Wednesday, August 27, 2008

jogja (for the umpteenth)

i've tried to compromised with my destiny this moment. come to jogja just for meeting. not for travelling or leasuring time. and this loneliness will kill me. i even dont know what i stand for.
his remains ghost me and i still fall my tears down.

Laki-laki Beranonim

Ia mampu menghapus kekhawatiran ku untuk berhati-hati dengan orang yang baru dikenal.
Menjadi teman dalam perjalanan yang melelahkan sepanjang jogja-jakarta yang bising.
Menunjukkan dirinya bukan lelaki genit yang siap ambil kesempatan dalam kesempitan.
Bersikap dengan gentleman dan santun. Bahkan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia seorang perokok.

Dan aku mulai jatuh hati dalam waktu yang singkat itu. Namun ia tak menunjukkan ketertarikan yang lebih. Kami bahkan berpisah tanpa pamit. Membuat aku masygul. Tidak cukup menarikkah aku? Terlalu angkuhkah aku untuk direngkuh? Terlalu tinggi kah aku menempatkan posisiku?

Untuk mengobati luka aku coba menghibur diri. Mungkin ia memang lelaki baik-baik yang tak ingin mencari mencari peruntungan dan merusak hubungannya dengan seseorang yang telah lebih dulu dibina (sebuah status yang tak pernah berani aku tanyakan sepanjang obrolan kami malam itu). Mungkin pula ia memang tak memiliki ketertarikan pada perempuan (sebuah fenomena yang makin lazim ditemui saat ini dan membuat aku kerap berpandang curiga melihat dua orang laki-laki (muda) berjalan beriringan). Bila benar adanya, beruntunglah aku tak terperosok dalam kisah cinta gombal jilid dua. (meski rasa sesal itu tak jua dengan mudahnya sirna. Akankah ada kesempatan berikutnya?)

Dan aku kembali pulang dalam rasa sunyi sambil menanti P17 tiba. dalam suara panggilan subuh dan godaan usil para sopir yang mencari peruntungan. here i am. in the city with loveless...

Monday, May 12, 2008

Talk too fast

Entah telah berapa banyak yang bilang, aku kalau bicara terlalu cepat. Aku sendiri menyadari itu. Tapi untuk merubahnya kok ya tak semudah membalik telapak tangan (meski untuk penderita strok, hal yang terakhir ini bisa jadi sulit juga dilakukan). Setidaknya sebelum memulai pembicaraan atau menjadi pembicara, aku sudah memperingatkan diriku sendiri. Please be calm. Bicaralah dengan runut. Dengan intonasi yang enak diikuti dan didengar telinga (dalam hal ini aku terkagum-kagum dengan gaya bicara Pius Rengka, politisi gaek asal Manggarai, NTT atau Asmara Nababan, bos ku sendiri. Juga Hadar Gumay, orang nomor satu CETRO saat ini).

Tapi warning dari diri sendiri itu terbukti seringkali tak berfungsi. Atau berjalan. Aku sering di luar kendali diriku sendiri. Saat berbicara maunya cepat sampai. Sering tak sistematis. Otot mulut tampak sibuk berkejaran dengan pikiran yang ada di kepala. Sudah bisa diduga pula kerugian yang akan menimpa ku. Performance yang buruk, publik yang tak interest, dan aku sering tersesat sendiri. Lebih karena aku seringkali tak tau juga apa yang ingin aku sampaikan.

Mungkinkah aku perlu ikut kursus public speaking atau sejenis itu?

Monday, April 14, 2008

10 April

Rasanya agak aneh ketika bertemu orang yang mempunyai tanggal lahir yang sama dengan diri sendiri. Padahal ini bagian dari kebetulan yang biasa terjadi. Dalam satu hari puluhan, ratusan dan mungkin jutaan bayi lahir (mungkinkah mencapai angka jutaan? Entahlah). Dan mereka akan memiliki tanggal lahir yang sama. Tahun yang sama. Meski, kemungkinan untuk bertemu satu sama lain (di luar kenyataan bagi para bayi-bayi kembar tentu saja) mungkin hanya sepersekian kali (aku kesulitan mendapat gambaran yang tepat untuk mengatakan bahwa kemungkinan itu bisa jadi sangat, sangat tipis adanya). Kesempatan ini mungkin yang kemudian menjadi momen yang luar biasa bagi orang-orang yang secara kebetulan bertemu dan mendapatkan tanggal lahir yang sama. Apalagi tahun yang sama. Ini bisa jadi membawa efek psikologis yang luar biasa. Merasa surpraise. Mungkin juga istimewa.

Aku belum pernah mengalami momen ini. Bertemu dengan orang yang memiliki tanggal lahir dan tahun yang sama. Tapi perasaan yang luar biasa itu cukup termampiri saat aku bertemu orang yang memiliki tanggal lahir yang sama dengan tahun yang berbeda tanpa pernah aku duga sebelumnya. Perasaan itu tentu saja pada akhirnya tidak memberi efek apapun di kemudian hari. Kecuali menjadi penanda yang mungkin agak sulit dilupakan.

Maka, selain berucap selamat ulang tahun bagi diri sendiri pada tanggal 10 April ini ucapan yang sama berlaku pula untuk Nurhalis Majid, laki-laki asal Banjarmasin yang aku kenal lewat jaringan kerja sejak tahun 2003 namun baru kudapati bahwa kami memiliki tanggal lahir yang sama pada detik terakhir pertemuan acara kami di Hotel Niko selang dua hari dari tanggal istimewa kami tahun lalu.

Lalu ada Salsabila Rihadatul Aisyah. Ponakan kecil dari adikku yang cerewet luar biasa. Dia lahir 10 April tiga tahun yang lalu tengah malam dengan operasi cesar. Aku tak turut menyaksikan proses kelahirannya.

Setelah itu ada pula Fauzi Bowo, Gubernur DKI terpilih saat ini yang diusung oleh partai-partai besar (sangat disayangkan nyata bahwa ia memilih dari kalangan militer sebagai wakil yang mendampinginya saat ini. Mungkin ada hitung-hitungan taktis bagi dirinya. Tapi tetap saja aku merasa dia bukan figure “yang gue banget”).

Juga Bayu Sutiyono, presenter berita di SCTV (aku tak tau apakah masih? Mengingat makin jarang ku temui wajahnya di layer SCTV saat ini).

Yang juga cukup mengejutkan adalah saat membaca CV Ade Indriani Zuchri, jaringan asal Palembang yang sempat aku kenal saat pertemuan di Jambi entah dua atau tiga tahun yang lalu. Penampilannya cukup charming dan energik. Menarik perhatian aku sendiri untuk menjadikannya sebagai key informan riset kami tahun ini. Meski kabarnya ia penuh kontroversi (beberapa kasus keuangan dikabarkan sempat menjadi masalah yang perlu dihati-hati saat berurusan dengannya). Toh akhirnya ia berhasil melampaui segala sikap skeptis yang sempat dilekatkan padanya. Meski mungkin untuk sementara. Dan usianya persis hanya terpaut setahun lebih tua dari aku.

Untuk dunia selebritis, dua artis yang aku tau punya tanggal lahir yang sama dengan aku adalah Meriam Bellina (dengan peran yang suka marah-marah melulu di sejumlah sinetron) dan Mandy Moore, artis muda seangkatan Britney Spears dan Christina Aquillera yang rasa-rasanya tak terlalu moncer karirnya di Hollywood (tapi aku suka dengan actingnya sebagai Molly di "Because I Said So", akting yang jauh lebih menarik dibanding aksi Britney di "Crossroad" yang sangat sangat memble...)

