Thursday, January 07, 2010

frighten

entah bagaimana caranya memompa kembali semangat yang merambat turun.
seperti kesetanan aku telah apply beasiswa kemana-kemana akhir tahun lalu. semata untuk mewujudkan keinginan-tak-lagi-bisa-ditundaku untuk segera hengkang dari negeri durjana ini.

tapi tak ku terima tanda-tanda akan adanya kabar baik. hingga hari ini.
yang ada cuma cerita murung.

tak ada panggilan interview untuk aplikasi australia ku. padahal aku sempat membayangkan dan telah menghitung2 rencana tetirah itu (bahkan sudah bersiap untuk menulis apa di status fb ku nanti. ampun deh! :p).

kecewa? pertanyaan bodoh. tentu saja. seperti rasa ngenes saat tak lolos chevening beberapa tahun lalu. atau bahkan aplikasi australia ku tahun-tahun sebelumnya.

lalu, surat ku pada monseur remy juga belum ada jawaban. ia salah satu cara yang aku harap bisa memuluskan jalan ku hijrah ke paris. sementara aku makin mengkerut belajar bahasa perancis. bebal. dungu.

aku pesimis. mimpi-mimpi untuk segera pergi terlihat sulit untuk ku raih.

aku takut setengah mati.

rasanya bisa benar-benar gila bila aku tetap terus di sini.

Thursday, December 31, 2009

i was starting my year with going abroad last year. i keen i can do the same for this new year. just go. never turn back instead.

Friday, May 29, 2009

Bude

Dia sudah pergi, Mas. Aku tak sempat menyaksikannya. Ada ibu yang menemani. Sama seperti kepergianmu yang hanya ku tahu lewat kabar yang disampaikan ibu padaku.

Semoga kalian bertemu dan bahagia bersama. Ini kan yang kalian inginkan juga? Keinginan orang-orang lainnya juga. Termasuk aku.

Kau tau sejak kepergianmu ia bagai sebatang pohon tanpa akar. Hidupnya kosong. Sebenarnya tak hanya ia. Aku pun begitu. Kau tahu aku mulai merasakan hal-hal aneh sejak kita menjadi lebih dekat lebih dari biasa. Tiba-tiba aku jadi mengangenkanmu. Selalu menanti dengan cemas saat-saat bisa bersama denganmu. Ku rasa ibu mulai mencium gelagat ini. Menasehatiku untuk mencoba rasional. Bahwa kita masih kerabat dekat.

Tiba-tiba kau pergi tanpa pamit. Aku tau kau sedang marah dan butuh waktu untuk sendiri. Namun sampai saat ini pun aku tak pernah bisa mengerti. Terkadang bahkan menyesali. Mengapa jalan seperti itu yang kau pilih. Bergabung dengan kelompok yang kau bilang sanggup mengisi kekosongan batin mu.

Kau tak pernah mendiskusikannya padaku. Hingga tak sempat aku cegah keinginan ganjilmu itu. Terus terang aku tak suka dengan kelompok yang kau bangga-bangga kan itu. Tapi aku tak sempat mencegahnya. Sampai kau kembali dengan tubuh kaku. Dan mereka mengatakan kau telah mati syahid.

***
Aku tak terlalu sering mengunjunginya, Mas. Aku banyak bepergian. Sejak kepergianmu ku coba untuk mengisi hidupku dengan beragam aktifitas. Aku tak ingin terus memikirkan mu. Menyesalkanmu.

Terakhir aku mengunjunginya saat lebaran lalu. Ia makin kurus. “Rambut ku rontok tak karuan,” katanya sambil merapikan tutup kepala. Berulang kali ia masuk rumah sakit. Dengan sakit yang tak jelas. “Sakit batin,” kata ibu.

Aku hanya bisa menangis dalam hati. Airmataku telah habis saat menangisi tanah basah yang menyimpan tubuh kakumu.

Aku tak pernah bisa membayangkan rasa hampa yang harus dijalaninya. Kau lah harapan satu-satunya. Laki-laki kebanggaannya. Setelah laki-laki pendamping hidupnya mengkhianatinya sekian lama. Menghasilkan seorang anak laki-laki yang usianya tak jauh terpaut dengan mu.

Aku tau kau pun begitu menyayanginya. Kau tau sampai saat ini pun aku tak sanggup berdiam lama berada di kamar mu. Kamar yang penuh dengan coretan kemarahanmu pada laki-laki busuk yang dengan teganya menculasi kalian. Laki-laki yang darahnya mengalir pada tubuhmu.

Ya, coretan-coretan mu masih ada, Mas. Bude tak ingin menghapusnya. Beberapa larik puitis yang mengungkapkan kasih sayang, rasa hormat sekaligus bangga mu pada satu-satunya perempuan yang telah melahirkan mu bercampur baur dengan umpatan kemarahan pada laki-laki durjana itu.

***
“Coba aku di foto. Masih ayu nggak,” itu permintaan yang aku ingat dari kunjungan terakhir ku. Ia merapikan rambut tipisnya.

“Aku wis kayak wong mati,” katanya saat aku perlihatkan hasil foto pada layar kamera. Aku tak membalas perkataannya.

