. uh, panoramanya bagus banget...
kelupaan judul juga hinggap pada film remaja yang berkisah tentang kompetisi penari (ballet?) yang salah satu soundtracknya masang lagu "i wanna be with you"-nya mandy moore. ini film emang gak ada hubungannya dengan film-film diatas. cuma ya itu tadi, lupa judul, dan gue rada susah cari film ini lagi.
does anyone can help?
kekurangan lainnya, gue gak begitu menikmati saat nomat film ini kemarin. duduk di deretan paling depan. bener-bener di depan pan. bikin pala pusing karena nonton dengan kepala yang mendongak.
karenanya, kalau ada kesempatan, gue mau nonton lagi film ini. ini film lumayan menghibur. macam mr. and mrs. smith, sahara, atau kingdom of heaven.
akting ewan-nya ok. tapi rasanya scarlett dipasang cuma karena keseksiannya disini (gue rasa banyak bagian tubuhnya yang dah dipermak abis).
film ini juga lumayan bikin mikir (meski rada absurd) kayak minority report atau matrix edisi pertama (dua seri terakhirnya rada membosankan sih...).
oh, ada juga film yang sialnya gue lupa apa judulnya. yang jelas film ini dibintangi jodie foster. berkisah tentang misi luar angkasa. ada scene yang bikin gue takjub abis. saat foster terdampar di ruang antah berantah di langit ke tujuh. uh, panoramanya bagus banget...
kelupaan judul juga hinggap pada film remaja yang berkisah tentang kompetisi penari (ballet?) yang salah satu soundtracknya masang lagu "i wanna be with you"-nya mandy moore. ini film emang gak ada hubungannya dengan film-film diatas. cuma ya itu tadi, lupa judul, dan gue rada susah cari film ini lagi.
does anyone can help?
Tuesday, July 19, 2005
Bejo Renggono
Kemarin gue sempet ketemu cowok lucu. Brondong gitu. Masak manggil gue mbak?
Anaknya lumayan keren siyy. Gondrong. Desain grafis. Pinter moto pula.
Tapi ya udah. Lewat gitu aja.
Gak lama. Gak tau juga gimana caranya pdkt sama doi.
Padahal pengen... :-P
Anaknya lumayan keren siyy. Gondrong. Desain grafis. Pinter moto pula.
Tapi ya udah. Lewat gitu aja.
Gak lama. Gak tau juga gimana caranya pdkt sama doi.
Padahal pengen... :-P
Saturday, July 16, 2005
Menulis Itu Susah!
kata siapa menulis itu gampang?
susah tau...?!
minimal buat gue.
mo nulis curhatan aja suka tiba-tiba blank.
bengong.
gak tau mau nulis apa.
apa guenya yang begi ya....
susah tau...?!
minimal buat gue.
mo nulis curhatan aja suka tiba-tiba blank.
bengong.
gak tau mau nulis apa.
apa guenya yang begi ya....
Monday, July 11, 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)