Gone #3

Aku buka account emailnya. Account email yang pernah aku buatkan untuknya. Dan kembali tak bisa kubendung air mata. Ia, entah kapan persisnya, aku menduganya belum lama ini, telah mengajak –gosh aku tak sanggup melanjutkan kata-kata ini………

So they went to Johor. The place he had promised me to invite. Then he never invites me to come. Never…

Aku remuk. Redam. Gosh, I really want to die. It's over when it's over. But I still can't figure it out. Just take me out from this bastard... Please.. please.. I'm dying...

Gone #2

Kemarin malam aku mimpi buang hajat (agak keras dan seingat ku sampai dua kali). Aku nyaris percaya takwil mimpi tentang ini. Orang bilang kita akan kehilangan sesuatu. Aku percaya kehilangan itu lebih berbentuk materi. Sedikit khawatir mengingat aku tengah tak siap kehilangan uang saat ini. Rasa khawatir yang segera aku tepis dengan doa, Tuhanku jangan kau tambah lagi rasa pahit hidup ku saat ini dengan kehilangan yang aku miliki.

Lalu di malam dengan gerimis yang masih sering turun si bluesman itu datang (aku pernah bilang dia laki-laki penuh kejutan kan?) Dengan mobil yang tak aku ingat persis. Honda city mungkin. Dan supir perempuan urban yang diakuinya sebagai ceweknya. Rupanya ia datang untuk mengangkut barang yang entah berapa bulan teronggok di kamar ku. Oh, baiklah. Tak masalah. Dalam hati aku berharap mudah-mudahan inilah kehilangan yang harus impikan malam sebelumnya. Dan karena aku tak ingin menjadikannya sebagai kisah romanku maka aku putuskan kisah tentang laki-laki ini sebaiknya tutup buku saja.

Gone

Terus terang aku kecewa saat tau aku tak lolos chevening award yang sudah aku lamar sedari tahun lalu. Ini harapan besar ku untuk melanjutkan hidup. Aku tak punya keinginan apa-apa lagi. Kecuali meninggalkan segala kehidupan yang saat ini makin ku rasakan begitu penat (aku pernah bilang tak ingin menghabiskan hidupku dengan rutinitas yang telah kujalani selama ini kan?).

Tahun ini aku akan 31 tahun. Masih single (aku masih suka menangis mengingat ketololanku berharap pada laki-laki tak bisa dipercaya itu). Dan begitu bosan dengan pekerjaan ku sekarang (minggu-minggu ini aku kembali bertengkar dengan teman kantor yang membuat aku makin merasa tak betah. Kau tau, saat aku mengancam untuk quit, dia malah menantangku untuk segera mengambil keputusan itu. Gila!).

Telah lima tahun aku di Demos. Dengan penghasilan dan perkembangan karir yang aku rasa berjalan seperti keong. Aku ingin melepaskan semuanya. Dan chevening menjadi tiket andalan ku. Namun semua musnah. Aku tak tau lagi bagaimana melanjutkan hidup (aku telah tamat membaca lascar pelangi-nya andrea hirata yang kabarnya mampu membangkitkan semangat hidup. Tak juga kudapatkan kobaran semangat itu. Yang ada malah makin jealous dengan kesempatannya bisa melanglang buana).

Mengingat itu semua membangkitkan keinginan lama ku untuk segera mati saja. But how? Aku takut pada percobaan yang gagal. Aku ingin mati. Tapi tak ingin merasakan sakitnya. Keinginan yang mengingatkan aku pada aksi Zang Ziyi saat meluncur dengan indah dari gunung demi mendapatkan keinginan abadinya dalam “Crouching Tiger Hidden Dragon”.
Bisakah kita seperti itu?

Wednesday, December 19, 2007

Catatan (menjelang) Tahun Baru

Sms lumayan panjang yang dikirim Elis, temanku yang kenes dan modis juga mahir berbahasa Inggris, pagi ini menggugah niatan ku untuk nulis ini.

Daam bahasa Inggris yang sudah aku bilang telah menjadi kemahirannya, dia berkisah tentang kesyukurannya pada anugerah 2007 yang dikecapnya lewat; terselesaikannya program master of english linguistics di unika atmajaya-nya yang sempat tertunda beberapa tahun, kesuksesan pindah ngantor-nya ke TNC (kantor international yang pastinya bikin gayanya makin mentereng. dia juga sempet singgung soal kesepakatan perubahan iklim di Bali kemarin), perjuangannya untuk tetap mempertahankan perkawinannya yang telah menghasilkan seorang putri 'ndut dan imut berumur 6 tahun (aku jarang bertemu dengannya. berita yang dikelompokkan olehnya sebagai berita baik ini tentu dapat dipastikan juga lewat perjuangan darah dan air mata ;-)), dan.... kesempatan pertamanya menjejak kaki di tanah Paman Syam.

kau pasti tau, apa yang menggugah seleraku untuk menulis. tentu kalimat terakhir itulah. bukan kesuksesan studinya (yang meski pernah aku tanyakan secara basa-basi barang satu dua kali) atau kesuksesannya berumah tangga (meski, aku bisa tegaskan sekali lagi lewat perjuangan yang disertai dengan darah dan air mata ;-)).
hm..., akhirnya berhasil juga dia menambah cap di buku pasportnya. sementara aku...

sebelum membahas lebih jauh soal itu, otakku melayang-layang ke bilik lain. mungkin juga tahun 2007 ini menjadi anugrah bagi banyak orang. aku ingat sms yang tiba-tiba dilayangkan Kokom, perempuan yang aku kenal karena sama-sama menjadi pasien di rumah sakit Mitra Jatinegara beberapa tahun lalu (rumah sakit yang bikin aku kapok karena mahalnya). meski, ia sempat menagabarkan berita duka karena dirinya yang kembali terserang tifus (penyakit yang sumpah mati juga tak ingin aku idap lagi) ia mengabarkan berita gembira yang tak aku duga. ia telah mimiliki seorang anak laki-laki berumur satu tahun. anak yang sudah sangat didambanya karena usia perkawiannya yang telah memasuki belasan.

kami tak pernah bertemu lagi setelah masing-masing dinyatakan sembuh dari rumah sakit. tapi kabar dimilikinya anak berumur satu tahun mengingatkan aku paling tidak usia pertemuan kami telah lewat dari dua tahun. dan, lahirnya Farel, nama anak laki-lakinya itu, pasti tak terjadi dalam tahun 2007 ini. meski begitu, aku bisa berkukuh bahwa anugerah itu telah dicecapnya pada tahun 2007 ini. setidaknya lewat kabar yang aku terima lewat sms-nya di akhir tahun ini.

Dan... anugerah terindah tahun 2007 mungkin akan menjadi milik Yus, teman yang juga aku kenal secara tak senagja lewat keaktifannya menjadi panitia kursus jurnalisme sastrawi-nya Pantau. Ia seumuran kakakku. Gerapyak, kata orang Jawa. gampang akrab dengan orang. meski kadang punya ide-ide aneh (dia pernah mengajakku shalat tengah malam di mesjid istiqlal pada hari jadinya dan berniat mejadi bos odong-odong di kampungnya di makassar sana, yang entah berhasil dijalankannya atau tidak).