Ia terbukti perempuan yang tangguh. Ia mampu menghadapi rasa hampa dalam hidupnya bertahun-tahun setelah kepergian mu, Mas. Setia pada rumah yang sebentar lagi mungkin akan diambil perempuan lain yang telah menghancurkan hidup kalian.

Tak seperti aku yang terus berusaha lari dari kenangan yang pernah kita lalui, Mas. Meski ia juga harus mengaku kalah pada beberapa penyakit yang tiba-tiba saja menjadi bagian dari hidupnya.

“Nduk, Bude masuk rumah sakit lagi. Pulanglah. Sempatkan untuk menjenguknya,” layang ibu pada pesan pendek yang masuk pada teleponku.

Aku tak mengiyakan permintaannya. Aku tak sanggup melihat tubuh rentanya, Mas. Tak mampu lagi menumpahkan airmata untuk kalian.

Kucari-cari alasan bahwa aku tak bisa pulang. Aku tak tahu apakah ibu bisa mengerti dengan alasan ku. “Kalau tak bisa pulang tak apa. Tolong bacakan Yasin untuk Bude mu.” Hanya itu balasan ibu atas alasan ku.

Apakah kau bisa mengerti, Mas? Aku tak ingin kembali rapuh dengan mengingat kalian. Aku percaya kalian telah berkumpul kembali saat ini. Merasakan kebahagiaan abadi setelah sempat dihempaskan alam fana ini.

Jakarta, akhir Oktober 2008
Untuk Bude Temok dan Mas Totok dalam kehidupan yang abadi

Saturday, April 25, 2009

alex from france

his name is alex.
from france.

Sunday, April 19, 2009

funckin' bloody night

he's coming again.
tonight.
bit late.
new appearance.
more tidy.
new necklace.
perfume.
looks beautiful.
make me hot.

but we cant make it tonight.
i told him.
i'm in bloody.
but he didn't care.
keep me up.

we cant do it right now.
i told him.
again.
he stil didn't care.
keep flatter me.
and we did it.
with his way.

i never did it.
i said to him.
i'm afraid.
i'll do it slowly.
he pushed me.
he looked beautiful.
made me surrender.

but he always in rush.
packed up immediately.
can we talk?
i begged him.

i have to go.
he's hurry.
as always.
dont know will back.

i cant deter him.
again.
he left.
dont know will back.

fuckin' bloody night.

Friday, April 17, 2009

freaky saturday

one night before, i was on deep pray just unlike usual. then he came like a gift. unexpected but made me up. i was flying. so high. and i start to expecting him.

but i have to realize that he may only for that day. no more. because he never come again. ruin all of my dream. leave me in deep hollow. even i tried to ask him. put my dignity off.

please come. i still miss you (stranger)...

but he just like a wind. blew somewhere. and i just became one stop just before he run away. did i disorder my pray?

Wednesday, March 25, 2009

i wish i could be in love. but here, they're so chill...

Wednesday, August 27, 2008

jogja (for the umpteenth)

i've tried to compromised with my destiny this moment. come to jogja just for meeting. not for travelling or leasuring time. and this loneliness will kill me. i even dont know what i stand for.
his remains ghost me and i still fall my tears down.

Laki-laki Beranonim

Ia mampu menghapus kekhawatiran ku untuk berhati-hati dengan orang yang baru dikenal.
Menjadi teman dalam perjalanan yang melelahkan sepanjang jogja-jakarta yang bising.
Menunjukkan dirinya bukan lelaki genit yang siap ambil kesempatan dalam kesempitan.
Bersikap dengan gentleman dan santun. Bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia seorang perokok.

Dan aku mulai jatuh hati dalam waktu yang singkat itu. Namun ia tak menunjukkan ketertarikan yang lebih. Kami bahkan berpisah tanpa pamit. Membuat aku masygul. Tidak cukup menarikkah aku? Terlalu angkuhkah aku untuk direngkuh? Terlalu tinggi kah aku menempatkan posisiku?

Untuk mengobati luka aku coba menghibur diri. Mungkin ia memang lelaki baik-baik yang tak ingin mencari mencari peruntungan dan merusak hubungannya dengan seseorang yang telah lebih dulu dibina (sebuah status yang tak pernah berani aku tanyakan sepanjang obrolan kami malam itu). Mungkin pula ia memang tak memiliki ketertarikan pada perempuan (sebuah fenomena yang makin lazim ditemui saat ini dan membuat aku kerap berpandang curiga melihat dua orang laki-laki (muda) berjalan beriringan). Bila benar adanya, beruntunglah aku tak terperosok dalam kisah cinta gombal jilid dua. (meski rasa sesal itu tak jua dengan mudahnya sirna. Akankah ada kesempatan berikutnya?)

Dan aku kembali pulang dalam rasa sunyi sambil menanti P17 tiba. dalam suara panggilan subuh dan godaan usil para sopir yang mencari peruntungan. here i am. in the city with loveless...

Monday, May 12, 2008

Talk too fast

Entah telah berapa banyak yang bilang, aku kalau bicara terlalu cepat. Aku sendiri menyadari itu. Tapi untuk merubahnya kok ya tak semudah membalik telapak tangan (meski untuk penderita strok, hal yang terakhir ini bisa jadi sulit juga dilakukan). Setidaknya sebelum memulai pembicaraan atau menjadi pembicara, aku sudah memperingatkan diriku sendiri. Please be calm. Bicaralah dengan runut. Dengan intonasi yang enak diikuti dan didengar telinga (dalam hal ini aku terkagum-kagum dengan gaya bicara Pius Rengka, politisi gaek asal Manggarai, NTT atau Asmara Nababan, bos ku sendiri. Juga Hadar Gumay, orang nomor satu CETRO saat ini).

Tapi warning dari diri sendiri itu terbukti seringkali tak berfungsi. Atau berjalan. Aku sering di luar kendali diriku sendiri. Saat berbicara maunya cepat sampai. Sering tak sistematis. Otot mulut tampak sibuk berkejaran dengan pikiran yang ada di kepala. Sudah bisa diduga pula kerugian yang akan menimpa ku. Performance yang buruk, publik yang tak interest, dan aku sering tersesat sendiri. Lebih karena aku seringkali tak tau juga apa yang ingin aku sampaikan.

Mungkinkah aku perlu ikut kursus public speaking atau sejenis itu?

Monday, April 14, 2008

10 April

Rasanya agak aneh ketika bertemu orang yang mempunyai tanggal lahir yang sama dengan diri sendiri. Padahal ini bagian dari kebetulan yang biasa terjadi. Dalam satu hari puluhan, ratusan dan mungkin jutaan bayi lahir (mungkinkah mencapai angka jutaan? Entahlah). Dan mereka akan memiliki tanggal lahir yang sama. Tahun yang sama. Meski, kemungkinan untuk bertemu satu sama lain (di luar kenyataan bagi para bayi-bayi kembar tentu saja) mungkin hanya sepersekian kali (aku kesulitan mendapat gambaran yang tepat untuk mengatakan bahwa kemungkinan itu bisa jadi sangat, sangat tipis adanya). Kesempatan ini mungkin yang kemudian menjadi momen yang luar biasa bagi orang-orang yang secara kebetulan bertemu dan mendapatkan tanggal lahir yang sama. Apalagi tahun yang sama. Ini bisa jadi membawa efek psikologis yang luar biasa. Merasa surpraise. Mungkin juga istimewa.

Aku belum pernah mengalami momen ini. Bertemu dengan orang yang memiliki tanggal lahir dan tahun yang sama. Tapi perasaan yang luar biasa itu cukup termampiri saat aku bertemu orang yang memiliki tanggal lahir yang sama dengan tahun yang berbeda tanpa pernah aku duga sebelumnya. Perasaan itu tentu saja pada akhirnya tidak memberi efek apapun di kemudian hari. Kecuali menjadi penanda yang mungkin agak sulit dilupakan.

Maka, selain berucap selamat ulang tahun bagi diri sendiri pada tanggal 10 April ini ucapan yang sama berlaku pula untuk Nurhalis Majid, laki-laki asal Banjarmasin yang aku kenal lewat jaringan kerja sejak tahun 2003 namun baru kudapati bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama pada detik terakhir pertemuan acara kami di Hotel Niko selang dua hari dari tanggal istimewa kami tahun lalu.

Lalu ada Salsabila Rihadatul Aisyah. Ponakan kecil dari adikku yang cerewet luar biasa. Dia lahir 10 April tiga tahun yang lalu tengah malam dengan operasi cesar. Aku tak turut menyaksikan proses kelahirannya.

Setelah itu ada pula Fauzi Bowo, Gubernur DKI terpilih saat ini yang diusung oleh partai-partai besar (sangat disayangkan nyata bahwa ia memilih dari kalangan militer sebagai wakil yang mendampinginya saat ini. Mungkin ada hitung-hitungan taktis bagi dirinya. Tapi tetap saja aku merasa dia bukan figure “yang gue banget”).

Juga Bayu Sutiyono, presenter berita di SCTV (aku tak tau apakah masih? Mengingat makin jarang ku temui wajahnya di layer SCTV saat ini).

Yang juga cukup mengejutkan adalah saat membaca CV Ade Indriani Zuchri, jaringan asal Palembang yang sempat aku kenal saat pertemuan di Jambi entah dua atau tiga tahun yang lalu. Penampilannya cukup charming dan energik. Menarik perhatian aku sendiri untuk menjadikannya sebagai key informan riset kami tahun ini. Meski kabarnya ia penuh kontroversi (beberapa kasus keuangan dikabarkan sempat menjadi masalah yang perlu dihati-hati saat berurusan dengannya). Toh akhirnya ia berhasil melampaui segala sikap skeptis yang sempat dilekatkan padanya. Meski mungkin untuk sementara. Dan usianya persis hanya terpaut setahun lebih tua dari aku.

Untuk dunia selebritis, dua artis yang aku tau punya tanggal lahir yang sama dengan aku adalah Meriam Bellina (dengan peran yang suka marah-marah melulu di sejumlah sinetron) dan Mandy Moore, artis muda seangkatan Britney Spears dan Christina Aquillera yang rasa-rasanya tak terlalu moncer karirnya di Hollywood (tapi aku suka dengan actingnya sebagai Molly di "Because I Said So", akting yang jauh lebih menarik dibanding aksi Britney di "Crossroad" yang sangat sangat memble...)