Tanggal 24 Des besok pasti akan menjadi tanggal bersejarah bagi Yus karena ia akan resmi menjadi nyonya Tiyo, laki-laki yang hanya aku tau lewat foto dalam kertas undangan yang dikirimnya lewat celah pintu kamarku. fotonya sih lumayan keren. dengan usia yang pernah diakuinya secara malu-malu lebih muda usianya dari dirinya sendiri. aku telah membayangkan rona bahagia itu. ah, akhirnya.... ia akan mengutip syair Barbara Straissand. Finally, i found some one... kalimat yang pastinya juga menjadi bagian dari pencarian dalam hidup ku.

lalu bagaimana dengan aku?
aku sendiri tak yakin 2007 adalah tahun anugerah dalam hidup ku. aku masih di sini. dengan keruwetan hidup peninggalan masa lalu. beberapa perubahan terjadi. yang aku anggap tak terlalu signifikan (mengingatkan aku pada label hidup tak bahagia yang kerap diberikan the blues man pada ku. btw, kau sudah kenal orang ini kan?).

mungkin juga aku orang yang sinis pada hidup ku sendiri. tak pandai bersyukur. seperti yang sudah aku bilang, perubahan terjadi. sedikit. yang aku ingat saat ini bahwa aku tak lagi terlalu termehek-mehek pada kisah romanku. meski kadang rasa perih mengoyak perasaanku.

yang menjadi fokus utama ku saat ini dan kerap menimbulkan rasa cemburu luar biasa adalah, bagaimana caranya aku mencecap hidup di luar negeriku sendiri. betapa inginnya aku menjelajah ke luar negara ini. negara yang kadang bikin aku muak. aku ingin melihat dunia lain. merasakan rasa lain yang telah dirasakan banyak teman ku di negara lain. merasakan kebebasan yang mungkin tak kita temui di negara kita sendiri. selain menjadi semakin mahir dalam berbahasa asing (sebuah kemampuan yang sungguh sering membuat aku merasa putus asa sangking bebalnya). dan bukannya tetap berdiam diri di sini. sementara orang telah menambah panjang daftar riwayat hidupnya dengan bepergian ke Eropa, Amerika, Australia, bahkan pelosok Afrika (yang entah mengapa semua nama benua ini berakhiran vokal sama).

Jadi, kalaupun kau bertanya, kapan? aku berharap pertanyaan itu bukan pertanyaan sama yang diajukan pada Ringgo Agus yang bisa dijawab dengan jawaban yang sesungguhnya mudah ditebak. May.

Bertanyalah padaku, jadi kapan... menjadi manusia global?
karena aku tak ingin menghabiskan sisa umurku hanya di sini...

Friday, November 16, 2007

Jakarta Basah

Lama tak ngeblog. Tak mood. Tak ada ide. Sementara ribuan blog tercipta dengan bagusnya. Aku sering berapologi, mungkin bila aku bisa dengan mudahnya konek ke internet, tanpa batas dan halangan, akan makin rajin nulis. Mungkin juga tidak. You know who am I. sukanya ngayal yang tinggi-tinggi. Ngarep yang gak-gak.

Back to me again. Puluhan peristiwa berseliweran sementara aku vakum. Ada kisah roman, melodrama, sedikit ketegangan, kesenangan, dan rasa bosan yang masih betah bertahan. Aku akan tulis yang aku ingat saja. Mulai dari yang paling dekat.

Sudah beberapa hari ini Jakarta basah. Hujan berhari-hari. Gangguan rutin terjadi. Macet. Pohon tumbang. Banjir. Aku tak merasakan langsung semua gangguan itu. Aku sibuk menginstall laptop ku dengan game-game baru kemarin. Mencobanya satu per satu sampai mataku menyerah. Menyelesaikan tulisan tentang "Benteng Keraton Buton" yang aku harap bisa dimuat Kompas. Kalaupun tidak, ingin aku lempar ke National Geographic versi Indonesia. Meski mungkin agak berat. Menetapkan niat untuk kursus renang meski hari ini, lagi, niatan itu kembali batal. Setidaknya aku sudah berusaha. Terdampar sampai Jatinegara dan memutuskan kembali karena tak kunjung mendapat angkutan ke tempat kursus. Di Jatinegara otak ku berfikir cepat. Kemana harus menghabiskan hari. Aku putuskan untuk nonton “lions for lambs” di Megaria. Ini film serius. Beberapa dialog aku lewati. Entah tak mengerti atau tak konsentrasi. Aku ingat acara nonton dengan “the bluesman” yang sebentar lagi akan aku rinci. Lalu pulang dalam rinai gerimis yang kadang turun dengan serius. Jakarta basah.

Aku ingat pertemuan terakhirku dengan “sang kelana”. 3 September 2007. Di Novotel Mangga Dua. Aku ingat karena aku melingkari tanggal itu di kalender dindingku. Firasat akan pertemuan terakhir. It would be. Sudah dua bulan lebih dan tak ada tanda-tanda kegairahan darinya. Sementara aku makin menikmati kesedirianku. Tak sepenuhnya sendiri. Beberapa kali aku habiskan bersama “the bluesman” yang –seperti aku sudah bilang—akan aku rinci nanti. But let me finish it first dengan “sang kelana”.

Setelah tanggal 3 September itu ia ada sekali kontak aku. Lewat sebuah sms. Bukan telepon (sebuah tindakan yang sesungguhnya aku tunggu). Beberapa hari menjelang lebaran. Ia ingin aku menemuinya di Red Top. Aku acuhkan smsnya. Berharap ia melakukan lebih dari itu. Tapi ia tak pernah telepon. Menanyakan keacuhanku.

Sebuah sms kembali dikirimnya di hari lebaran. Sms basa-basi. Mengucap selamat lebaran dan mohon maaf lahir batin (ia biasa menggunakan kata “zahir batin”). Kembali aku acuhkan. Tak aku balas. Dan telepon itu tak pernah dilakukannya. Hingga kini. Dan aku mulai terbiasa untuk memupus segala harapan. Meski sesekali aku menyebut namanya. Saat merasa rindu. Tak lebih. Karena ini kisah roman. Sementara Jakarta basah.

Lalu ijinkan aku berkisah tentang “the bluesman”. Sedikit saja. Karena aku pernah secara khusus menulis tentangnya. Tapi aku hapus. Karena aku tak ingin menjadikannya kisah romanku. Aku malu mengakuinya.

Aku mengenalnya lewat reunian setelah acara hunting kami di Pulau Untung Jawa (akhirnya kutemui juga teman yang adalah seorang fotografer). Usianya setahun lebih muda dari aku. Kadang aku menikmati hari-hari yang aku habiskan bersamanya. Keliling Jakarta tengah malam hingga pagi menjelang. Atau nonton dvd bajakan secara marathon di kamarku yang disulap menjadi bioskop tanpa sound system yang memadai. Ia penuh kejutan. Meski bukan sepenuhnya tipe ku (aku masih sering membandingkannya dengan “sang kelana”). Sama halnya aku yang tak masuk dalam kategori sebagai “his girl”. Tapi seperti aku bilang, aku menikmati hari-hari yang dihabiskan bersamanya. Kerap merasa kehilangan saat ia tiba-tiba menghilang tanpa kabar (hal sama yang sering dilakukan “sang kelana”. Apakah ini memang kebiasaan laki-laki?). Merasa “cemburu” saat ia menelpon perempuan yang suatu saat diakunya sebagai mantan pacar namun kali lain dibanggakannya sebagai perempuan yang istimewa (aku sempat mengintip rekaman gambar seorang gadis manis bertubuh lencir bersuara merdu miliknya).