Gone #3

Aku buka account emailnya. Account email yang pernah aku buatkan untuknya. Dan kembali tak bisa kubendung air mata. Ia, entah kapan persisnya, aku menduganya belum lama ini, telah mengajak –gosh aku tak sanggup melanjutkan kata-kata ini………

So they went to Johor. The place he had promised me to invite. Then he never invites me to come. Never…

Aku remuk. Redam. Gosh, I really want to die. It's over when it's over. But I still can't figure it out. Just take me out from this bastard... Please.. please.. I'm dying...

Gone #2

Kemarin malam aku mimpi buang hajat (agak keras dan seingat ku sampai dua kali). Aku nyaris percaya takwil mimpi tentang ini. Orang bilang kita akan kehilangan sesuatu. Aku percaya kehilangan itu lebih berbentuk materi. Sedikit khawatir mengingat aku tengah tak siap kehilangan uang saat ini. Rasa khawatir yang segera aku tepis dengan doa, Tuhanku jangan kau tambah lagi rasa pahit hidup ku saat ini dengan kehilangan yang aku miliki.

Lalu di malam dengan gerimis yang masih sering turun si bluesman itu datang (aku pernah bilang dia laki-laki penuh kejutan kan?) Dengan mobil yang tak aku ingat persis. Honda city mungkin. Dan supir perempuan urban yang diakuinya sebagai ceweknya. Rupanya ia datang untuk mengangkut barang yang entah berapa bulan teronggok di kamar ku. Oh, baiklah. Tak masalah. Dalam hati aku berharap mudah-mudahan inilah kehilangan yang harus impikan malam sebelumnya. Dan karena aku tak ingin menjadikannya sebagai kisah romanku maka aku putuskan kisah tentang laki-laki ini sebaiknya tutup buku saja.

Gone

Terus terang aku kecewa saat tau aku tak lolos chevening award yang sudah aku lamar sedari tahun lalu. Ini harapan besar ku untuk melanjutkan hidup. Aku tak punya keinginan apa-apa lagi. Kecuali meninggalkan segala kehidupan yang saat ini makin ku rasakan begitu penat (aku pernah bilang tak ingin menghabiskan hidupku dengan rutinitas yang telah kujalani selama ini kan?).

Tahun ini aku akan 31 tahun. Masih single (aku masih suka menangis mengingat ketololanku berharap pada laki-laki tak bisa dipercaya itu). Dan begitu bosan dengan pekerjaan ku sekarang (minggu-minggu ini aku kembali bertengkar dengan teman kantor yang membuat aku makin merasa tak betah. Kau tau, saat aku mengancam untuk quit, dia malah menantangku untuk segera mengambil keputusan itu. Gila!).

Telah lima tahun aku di Demos. Dengan penghasilan dan perkembangan karir yang aku rasa berjalan seperti keong. Aku ingin melepaskan semuanya. Dan chevening menjadi tiket andalan ku. Namun semua musnah. Aku tak tau lagi bagaimana melanjutkan hidup (aku telah tamat membaca lascar pelangi-nya andrea hirata yang kabarnya mampu membangkitkan semangat hidup. Tak juga kudapatkan kobaran semangat itu. Yang ada malah makin jealous dengan kesempatannya bisa melanglang buana).

Mengingat itu semua membangkitkan keinginan lama ku untuk segera mati saja. But how? Aku takut pada percobaan yang gagal. Aku ingin mati. Tapi tak ingin merasakan sakitnya. Keinginan yang mengingatkan aku pada aksi Zang Ziyi saat meluncur dengan indah dari gunung demi mendapatkan keinginan abadinya dalam “Crouching Tiger Hidden Dragon”.
Bisakah kita seperti itu?

Wednesday, December 19, 2007

Catatan (menjelang) Tahun Baru

Sms lumayan panjang yang dikirim Elis, temanku yang kenes dan modis juga mahir berbahasa Inggris, pagi ini menggugah niatan ku untuk nulis ini.

Daam bahasa Inggris yang sudah aku bilang telah menjadi kemahirannya, dia berkisah tentang kesyukurannya pada anugerah 2007 yang dikecapnya lewat; terselesaikannya program master of english linguistics di unika atmajaya-nya yang sempat tertunda beberapa tahun, kesuksesan pindah ngantor-nya ke TNC (kantor international yang pastinya bikin gayanya makin mentereng. dia juga sempet singgung soal kesepakatan perubahan iklim di Bali kemarin), perjuangannya untuk tetap mempertahankan perkawinannya yang telah menghasilkan seorang putri 'ndut dan imut berumur 6 tahun (aku jarang bertemu dengannya. berita yang dikelompokkan olehnya sebagai berita baik ini tentu dapat dipastikan juga lewat perjuangan darah dan air mata ;-)), dan.... kesempatan pertamanya menjejak kaki di tanah Paman Syam.

kau pasti tau, apa yang menggugah seleraku untuk menulis. tentu kalimat terakhir itulah. bukan kesuksesan studinya (yang meski pernah aku tanyakan secara basa-basi barang satu dua kali) atau kesuksesannya berumah tangga (meski, aku bisa tegaskan sekali lagi lewat perjuangan yang disertai dengan darah dan air mata ;-)).
hm..., akhirnya berhasil juga dia menambah cap di buku pasportnya. sementara aku...

sebelum membahas lebih jauh soal itu, otakku melayang-layang ke bilik lain. mungkin juga tahun 2007 ini menjadi anugrah bagi banyak orang. aku ingat sms yang tiba-tiba dilayangkan Kokom, perempuan yang aku kenal karena sama-sama menjadi pasien di rumah sakit Mitra Jatinegara beberapa tahun lalu (rumah sakit yang bikin aku kapok karena mahalnya). meski, ia sempat menagabarkan berita duka karena dirinya yang kembali terserang tifus (penyakit yang sumpah mati juga tak ingin aku idap lagi) ia mengabarkan berita gembira yang tak aku duga. ia telah mimiliki seorang anak laki-laki berumur satu tahun. anak yang sudah sangat didambanya karena usia perkawiannya yang telah memasuki belasan.

kami tak pernah bertemu lagi setelah masing-masing dinyatakan sembuh dari rumah sakit. tapi kabar dimilikinya anak berumur satu tahun mengingatkan aku paling tidak usia pertemuan kami telah lewat dari dua tahun. dan, lahirnya Farel, nama anak laki-lakinya itu, pasti tak terjadi dalam tahun 2007 ini. meski begitu, aku bisa berkukuh bahwa anugerah itu telah dicecapnya pada tahun 2007 ini. setidaknya lewat kabar yang aku terima lewat sms-nya di akhir tahun ini.

Dan... anugerah terindah tahun 2007 mungkin akan menjadi milik Yus, teman yang juga aku kenal secara tak senagja lewat keaktifannya menjadi panitia kursus jurnalisme sastrawi-nya Pantau. Ia seumuran kakakku. Gerapyak, kata orang Jawa. gampang akrab dengan orang. meski kadang punya ide-ide aneh (dia pernah mengajakku shalat tengah malam di mesjid istiqlal pada hari jadinya dan berniat mejadi bos odong-odong di kampungnya di makassar sana, yang entah berhasil dijalankannya atau tidak).

Tanggal 24 Des besok pasti akan menjadi tanggal bersejarah bagi Yus karena ia akan resmi menjadi nyonya Tiyo, laki-laki yang hanya aku tau lewat foto dalam kertas undangan yang dikirimnya lewat celah pintu kamarku. fotonya sih lumayan keren. dengan usia yang pernah diakuinya secara malu-malu lebih muda usianya dari dirinya sendiri. aku telah membayangkan rona bahagia itu. ah, akhirnya.... ia akan mengutip syair Barbara Straissand. Finally, i found some one... kalimat yang pastinya juga menjadi bagian dari pencarian dalam hidup ku.

lalu bagaimana dengan aku?
aku sendiri tak yakin 2007 adalah tahun anugerah dalam hidup ku. aku masih di sini. dengan keruwetan hidup peninggalan masa lalu. beberapa perubahan terjadi. yang aku anggap tak terlalu signifikan (mengingatkan aku pada label hidup tak bahagia yang kerap diberikan the blues man pada ku. btw, kau sudah kenal orang ini kan?).

mungkin juga aku orang yang sinis pada hidup ku sendiri. tak pandai bersyukur. seperti yang sudah aku bilang, perubahan terjadi. sedikit. yang aku ingat saat ini bahwa aku tak lagi terlalu termehek-mehek pada kisah romanku. meski kadang rasa perih mengoyak perasaanku.

yang menjadi fokus utama ku saat ini dan kerap menimbulkan rasa cemburu luar biasa adalah, bagaimana caranya aku mencecap hidup di luar negeriku sendiri. betapa inginnya aku menjelajah ke luar negara ini. negara yang kadang bikin aku muak. aku ingin melihat dunia lain. merasakan rasa lain yang telah dirasakan banyak teman ku di negara lain. merasakan kebebasan yang mungkin tak kita temui di negara kita sendiri. selain menjadi semakin mahir dalam berbahasa asing (sebuah kemampuan yang sungguh sering membuat aku merasa putus asa sangking bebalnya). dan bukannya tetap berdiam diri di sini. sementara orang telah menambah panjang daftar riwayat hidupnya dengan bepergian ke Eropa, Amerika, Australia, bahkan pelosok Afrika (yang entah mengapa semua nama benua ini berakhiran vokal sama).

Jadi, kalaupun kau bertanya, kapan? aku berharap pertanyaan itu bukan pertanyaan sama yang diajukan pada Ringgo Agus yang bisa dijawab dengan jawaban yang sesungguhnya mudah ditebak. May.

Bertanyalah padaku, jadi kapan... menjadi manusia global?
karena aku tak ingin menghabiskan sisa umurku hanya di sini...