Aku tak ingin memupuk harapan. Tak ingin kembali masuk sebagai cinta kedua. Tak ingin terlena. Meski setan kadang menggoda. Sampai pecah perang dingin itu. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata tak terkendaliku dalam sebuah balasan sms. Aku sendiri tengah merasa mangkel. Lebih dengan perasaanku sendiri. Aku tak ingin jatuh cinta dengannya. Meski setan makin sering menggoda. Tak tau malu. Ia benar-benar menghilang. Meski masih banyak barangnya yang tersisa di kamarku. Ini bukan kisah roman. Setidaknya aku menginginkannya begitu. Sementara Jakarta basah.

Di luar itu aku ingin menulis tentang kesuksesanku membeli sepeda. Polygon dengan warna yang cantik. 1,3 juta rupiah. Sebuah benda yang sesungguhnya bisa memicu ingatanku pada “the bluesman”. Mengingat kecintaannya pada sepeda dan selalu meracuniku untuk membelinya. Aku masih gugup mengendarainya. Minggu pagi lalu dalam uji coba pertamaku seorang bocah sukses menjadi korban kegugupanku.

Masih soal kendaraan, hasil patungan aku dan ibuku, kami akhirnya berhasil memiliki sebuah kijang second. 36 juta. Aku tak ingat persis spesifikasinya. Secara fisik aku anggap lumayan. Memacu gairahku untuk bisa nyetir. Entah kapan. Banyak peristiwa terjadi. Sementara Jakarta basah.

Thursday, June 21, 2007

kali ini tak ada lagi cinta.

Tidur Bersama Semut

sudah beberapa hari hiliran semut mondar-mandir di ruang kontrakkanku. kadang aku membersihkannya dengan melibas langsung dengan sapu (kali ini tak ada lagi ampun. rasa tak tega membunuh seekor semut pun sudah lenyap entah kemana). kadang kubiarkan saja rombongan itu lewat di pojok-pojok ruang. seakan dapat berdampingan hidup dengan mereka.

tapi rasa mengganggu mulai mengusik saat rombongan itu secara berkala melewati alas tidurku. aku mulai curiga ada sesuatu dibawah alas tidur ku. sempat terfikir untuk mengadakan pembersihan total suatu saat nanti. apalagi aku baru saja luluran beberapa hari sebelum ini. meninggalkan rasa lengket di lantai yang belum dibasuh dengan kain pel. meski, jadwal pembersihan total itu sendiri aku tak pasti.

siang ini, setelah makan siang dengan lauk urap yang luar biasa pedas, aku merasa kembali ngantuk. (come on, padahal aku baru bangun jam 11.30 hari ini). berniat ingin kembali merebahkan badan. kembali kulihat hiliran semut itu. sempat berfikir yang tidak-tidak. khawatir menemukan bangkai sesuatu yang membuat pasukan itu rajin bergerombol ke tempat ku. (aku pernah menemukan bangkai tikus pada alas tidur di rumahku dulu. benar-benar peristiwa horor!)

dengan rasa horor bercampur gemas ku singkap alas tidur yang terdiri dari tumpakan dua kasur lipat. dan aku mulai bergidik melihat pasukan semut yang nauzubillah banyaknya. gosh! rupanya mereka telah membuat rumah di bawah alas tidur ku. dan rumah mereka berawal dari kardus yang menjadi dasar alas tidurku.

hampir setahun lalu aku mendapat kiriman kulkas dari seseorang yang tak perlu kau tau lebih jauh. kulkas dengan kapasitas 120 liter (kalau tak salah) ku letak di ruang belakang. berdampingan dengan ruang cuci piring dan kamar mandi. aku sempat bingung dimana menyimpan kardus pembungkus yang lumayan tebal itu. ide brilian datang dari ibu kos ku yang menyarankan untuk dijadikan dasar buat alas tidur ku. "biar tambah anget", katanya.

aku sepakat dan mengagumi sarannya yang terbukti manjur itu. kebetulan pula ukurannya pas dengan alas tidur ku. sampai terjadi peristiwa horor itu.

beberapa hari sebelumnya aku sempat tak nyaman dengan bau apek yang kadang muncul saat aku menggulingkan tubuhku di sudut ruangan. mengganggu nyenyak tidurku. sementara aku tak tau dari mana sumber bau apek itu. awalnya sempat menduga bau apek itu berasal dari laba-laba yang secara berkala juga mampir dan membuat rumah di sudut-sudut ruanganku. aku sudah membersihkannya. entah karena sugesti, bau apek itu sempat hilang dari penciuman ku.

tapi beberapa hari ini bau apek itu kembali menyeruak. seingatku, aku pernah membersihkan alas tidur ku beberapa waktu lalu. sudah lama memang. seingat ku pula, tak ku temukan sesuatu yang mencurigakan saat itu.

aku memang sering merasa tak nyaman dengan ruang tidur ku yang sekarang. lembab (aku pernah mengeluhkan hal ini sebelumnya bukan?). namun, kardus lapuk (aku hampir dapat memastikan salah satu penyebabnya adalah lantai yang belum kering benar saat aku kembali merapikan alas tidur ku beberapa waktu yang lalu) yang akan menjadi sarang bagi ratusan bahkan mungkin juga ribuan semut benar-benar tak pernah terbayangkan oleh ku. aku termenung-menung sendiri. jadi (entah telah berapa lama) aku tidur bersama pasukan semut itu. mereka memang tak terlalu mengganggu ku. beberapa sempat melintas tubuh ku. tapi bisa aku libas dengan kibasan tangan. tak ada serangan balik. menggigit atau masuk ke lubang-lubang yang ada dalam tubuh ku. mungkin mereka tau aku masih hidup. aku hampir pasti, bila aku telah menjadi mayat tak akan ada bedanya aku dengan bangkai cecak atau kecoa yang tak lagi utuh karena telah dipenuhi oleh pasukan mereka.

Monday, June 04, 2007

Roman Picisan

Hari ini tak satu pun panggilan atau sms masuk ke handpone ku. Senyap. Aku memang tak punya banyak teman. Tak juga punya hubungan khusus dengan seseorang yang membuat ia begitu rindu untuk menghubungiku. Dan kesunyian itu membunuhku pelan-pelan. Meski tetap berusaha ku tepis dengan upaya-upaya keras membesarkan hati sendiri.

Sebagai bagian dari membunuh sepi dan membesarkan hati itu aku nonton sendiri. Ini bagian dari aktifitas rutin sebenarnya. Menonton di hari senin demi mendapatkan tiket yang lebih murah. Dan 99%-nya kerap ku lakukan sendiri. Termasuk menebalkan perasaan saat melihat para pasangan yang asyik masyuk sendiri.

Tebalnya perasan itu kerap terkikis saat aku memasuki momen berikutnya. Makan malam sendiri. Aku sering tak mampu lagi memanipulasi diriku sendiri. Telah ku upayakan untuk mencari teman untuk aktifitas ini. Namun sebagaimana sudah aku bilang, teman ku tak banyak. Dan aku lebih sering mendapati kegagalan disbanding kesuksesan saat mengajak teman ku yang tak banyak itu untuk sekedar menghabiskan waktu beberapa menit melakuakn aktifitas makan malam bersama.