Friday, November 16, 2007

Jakarta Basah

Lama tak ngeblog. Tak mood. Tak ada ide. Sementara ribuan blog tercipta dengan bagusnya. Aku sering berapologi, mungkin bila aku bisa dengan mudahnya konek ke internet, tanpa batas dan halangan, akan makin rajin nulis. Mungkin juga tidak. You know who am I. sukanya ngayal yang tinggi-tinggi. Ngarep yang gak-gak.

Back to me again. Puluhan peristiwa berseliweran sementara aku vakum. Ada kisah roman, melodrama, sedikit ketegangan, kesenangan, dan rasa bosan yang masih betah bertahan. Aku akan tulis yang aku ingat saja. Mulai dari yang paling dekat.

Sudah beberapa hari ini Jakarta basah. Hujan berhari-hari. Gangguan rutin terjadi. Macet. Pohon tumbang. Banjir. Aku tak merasakan langsung semua gangguan itu. Aku sibuk menginstall laptop ku dengan game-game baru kemarin. Mencobanya satu per satu sampai mataku menyerah. Menyelesaikan tulisan tentang "Benteng Keraton Buton" yang aku harap bisa dimuat Kompas. Kalaupun tidak, ingin aku lempar ke National Geographic versi Indonesia. Meski mungkin agak berat. Menetapkan niat untuk kursus renang meski hari ini, lagi, niatan itu kembali batal. Setidaknya aku sudah berusaha. Terdampar sampai Jatinegara dan memutuskan kembali karena tak kunjung mendapat angkutan ke tempat kursus. Di Jatinegara otak ku berfikir cepat. Kemana harus menghabiskan hari. Aku putuskan untuk nonton “lions for lambs” di Megaria. Ini film serius. Beberapa dialog aku lewati. Entah tak mengerti atau tak konsentrasi. Aku ingat acara nonton dengan “the bluesman” yang sebentar lagi akan aku rinci. Lalu pulang dalam rinai gerimis yang kadang turun dengan serius. Jakarta basah.

Aku ingat pertemuan terakhirku dengan “sang kelana”. 3 September 2007. Di Novotel Mangga Dua. Aku ingat karena aku melingkari tanggal itu di kalender dindingku. Firasat akan pertemuan terakhir. It would be. Sudah dua bulan lebih dan tak ada tanda-tanda kegairahan darinya. Sementara aku makin menikmati kesedirianku. Tak sepenuhnya sendiri. Beberapa kali aku habiskan bersama “the bluesman” yang –seperti aku sudah bilang—akan aku rinci nanti. But let me finish it first dengan “sang kelana”.

Setelah tanggal 3 September itu ia ada sekali kontak aku. Lewat sebuah sms. Bukan telepon (sebuah tindakan yang sesungguhnya aku tunggu). Beberapa hari menjelang lebaran. Ia ingin aku menemuinya di Red Top. Aku acuhkan smsnya. Berharap ia melakukan lebih dari itu. Tapi ia tak pernah telepon. Menanyakan keacuhanku.

Sebuah sms kembali dikirimnya di hari lebaran. Sms basa-basi. Mengucap selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin (ia biasa menggunakan kata “zahir batin”). Kembali aku acuhkan. Tak aku balas. Dan telepon itu tak pernah dilakukannya. Hingga kini. Dan aku mulai terbiasa untuk memupus segala harapan. Meski sesekali aku menyebut namanya. Saat merasa rindu. Tak lebih. Karena ini kisah roman. Sementara Jakarta basah.

Lalu ijinkan aku berkisah tentang “the bluesman”. Sedikit saja. Karena aku pernah secara khusus menulis tentangnya. Tapi aku hapus. Karena aku tak ingin menjadikannya kisah romanku. Aku malu mengakuinya.

Aku mengenalnya lewat reunian setelah acara hunting kami di Pulau Untung Jawa (akhirnya kutemui juga teman yang adalah seorang fotografer). Usianya setahun lebih muda dari aku. Kadang aku menikmati hari-hari yang aku habiskan bersamanya. Keliling Jakarta tengah malam hingga pagi menjelang. Atau nonton dvd bajakan secara marathon di kamarku yang disulap menjadi bioskop tanpa sound system yang memadai. Ia penuh kejutan. Meski bukan sepenuhnya tipe ku (aku masih sering membandingkannya dengan “sang kelana”). Sama halnya aku yang tak masuk dalam kategori sebagai “his girl”. Tapi seperti aku bilang, aku menikmati hari-hari yang dihabiskan bersamanya. Kerap merasa kehilangan saat ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar (hal sama yang sering dilakukan “sang kelana”. Apakah ini memang kebiasaan laki-laki?). Merasa “cemburu” saat ia menelpon perempuan yang suatu saat diakunya sebagai mantan pacar namun kali lain dibanggakannya sebagai perempuan yang istimewa (aku sempat mengintip rekaman gambar seorang gadis manis bertubuh lencir bersuara merdu miliknya).

Aku tak ingin memupuk harapan. Tak ingin kembali masuk sebagai cinta kedua. Tak ingin terlena. Meski setan kadang menggoda. Sampai pecah perang dingin itu. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata tak terkendaliku dalam sebuah balasan sms. Aku sendiri tengah merasa mangkel. Lebih dengan perasaanku sendiri. Aku tak ingin jatuh cinta dengannya. Meski setan makin sering menggoda. Tak tau malu. Ia benar-benar menghilang. Meski masih banyak barangnya yang tersisa di kamarku. Ini bukan kisah roman. Setidaknya aku menginginkannya begitu. Sementara Jakarta basah.