Lalu kau pun bisa menebak aku akan menyusuri jalan pulang sendirian. berjalan melewati rute yang biasa ku tempuh. Kadang aku menikmatinya. Sebagaimana kau tau aku tak begitu suka dengan kebisingan. Aku akan memilih diam dan menyendiri di tengah keriuhan. Aku sangat membatasi segala bentuk komunikasi bahkan dengan orang tuaku sendiri. Aku sering tak mampu mengungkapkan pikiran dan perasaanku pada orang lain dengan baik. Namun kenikmatan itu kadang ada batasnya. Dan kerinduan untuk berbagi perasaan dengan orang lain secara intim kerap menyobek-nyobek emosiku sendiri. Menumpahkan airmata.

Ah, berapa banyak orang seperti aku? Para jomblo kesepian dengan sederet keterbatasan yang tak mampu dipecahkan?

Announcement *

Tepat 10 april lalu usia 30 ku jelang. Ada kekhawatiran sendiri mengingat usia biologis perempuan untuk punya anak terbatas. Aku bisa saja kukuh dengan pendirian pura-pura tegar ku untuk tak perlu peduli dengan sindiran kiri kanan dan mempersiapkan diri untuk tetap melajang. Dan adopsi anak bila perlu (kau pasti tau betapa banyaknya anak terlantar di negera bodoh ini). Tapi, sebagaimana kau duga, rasa cemburu terhadap pasangan-pasangan atau teman angkatan yang entah sengaja atau tidak pamer kemesraan dengan keluarga kecil mereka kerap menonjok perasaan ku. Mengendap dalam pikiran dan membangun cerita sedih pada malam-malam tak bisa tidur ku.

Ya, ya, aku juga bisa bilang bahwa aku pernah mencoba menjalin hubungan. Yang kalau mau dihitung secara acak berjalan hampir lima tahun. Sudah bisa menghasilkan seorang anak yang sedang lucu-lucunya kalau mau. Tapi aku tak ingin lagi mengingat-ingat masa lalu. Aku, seperti yang pasti bosan kau dengar, ingin memutus kenangan itu. Bertemu orang baru yang mengajak ku menjelang hidup baru.

Bagaimana pun aku ingin mendapatkan yang terbaik untuk hidupku. Termasuk harapan ditemukannya laki-laki yang tepat untuk ku. The right man on the right place. Sorry to say, kalau aku tetap idealis untuk mendapatkannya. Meski aku tak tau harus mencari kemana. Pasang iklan atau gabung di biro jodoh, aku tak punya cukup nyali. Mengaku pada orang bahwa mendapat pasangan menjadi salah satu prioritas ku saat ini saja aku tak berani (demi menunjukkan idealisme ku, aku juga perlu bilang bahwa ada prioritas lain dalam agenda hidup ku saat ini. Memantapkan karir dan going abroad tentu).

Maka, harapan untuk mendapat laki-laki impian itu sudah kau duga hanya sebatas penghias mimpi malam yang segera buyar siang saat aku bangun dan merasakan perut yang minta diisi. Aku hanya mampu membangun harapan bahwa akan ada saat dimana aku akan bertemu dengannya dan berkata “ I do”.

*Judul diatas tadinya dimaksudkan sebagai pemasangan iklan tentang kejombloanku. Tapi membaca isinya aku sendiri merasa tidak pada tempatnya judul itu diterapkan. Mungkin “Pangeran Impian” lebih pas. Tapi rasanya terlalu klise dan agak-agak teenlit gitu.

Tuesday, January 02, 2007

Mati (lagi)

saat hiruk pikuk orang omong soal tahun baru yang baru beberapa jam aja lewat,
saat para paranormal kembali jadi bintang untuk didengar ramalan-ramalannya,
saat stasiun teve lagi banyak-banyaknya muter film-film box office, breaking news itu datang.

aku membacanya lewat headline text yang dipasang sctv saat mereka muter film abg "catatan akhir sekolah" yang aku tonton secara berselang-seling dengan "johnny english"-nya trans teve. pesawat adam air diberitakan hilang kontak pada senin malam itu. segera aku membayangkan para penumpang yang panik tak tau apa yang tengah terjadi pada penerbangan mereka. mereka mungkin saja telah tenggelam di samudera luas dan baru akan ditemukan bangkai-bangkainya kemudian. atau terdampar di hutan belantara dengan persediaan yang minim. (segera kubayangkan cuaca dingin di tengah hujan yang menggigit dan service pesawat yang menyakitkan).

kembali aku bayangkan cita-cita angot-angotanku bila aku tengah merasa tak punya daya hidup untuk pergi ke suatu tempat tanpa pernah kembali. tapi aku yakin bukan peristiwa seperti itu yang aku inginkan.

Wednesday, November 29, 2006

It is Refresh Me up

thx to gave beautiful moment this night, cam... .

Nawal el-Sadawi

Tak percaya akhirnya aku berhasil bertemu dengan pengarang yang aku kagumi itu. Tadinya aku malah tidak berfikir bahwa ia masih hidup (pikiranku pasti dikacaukan dengan pengarang dari mesir lainnya, najib mahfouz, yang telah pergi beberapa bulan lalu. Pikiran bodoh sekaligus memalukan). Aku menemuinya dalam suatu acara yang sangat kebetulan. Saat aku begitu suntuk dan butuh “sekedar bahu untuk menangis” berharap ada jalan keluar. Lalu aku kontak lisa temanku. Meski aku tau, tak ada teman yang benar-benar bisa kita harapkan saat kita punya masalah. Ingat motto ku selalu kan? Semua orang punya kesibukan dan masalahnya sendiri-sendiri.

Lisa memang sempat menerima teleponku, meski saat aku tanya,”lu sibuk? bisa ketemuan?" Ia tanpa sungkan-sungkan menjawab, "iya sih". Dan telepon sempat terdiam beberapa saat karena ia harus menemui tamunya di seberang sana, menurut pengakuannya.
"Tapi… kalo lu mau, kita bisa ketemuan ntar malam, gue ada janji nemenin temen gue dari Jordan. Lu gabung aja", tutupnya mencoba membesarkan hatiku.

Aku sempat menolaknya. Buat apa aku berada ditengah orang-orang yang tengah klangenan? Lagipula aku butuh privasi untuk membicarakan masalahku. "Gue butuh ketemu sekarang lis, gak mesti sama lu sih, tapi sama mbak tati. Soal fiscal gue", desakku mengungkap masalah yang sempat bikin aku sumpek dan jutek beberapa hari belakangan ini. Soal ada apa dengan fiscalku itu sendiri rasanya tak ingin aku perpanjang pada judul ini. Pada judul lain mungkin. Meski aku tak janji.

“Lu datang aja ntar sore di galeri nasional, ada Nawal disana,” kembali lisa memberi alternatif.

***
Awalnya aku tak jelas dengan acara ini. Ku pikir ini acara yang sekedar membahas buku-buku Nawal tanpa pernah menghadirkan secara langsung pengarangnya. Meski tetap aku niatkan untuk datang. Tujuan pertama tentu bisa bertemu tati dan ia bisa menjadi malaikatku sore itu. Meski aku tau ini harapan yang sangat berlebihan dan praduga itu terbukti benar. Tujuan lainnya tentu mencari udara lain. Keluar dari kantor dan rutinitas sejenak agar dapat sedikit melupakan masalah yang tengah aku hadapi. Tujuan ini ternyata lebih ampuh dari sekedar dugaanku sendiri.

Aku datang telat. Sempat jutek dengan sapaan penerima tamu yang menurutku sangat tidak sopan. Padahal ia jelas lebih tua dari aku. Perempuan pula. Dan mungkin pula aktifis. (lalu apa hubungannya?)

"Dari mana mbak?," tanyanya.

"Demos", jawabku.

"Oh… disini", lanjutnya sambil menunjuk pada buku tamu yang dikhususkan bagi media.

"Saya bukan dari media mbak. Dari LSM. Demos", jawaku mengulang ucapanku semula.

"o… anak buahnya…."

"Asmara nababan," kataku memotong kiraanya

"Anak buahnya boni ya?", tuduhnya tanpa menghiraukan jawabanku sebelumnya

"Padahal kita ngundang mas boni lho… eh, yang dateng anak buahnya…"

Aku menahan diri sambil berusaha dengan tenang menulis nama dan alamat kontakku. Padahal betapa inginnya aku membalas perkataannya, "dengar ya mbak, boni gak pernah bilang ada acara apa-apa tuh. Dan saya bukan anak buahnya…", batin ku geram. Arrrgghhh....!!! hari gini ngomong istilah anak buah?!

Ingin sekali aku tambahkan kegeramanku lebih panjang lagi, "saya di demos lebih lama dari boni jadi mungkin ia lebih pantas jadi anak buah saya, tapi kita semua teman. Bukan subordinasi".
Tapi semua geraman itu aku tentu saja tetap aku simpan dalam hati. Aku tetap tenang sambil menyerahkan kartu namaku saat penerima tamu yang perempuan senior itu memintanya (see? Aku berhasil bertindak dewasa kali ini bukan?)

Aku masuk ruangan dengan peserta yang pikuk. Kebanyakan perempuan. Dari beberapa generasi. Ninuk Mariana Pambudy baru saja menyelesaikan uraiannya tanpa pernah aku tau apa isinya. Mataku segera menangkap sosok itu. Duduk ditengah diantara para pembicara. Berambut perak dengan kuncir kuda tersisir rapi. Semua putih. Mengingatkan aku pada rambut Adnan Buyung Nasution. Kemeja yang dikenakannya pun berwarna putih. Lengan pendek dengan garis vertical berwarna merah muda. Wajahnya kelihatan bersahaja. Segera ku cari tempat duduk saat aku tau aku belum tertinggal untuk mendengarkan khotbah-khotbahnya.

Then she became the only one star on the stage. Pernyataan-pernyataannya begitu memukau. Menggairahkan semangat hidup. Mengingatkanku pada Pram. Juga kesamaan keduanya pada ketuliannya. Sehingga setiap penanya harus berdiri mendekat dengannya dan menggunakan mikropon.

Audiens begitu bersemangat bertanya padanya. Dan semua pertanyaan dijawabnya dengan jawaban-jawaban yang sangat memukau. Aku hanya sempat mengingat dan mencatat beberapa saja.

"Nawal, bagaimana mungkin kita selamanya menjadi pemberontak, seperti prinsip anda, padahal dalam hidup selalu ada aturan-aturan yang tak bisa kita lampaui?", gugat penanya petama yang langsung diresponsnya dengan senang.

"Good question. I already get this question in every place I go", katanya sambil tersenyum…."maka berkreasilah. Be creative. Creativity is change the rules. Make a new rules. Jangan selalu tunduk pada peraturan-peraturan yang mengekang kita". Begitu kira-kira jawabannya.

Lalu saat ditanya soal pendidikan?
"Education dependent on political system. If system good, education will be good and we don’t need pay to our education. That’s our basic need" yang langsung di timpali dengan tepuk tangan audiens.

Pertanyaan lain dari Jajang C. Noer yang tampaknya menyempatkan diri untuk hadir (aku beberapa kali bertemu dengannya pada acara-acara diskusi tentang perempuan),
"pandangan anda untuk tidak tergantung pada siapapun, termasuk suami, agar kita bisa berfikir dan bertindak merdeka, menjadi tambahan referensi bagi saya, hal lain yang ingin saya tanyakan adalah, sebagai muslim apakah anda shalat?"

Secara diplomatis ia menjawab, "dalam kepercayaan asli masyarakat Mesir kami mengenal dua bentuk tuhan. Laki-laki dan perempuan. Dari sanalah kita mengenal konsep-konsep penciptaan dan pemeliharaan alam. Namun agama-agama besar seringkali mereduksinya menjadi tuhan laki-laki yang sangat berkuasa dan kita menjadi takut padanya. Menjadi harus tunduk padanya dengan segala keterpaksaan. Ini agama yang sungguh-sungguh maskulin dan saya kira kita bebas untuk menentukan apakah kita harus merasa takutnya atau tidak".

Jawaban menarik lainnya dan sangat diluar dugaan buatku adalah saat ditanya, "apa pendapat anda terhadap profesi full time mother?"
Ia dengan tangkas menjawab, "anda harus tau, dan seharusnya kita semua sadar, tidak ada istilah full time mother atau father, karena anak butuh space bagi dirinya sendiri. Jangan dikira anak-anak butuh selamanya diawasi atau didampingi. Mereka butuh ruang bagi dirinya sendiri. Beri mereka kebebasan". sebuah jawaban yang segera mendapat tepuk tangan audiens. Riuh.

Aku menyukai jawaban-jawabannya yang tak terduga. Dan sempat menimbulkan rasa penasaranku untuk bertanya langsung padanya. Meski kesempatan itu tak pernah ada. Panitia merasa punya kewajiban untuk membatasi waktu dengan alasan kesehatannya. Nawal sendiri tampak telah mengisyaratkan hal itu. Meski ia tetap memberi kesempatan bagi siapapun yang tidak diberi kesempatan bertanya lagsung untuk mengirimkannya lewat emailnya.

aku berhasil mendapatkan alamat emailnya. Secara langsung. Atas tulisan tangannya sendiri. Dengan perjuangan yang tidak ringan. Menerobos kerumunan orang-orang yang ingin mendapatkan tanda tangan atas buku-bukunya, para wartawan yang entah dari mana asalnya yang masih mencecarnya dengan banyak pertanyaan, dan usiran panitia untuk membubarkan kerumunan dan memberi ruang bagi Nawal untuk beristirahat. Aku sempat berjanji pada diriku sendiri untuk berkorespondensi dengannya nanti. Meski kau pasti tau, niatan itu tak juga kesampaian sampai hari ini.

***
Kalau kau tanya apa yang akan aku tanyakan padanya bila kesempatan itu ada, aku akan bertanya apa arti penderitaan baginya, dan bagaimana ia berhasil melampaui semua rasa sakit itu?
Meski aku bisa menduga apa jawabannya. Pasti ia akan menjawab, menulis. Buatlah menulis sebagai terapi sekaligus pengobatan bagi rasa sakitmu. Seperti yang telah ia lakukan pada puluhan karya-karyanya. Seperti yang tengah aku lakukan saat ini. dan aku akan kembali menambahkan jawabnya, biasanya orang akan begitu productive, akan menghasilkan karya monumental saat ia berada dibawah tekanan.

Jadi peliharalah rasa sakit itu. Agar kau tau apa arti berjuang dan menghasilkan karya-karya monumental karenanya.