Di luar itu aku ingin menulis tentang kesuksesanku membeli sepeda. Polygon dengan warna yang cantik. 1,3 juta rupiah. Sebuah benda yang sesungguhnya bisa memicu ingatanku pada “the bluesman”. Mengingat kecintaannya pada sepeda dan selalu meracuniku untuk membelinya. Aku masih gugup mengendarainya. Minggu pagi lalu dalam uji coba pertamaku seorang bocah sukses menjadi korban kegugupanku.

Masih soal kendaraan, hasil patungan aku dan ibuku, kami akhirnya berhasil memiliki sebuah kijang second. 36 juta. Aku tak ingat persis spesifikasinya. Secara fisik aku anggap lumayan. Memacu gairahku untuk bisa nyetir. Entah kapan. Banyak peristiwa terjadi. Sementara Jakarta basah.

Thursday, June 21, 2007

kali ini tak ada lagi cinta.

Tidur Bersama Semut

sudah beberapa hari hiliran semut mondar-mandir di ruang kontrakkanku. kadang aku membersihkannya dengan melibas langsung dengan sapu (kali ini tak ada lagi ampun. rasa tak tega membunuh seekor semut pun sudah lenyap entah kemana). kadang kubiarkan saja rombongan itu lewat di pojok-pojok ruang. seakan dapat berdampingan hidup dengan mereka.

tapi rasa mengganggu mulai mengusik saat rombongan itu secara berkala melewati alas tidurku. aku mulai curiga ada sesuatu dibawah alas tidur ku. sempat terfikir untuk mengadakan pembersihan total suatu saat nanti. apalagi aku baru saja luluran beberapa hari sebelum ini. meninggalkan rasa lengket di lantai yang belum dibasuh dengan kain pel. meski, jadwal pembersihan total itu sendiri aku tak pasti.

siang ini, setelah makan siang dengan lauk urap yang luar biasa pedas, aku merasa kembali ngantuk. (come on, padahal aku baru bangun jam 11.30 hari ini). berniat ingin kembali merebahkan badan. kembali kulihat hiliran semut itu. sempat berfikir yang tidak-tidak. khawatir menemukan bangkai sesuatu yang membuat pasukan itu rajin bergerombol ke tempat ku. (aku pernah menemukan bangkai tikus pada alas tidur di rumahku dulu. benar-benar peristiwa horor!)

dengan rasa horor bercampur gemas ku singkap alas tidur yang terdiri dari tumpakan dua kasur lipat. dan aku mulai bergidik melihat pasukan semut yang nauzubillah banyaknya. gosh! rupanya mereka telah membuat rumah di bawah alas tidur ku. dan rumah mereka berawal dari kardus yang menjadi dasar alas tidurku.

hampir setahun lalu aku mendapat kiriman kulkas dari seseorang yang tak perlu kau tau lebih jauh. kulkas dengan kapasitas 120 liter (kalau tak salah) ku letak di ruang belakang. berdampingan dengan ruang cuci piring dan kamar mandi. aku sempat bingung dimana menyimpan kardus pembungkus yang lumayan tebal itu. ide brilian datang dari ibu kos ku yang menyarankan untuk dijadikan dasar buat alas tidur ku. "biar tambah anget", katanya.

aku sepakat dan mengagumi sarannya yang terbukti manjur itu. kebetulan pula ukurannya pas dengan alas tidur ku. sampai terjadi peristiwa horor itu.

beberapa hari sebelumnya aku sempat tak nyaman dengan bau apek yang kadang muncul saat aku menggulingkan tubuhku di sudut ruangan. mengganggu nyenyak tidurku. sementara aku tak tau dari mana sumber bau apek itu. awalnya sempat menduga bau apek itu berasal dari laba-laba yang secara berkala juga mampir dan membuat rumah di sudut-sudut ruanganku. aku sudah membersihkannya. entah karena sugesti, bau apek itu sempat hilang dari penciuman ku.

tapi beberapa hari ini bau apek itu kembali menyeruak. seingatku, aku pernah membersihkan alas tidur ku beberapa waktu lalu. sudah lama memang. seingat ku pula, tak ku temukan sesuatu yang mencurigakan saat itu.

aku memang sering merasa tak nyaman dengan ruang tidur ku yang sekarang. lembab (aku pernah mengeluhkan hal ini sebelumnya bukan?). namun, kardus lapuk (aku hampir dapat memastikan salah satu penyebabnya adalah lantai yang belum kering benar saat aku kembali merapikan alas tidur ku beberapa waktu yang lalu) yang akan menjadi sarang bagi ratusan bahkan mungkin juga ribuan semut benar-benar tak pernah terbayangkan oleh ku. aku termenung-menung sendiri. jadi (entah telah berapa lama) aku tidur bersama pasukan semut itu. mereka memang tak terlalu mengganggu ku. beberapa sempat melintas tubuh ku. tapi bisa aku libas dengan kibasan tangan. tak ada serangan balik. menggigit atau masuk ke lubang-lubang yang ada dalam tubuh ku. mungkin mereka tau aku masih hidup. aku hampir pasti, bila aku telah menjadi mayat tak akan ada bedanya aku dengan bangkai cecak atau kecoa yang tak lagi utuh karena telah dipenuhi oleh pasukan mereka.