Bank Budi

Sebarkanlah kebaikan maka kau akan mendapatkan balasan lebih dari kau kira.

Betapa ingin aku selalu bisa berbuat baik. Setiap saat. Setiap waktu. Tapi setan selalu ada dalam hatiku. Maka jangan heran bila aku lebih sering menjadi orang yang pelit luar biasa dan penuh perhitungan ketimbang orang yang selalu beramal. Jangan pernah berharap kau akan bisa dengan mudah meminjam sesuatu padaku. Entah uang atau barang. Karena pasti aku akan punya beribu alasan untuk tak memberinya, padahal, aku juga ingat, “ingat pesan ibu ya, beramal jangan nunggu banyak uang,” kata ibu angkatku di suatu malam saat tumben-tumbennya aku mengunjunginya setelah entah berapa lama aku tak pernah ke rumahnya.

***
"Jangan lupa aura positip ya bo, senyum dong…", pesan teman yang baru saja aku kenal tapi kami jadi begitu akrab, lewat pesan pendek yang dikirimnya di suatu pagi. Mengingatkan kembali aku. Menyegarkan kembali pikiranku, padahal malam sebelumnya telah ku habiskan berlembar-lembar tisu atas masalah yang tak pernah kubagi pada siapapun. Tidak juga pada teman yang baru saja aku kenal itu. Ia mungkin saja iseng mengirim sms sekedar keep in touch atas kedekatan kami beberapa hari lalu.

Istilah "aura positif" sendiri kami, aku dan dia, dapatkan hasil dari obrol-obrol kami pada makan malam acara perkenalan kami di cipanas beberapa waktu lalu. Semua peserta rata-rata baru kenal saat itu. Dan kau tau, karena tempat menginap peserta dibagi atas dua kelompok, laki-laki dan perempuan, segera saja terbentuk ikatan yang kuat diantara kelompok-kelompok itu. Aku sekamar dengan Emi staf YLBHI, Rani dari ICEL, dan mbak Endang dari PPSW yang baru bergabung keesokan harinya.

Emi, perempuan bertubuh kecil yang ku kira usianya masih dibawahku tapi ternyata telah memiliki anak bersekolah tingkat dasar, dan berselisih usia 3 tahun lebih tua dari aku, memiliki sikap yang matang dan sangat keibuan. Ia banyak bercerita tentang kebajikan-kebajikan hidup yang kadang kami respon dengan guyonan dan sindiran diantara kami. Kami, aku dan rani (yang juga masih aku duga berusia lebih muda dari aku), perempuan-perempuan centil dan kadang tak punya sopan santun.

Dari emi pula kami dapatkan "aura positif" itu. Ia sendiri bercerita istilah itu didapatnya dari guru ngaji anaknya saat mereka saling curhat tentang kehidupan. Masih menurut ceritanya, bila kita berbuat baik sedikit saja maka alam akan menyimpannya dan menyebarkannya pada orang-orang disekitar kita. hingga tanpa pernah kita sadari balasan kebaikan akan kita terima. bahkan mungkin lebih dari yang kita duga. sebaran yang juga diperbantukan alam inilah yang kemudian diistilahkan dengan "aura positif". Tapi bukan emi yang mengirim pesan pendek pagi itu. melainkan perempuan centil dan kadang tak punya sopan santun yang juga masih aku duga berusia lebih muda dari aku yang telah menyegarkan pikiranku pagi itu.

***
Di bagian-bagian awal karya terjemahan terbaru salah satu pengarang favoritku, Paulo Coelho, “Zahir”, yang belum sepenuhnya habis aku baca, ia sempat menyebut istilah “bank budi”. Tampaknya ini juga istilah sindiran bagi sang tokoh (karena sikapnya yang kadang berantakan) dari salah satu temannya. Akan kukutipkan beberapa kalimat untukmu. Berupa percakapan antara sang tokoh dan teman baiknya itu. (Gosh, batapa seriusnya aku hingga aku perlu menulis kembali terjemahan dari buku itu meski tak sepenuhnya kalimat bersedia kuketik untukmu. Beberapa malah mengalami pengeditan sesuai seleraku).

“Istilah itu dikenalkan pertama kali oleh seorang penulis Amerika. Bank budi adalah bank paling kuat di dunia, dan kau bisa menemukannya di setiap aspek kehidupan.”

“….Aku mulai menyimpan direkeningmu bukan simpanan uang tetapi kontak. Kukenalkan kau pada orang ini dan itu, mengatur perjanjian-perjanjian, dan kau tau kau berutang budi padaku, tapi aku tak pernah minta apapun dari mu.”

“Dan suatu hari, aku akan minta tolong padamu dan kau bisa saja mengatakan ‘Tidak’, tapi kau sadari bahwa kau berutang budi padaku. Kau lakukan apa yang ku minta. Aku terus membantumu, dan orang-orang lain melihat kau orang yang tau membalas budi, jadi mereka pun mulai menyimpan direkeningmu –selalu dalam bentuk kontak, karena dunia ini hanya terdiri atas kontak, tidak ada yang lain lagi. Mereka pun pada suatu hari akan minta bantuan padamu, dank au akan menghormati dan membantu orang-orang yang pernah membantumu, dan pada saatnya, jaringanmu akan melebar ke seluruh dunia, kau akan kenal semua orang yang pernah kau kenal, dan pengaruhmu akan tumbuh semakin besar.”

“Aku bisa saja menolak permintaanmu.”

“Tentu saja. Bank budi adalah investasi yang berisiko, sebagaimana bank-bank lain. Kau bisa menolak permintaan bantuanku, karena kau pikir aku membantumu karena kau memang wajib dibantu, karena kau yang terbaik dan semua orang harus mengakui bakatmu. Tidak apa-apa, aku akan mengucapkan terima kasih banyak dan minta tolong pada orang lain yang juga berutang budi padaku, tapi mulai saat itu, semua orang tau, tanpa perlu kuucapkan sepatah katapun, bahwa kau tak bisa dipercaya.”

“Potensimu tidak akan tumbuh maksimal, dan pasti tidak sebesar yang kau inginkan. Pada suatu titik, hidupmu mulai menurun, kau turun separuh jalan, tidak sampai ke dasar. Kau akan setengah bahagia, setengah merana, tidak frustasi tapi juga tidak terpuaskan. Kau tidak panas dan tidak dingin. Hanya suam-suam kuku. Dan seperti kata seorang pengkhotbah dalam buku sucinya: ‘makanan yang suam-suam kuku tidak menimbulkan selera’…”

Kau boleh saja setuju dan tidak (terutama pada kalimat terakhir kutipan sang pengkhotbah itu, karena tentu saja aku pun akan memilih menunggu makanan menjadi suam-suam kuku ketimbang lidahku tersiram kuah panas). Tapi tentu kau tau apa yang ingin kumaksud dalam penggalan-penggalan kalimat yang telah kutulis itu.