Monday, June 04, 2007

Roman Picisan

Hari ini tak satu pun panggilan atau sms masuk ke handpone ku. Senyap. Aku memang tak punya banyak teman. Tak juga punya hubungan khusus dengan seseorang yang membuat ia begitu rindu untuk menghubungiku. Dan kesunyian itu membunuhku pelan-pelan. Meski tetap berusaha ku tepis dengan upaya-upaya keras membesarkan hati sendiri.

Sebagai bagian dari membunuh sepi dan membesarkan hati itu aku nonton sendiri. Ini bagian dari aktifitas rutin sebenarnya. Menonton di hari senin demi mendapatkan tiket yang lebih murah. Dan 99%-nya kerap ku lakukan sendiri. Termasuk menebalkan perasaan saat melihat para pasangan yang asyik masyuk sendiri.

Tebalnya perasan itu kerap terkikis saat aku memasuki momen berikutnya. Makan malam sendiri. Aku sering tak mampu lagi memanipulasi diriku sendiri. Telah ku upayakan untuk mencari teman untuk aktifitas ini. Namun sebagaimana sudah aku bilang, teman ku tak banyak. Dan aku lebih sering mendapati kegagalan disbanding kesuksesan saat mengajak teman ku yang tak banyak itu untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa menit melakuakn aktifitas makan malam bersama.

Lalu kau pun bisa menebak aku akan menyusuri jalan pulang sendirian. berjalan melewati rute yang biasa ku tempuh. Kadang aku menikmatinya. Sebagaimana kau tau aku tak begitu suka dengan kebisingan. Aku akan memilih diam dan menyendiri di tengah keriuhan. Aku sangat membatasi segala bentuk komunikasi bahkan dengan orang tuaku sendiri. Aku sering tak mampu mengungkapkan pikiran dan perasaanku pada orang lain dengan baik. Namun kenikmatan itu kadang ada batasnya. Dan kerinduan untuk berbagi perasaan dengan orang lain secara intim kerap menyobek-nyobek emosiku sendiri. Menumpahkan airmata.

Ah, berapa banyak orang seperti aku? Para jomblo kesepian dengan sederet keterbatasan yang tak mampu dipecahkan?

Announcement *

Tepat 10 april lalu usia 30 ku jelang. Ada kekhawatiran sendiri mengingat usia biologis perempuan untuk punya anak terbatas. Aku bisa saja kukuh dengan pendirian pura-pura tegar ku untuk tak perlu peduli dengan sindiran kiri kanan dan mempersiapkan diri untuk tetap melajang. Dan adopsi anak bila perlu (kau pasti tau betapa banyaknya anak terlantar di negera bodoh ini). Tapi, sebagaimana kau duga, rasa cemburu terhadap pasangan-pasangan atau teman angkatan yang entah sengaja atau tidak pamer kemesraan dengan keluarga kecil mereka kerap menonjok perasaan ku. Mengendap dalam pikiran dan membangun cerita sedih pada malam-malam tak bisa tidur ku.

Ya, ya, aku juga bisa bilang bahwa aku pernah mencoba menjalin hubungan. Yang kalau mau dihitung secara acak berjalan hampir lima tahun. Sudah bisa menghasilkan seorang anak yang sedang lucu-lucunya kalau mau. Tapi aku tak ingin lagi mengingat-ingat masa lalu. Aku, seperti yang pasti bosan kau dengar, ingin memutus kenangan itu. Bertemu orang baru yang mengajak ku menjelang hidup baru.

Bagaimana pun aku ingin mendapatkan yang terbaik untuk hidupku. Termasuk harapan ditemukannya laki-laki yang tepat untuk ku. The right man on the right place. Sorry to say, kalau aku tetap idealis untuk mendapatkannya. Meski aku tak tau harus mencari kemana. Pasang iklan atau gabung di biro jodoh, aku tak punya cukup nyali. Mengaku pada orang bahwa mendapat pasangan menjadi salah satu prioritas ku saat ini saja aku tak berani (demi menunjukkan idealisme ku, aku juga perlu bilang bahwa ada prioritas lain dalam agenda hidup ku saat ini. Memantapkan karir dan going abroad tentu).

Maka, harapan untuk mendapat laki-laki impian itu sudah kau duga hanya sebatas penghias mimpi malam yang segera buyar siang saat aku bangun dan merasakan perut yang minta diisi. Aku hanya mampu membangun harapan bahwa akan ada saat dimana aku akan bertemu dengannya dan berkata “ I do”.

*Judul diatas tadinya dimaksudkan sebagai pemasangan iklan tentang kejombloanku. Tapi membaca isinya aku sendiri merasa tidak pada tempatnya judul itu diterapkan. Mungkin “Pangeran Impian” lebih pas. Tapi rasanya terlalu klise dan agak-agak teenlit gitu.