Bank budi, aura positif, beramal jangan menunggu sampai kau banyak uang…

(aku tak ingin menjadi pengkhotbah dengan kalimat penutup seperti ini, yang kelihatannya juga anti klimaks, aku hanya tak tau bagimana menutup tulisan ini secara klimaks…)

Ingin Memenggal Kepala Ayah

Ini judul cerpen yang pernah ditulis temanku. Meski aku tak ingat betul apa isinya dan telah dimuat di media apa. Tapi judul ini seringkali begitu pas dilekatkan pada kebencianku pada ayahku sendiri. Seperti malam itu. Saat aku begitu tak bisa menguasai diri saat aku tau kaligrafi yang telah begitu susah payahnya dibuat adik bungsuku di waktu liburannya dari pondok pesantrennya di jombang dan menghasilkan karya yang lumayan menarik dipandang mata dengan semena-menanya dipotong sesuai kemauannya. Kemarahanku semakin mengkal saat aku tau potongan itu sangat tidak asimetris. Tak mungkin disambungkan lagi karena perlu tambalan disana sini. Sangat mengurangi estetika. Padahal aku telah berniat akan memajangnya di kamar kos ku nanti.

Kau tau apa sangkalannya saat aku meradang tentang hal ini, ia dengan enaknya menjawab, sengaja dipotong karena tak pas dengan ukuran kaca jendela. Gosh, kau tau dimana ia memasang kaligrafi ini setelah sekian lama aku tak pulang? Di kaca jendela depan. Adikku yang lain malah sempet mengejek, "banyak yang ngirain bapak lagi pasang iklan lowongan pekerjaan tuh…."

Sambil menahan marah dan tangis aku sempat berkata padanya, "Pak, jangan melakukan hal-hal semaunya sendiri. Minta pertimbangan orang lain. Orang yang bikin pasti marah kalau tau karyanya dipotong seenaknya kayak gini. Hargai karya orang."

Sudah dapat diduga ia tak akan pernah menerima pendapatku. Pendapat siapapun. Dan aku lah teman bertengkarnya sejati selama ini. Itu sebabnya aku tak pernah betah lama-lama tinggal di rumah. Selalu ada masalah yang akan kami ributkan. Dan aku paling tak tahan dengan sikap dan pandangannya yang sering kali aku anggap aneh. Sangat aneh dan seringkali tak bertanggung jawab.

Kegeramanku saat itu kemali memunculkan memori lamaku saat aku baru saja memenangkan lomba antar sekolah beberapa tahun lalu. saat itu aku mendapat hadiah berupa tabungan. Aku tentu saja senang karena itu akan menjadi bekal bagi cita-citaku untuk melanjutkan kuliah. Aku ingat betul hadiah itu seperti anugerah karena aku tengah berada di tingkat akhir sekolah menengah atas dan aku sangat ingin bisa kuliah. Kau perlu tau betapa morat-maritnya kehidupan keluarga kami saat itu (yang sedikit mengalami perubahan saat ini) sehingga sekolah menjadi hal yang luar biasa buat kami. Kakakku sampai harus putus sekolah. Akulah anak pertama di keluargaku yang punya semangat begitu kuat untuk tetap bisa sekolah hingga harus berjualan koran bekas. Aku pula anak pertama yang berhasil mencecap pendidikan begitu tinggi yang tak semuanya diwariskan adik-adikku yang lain. Aku sering kali merasa rapuh mengingat hal ini. Semangatku untuk tetap bisa sekolah seringkali harus aku bayar mahal. Termasuk saat aku tau tabungan hadiah lombaku sebelumnya telah raib diambil ayahku sendiri. Untuk modal usaha katanya. Dan aku tak pernah tau usaha apa. Yang aku tau semua usahanya tak pernah ada yang sukses. Hingga rumah kami satu persatu tergadai dan kami harus berpindah tempat tinggal dari satu rumah kontrakkan ke rumah kontrakkan yang lain hingga kini. Menyisakan kesusahan pada ibuku yang harus meminjam uang ke sana kemari demi kelangsungan hidup kami. Termasuk bekal awal kuliahku yang telah raib dicuri.

Aku akan dengan mudah menunjuk siapa biang keladi kesusahan ini. Tentu saja ayahku yang menurutku tak pernah bertanggung jawab atas kelengsungan hidup keluarganya. Aku pernah menggugat pada ibuku kenapa begitu setia padanya dan melayani semua kebutuhan-kebutuhannya meski kami semua telah memiliki krisis kepercayaan padanya. Aku tak ingat betul apa jawabnya. Tapi satu hal yang mungkin patut dibanggakan dari ayahku ialah ia laki-laki yang setia. Menurut ibuku ia tak pernah kedapatan selingkuh dengan siapapun meski ia punya bakat untuk itu. Konon, kakek dari ayahku adalah "don juan" sejati. Istrinya ada dimana-mana. Ayahku termasuk salah satu anak entah dari istri yang ke berapa yang ditinggal begitu saja sampai akhirnya nenekku memutuskan untuk menikah lagi dengan orang lain. Mungkin kepahitan hidup menjadi anak tiri telah membuatnya kukuh untuk setia pada keluarga nanti.

Tapi apa yang dilakukannya kemudian? Ia mungkin saja setia, dan kami boleh bangga atas hal itu, namun aku tetap akan menilai ia kepala keluarga yang tak punya cukup tanggung jawab untuk menyejahterakan keluarganya. Ia hanya pandai memproduksi anak yang akan dilahirkan ibuku setiap dua tahun sekali dan total menghasilkan 8 anak, minus kakak keduaku yang mati saat masih bayi. Tapi seringkali tak ambil peduli pada masalah anak-anaknya. Membuat aku seringkali menggugat, hey, engkaulah penyebab aku lahir di bumi ini. Mengapa kau jadikan aku dulu?

Kebencianku pernah sampai terbawa dalam alam bawah sadarku dan aku pernah bermimpi memenggal kepalanya yang ku kira kepala seekor ayam jantan. Mimpi horror. Membuat aku ketakutan sendiri. Mimpi yang telah lama sekali. Mimpi itu terjadi jauh sebelum aku kenal temanku yang kemudian menulis judul cerpen yang persis sama dengan mimpiku dulu. Dan aku tak pernah mencerikan mimpiku kepada siapapun. Tidak juga pada ucu temanku yang cerpenis itu. Bila ia tiba-tiba mempuntai inspirasi yang sama, mudah diduga kau akan tau jawabannya, itu hanya kebetulan semata….

Aku Tidak Ingin Menikah

Jadi jangan kau tanya, kapan?

Tuesday, November 07, 2006

Speech.. Speech.. Speech...

gue selalu kesulitan untuk berbicara secara runut dan sistematis. apa yang ada di kepala selalu berbeda dengan kata yang kemudian terlontar. apa yang tampaknya mudah dan dengan begitu rapinya tersusn dalam otak gue tiba-tiba menjadi kacau-balau ketika gue berbicara. semua jadi begitu amburadul. gue jadi bicara tak keruan dan sering tersesat ditengah ucapan gue sendiri.

gue selalu kagum pada orang-orang yang mempunyai kemampuan presentasi yang baik. yang mampu berbicara dengan gaya yang enak, runut, dan sistematis. percayalah, gue selalu berusaha untuk bisa melakukannya. tapi kau tau, tak pernah berhasil. gue selalu bicara dengan cepat, tak fokus, dan gue hanya bisa menyesal diam-diam saat kesempatan buat gue berbicara selesai. "kenapa jadi begini...........?" "kenapa yang gue omong tadi begitu jauh dengan apa yang sebelumnya sudah susun dikepala?"

ah, rasanya ini berhubungan pula dengan kelemahan gue yang lain. yang selalu tak bisa fokus, lemah dalam mengingat hal yang detil, dan paling pusing kalau disuruh hitung-hitungan.

so, what's your ability, madam...?